"Perpisahan kita menyakitkan Han, Ketika cerita belum usai tapi lo uda nutup kisahnya."
~Titan
"Gue sama lo hanya perlu jeda untuk gak lagi merasakan luka tan."
~Jihan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Emmm, Bentar lagi kita kan bakal ada acara pensi buat perpisahan tuh, Kalian gak ada niatan buat nyumbang bakat apa?" Tanya Rachell.
Ketiga sahabatnya hanya diam mengabaikan sambil memainkan ponsel mereka dengan wajah tersenyum kecil setiap kali membalas pesan dan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Beginilah nasib jika berada di tengah para sahabat yang sudah memiliki seseorang yang spesial, spesies jomblo seperti Rachell tidak akan ada harganya jika berbicara.
Merasa kesal karena telah di abaikan, Rachell memilih menekan panggilan vidio grup mereka ber empat di ponselnya. Biarlah amukan yang ia terima, karena sejujurnya dia yang lebih tepat untuk marah kepada mereka.
Dan benar saja, tidak lama kemudian terdengar decakan dari ketiga sahabatnya saat secara bersamaan ponsel mereka berbunyi akibat panggilan darinya."Rachell...!! Ngapain sih pakenelfon segala? Gabut lo gak berfaedah tau gak?! Ganggu banget!!" Geram Lista.
"Ya habisnya lo bertiga gue tanya sibuk mulu sama tuh ponsel, Hargai gue dikit napa?!"
"Memangnya lo tanya apa ke kita bertiga?" Kali ini Jea ikut membuka suara dengan tenang untuk menengahi, karena ia tau jika tidak begitu perdebatan kedua sahabatnya ini akan terus berlangsung dan tidak ada habisnya.
"Gue tuh tanya kalian gak ada yang mau nyumbang bakat apa di acara pensi nanti? Yah..walaupun bobrok-bobrok gini kita berempat kan masih punya bakat nyanyi yang lumayan" Mata Rachell menelisik pada ketiga temannya, menatap satu persatu ekspresi mereka yang sangat mengecewakan.
"Gue gak, kalian aja" Kata Lista.
"Loh kenapa gitu sih? Gak asik lo Lis"
"Kalau gue ikutan entar yang ada tuh acara bakal kacau"
Tawa Rachell dan Jihan sudah terdengar keras di Halte dan jalanan. Orang-orang yang tengah berlalu lalang bahkan melihat ke arah mereka dengan tatapan seolah mengartikan bahwa kedua gadis itu sudah tidak waras karena tertawa keras di Halte pinggir jalan seperti ini. Jika sudah tertawa bersama Jihan, sudah bisa di pastikan urat malu dan rasa jaim tidak lagi di miliki keempat orang sahabat itu. Perlu kalian tau, tawa dari seorang Jihan itu sangat menular.
Dahi Lista mengerut pertanda kesal. "Lo berdua kenapa ketawa?"
Tarikan nafas untuk menghentikan tawa di lakukan oleh Rachell dan Jihan secara bersamaan. "Habisnya lo jujur banget, tau aja tuh acara bakal kacau kalau perintilan cabe kayak lo tampil di pensi. HaHaHaHa...." Tawa Rachell kembali terdengar semakin keras setelah mengucapkan kalimatnya.
"Dasar!! Cabe teriak cabe lo!!" Cibir Lista. "Lagian maksud ucapan gue tuh acara bakal kacau, karena nanti pasti cowo-cowo satu sekolah bakal terkagum-kagum sama gue, otomatis Juna bakal ngamuk dong? Lo bertiga tau sendiri kan gimana kalau dia udah marah?"