~Happy Reading~
'Tok Tok'
"Mah... Jihan izin pergi ya?"
Jihan masih terus berusaha mengetuk pintu kamar Hanin yang masih belum terbuka. Dia menghela nafas pasrah, Mamahnya sangat sulit untuk diajak berkomunikasi sekarang. Sedih rasanya melihat mamahnya terpuruk karena kasus perceraiannya, tapi Jihan fikir, jika lepas dari sang papah bisa membuat keluarganya sebahagia kemarin, kenapa tidak?
Bukan berarti ia tidak ingin kedua orang tuanya tetap bersama, tapi jika sudah tidak bisa dipertahankan. Itu hanya akan berakhir menyakiti keduanya, dan Jihan tidak suka itu.
Mungkin mamahnya belum bisa menerima kenyataan ini. Jihan tau selama ini seberat apa perjuangan Hanin untuk mempertahankan rumah tangganya. Dan Mungkin itulah yang masih menjadi penyesalan terbesar sang mamah hingga berakhir terpuruk.
"Mau kemana kamu?" Irena menepuk bahu Jihan yang bersandar didepan pintu Hanin dengan wajah ditekuk.
"Pergi Mbak. Aku mau izin sama mamah, tapi nggak ada respon" Keluh Jihan.
"Yauda biar nanti mbak yang sampein ke mamah, Memangnya mau kemana? Nggak capek baru pulang sekolah uda pergi lagi?"
"Emm it––itu, hang out bareng temen. Boleh kan?"
Melihat jawaban Jihan yang sedikit tergagap membuat Irena mengernyit tidak yakin, setelah menimbang beberapa saat akhirnya dia menganggukan kepala menyetujui.
"Yaudah, jangan pulang larut malam" Pesan Irena yang diberi anggukan cepat oleh Jihan.
Gadis itu segera berlari meninggalkan Irena, Dia takut kakaknya berubah fikiran dan tidak mengizinkannya untuk pergi.
Di anak tangga terakhir langkah Jihan terhenti, Tubuhnya mendadak kaku. Seseorang yang telah membuat kekacauan dirumahnya kemarin, kini kembali lagi dengan seorang pria muda ber jas disamping nya yang Jihan dapat kenali siapa orang itu.
Bramantyo memandang Jihan dan menelusuri putrinya dari atas hingga bawah, Jihan terlihat rapi dan seperti akan pergi. "Mau kemana kamu?"
"Pergi" Jawab Jihan pelan dan sedikit acuh.
Dalam hati Jihan sudah melafalkan segala doa agar papahnya tidak melarangnya untuk pergi. Bisa gagal semua rencananya bersama dengan Yoga.
"Nggak bisa, kamu harus tetep dirumah. Vito dateng kesini buat ketemu sama kamu, kalau kamu pergi ya percuma aja dong dia dateng kesini"
Jihan memutar bola matanya kesamping. Dia sudah bisa menebak akal bulus papahnya, memuakkan!
"Ya kalau gitu suruh balik aja, selesai kan?" Tandas Jihan kemudian berjalan melewati sang papah.
'Grep'
Sialan! Tangannya di cekal oleh sang papah, Ancaman apalagi yang akan papahnya ini lontarkan.
"Oke, papah tau kamu sulit untuk diatur sama seperti mamah mu. Jadi, kalau begitu biarkan Vito ikut pergi dengan kamu"
Mata Jihan terpejam erat. Kali ini bukan ancaman, melainkan jebakan yang semakin mempersulitnya untuk segera pergi.
Dia membalikkan badan menatap ke arah Vito lalu beralih pada Bramantyo.
"Nggak bisa pah... Aku mau kumpul sama temen temen. Apa kata mereka kalau aku bawa kak Vito ikut sama aku? Mereka juga nggak akan nyaman" Jihan harap alasannya ini bisa membuat papahnya percaya dan mempersilahkan nya untuk pergi sendiri tanpa Vito.
KAMU SEDANG MEMBACA
STORY WITH MANTAN {END}
Fiksi Penggemar"Perpisahan kita menyakitkan Han, Ketika cerita belum usai tapi lo uda nutup kisahnya." ~Titan "Gue sama lo hanya perlu jeda untuk gak lagi merasakan luka tan." ~Jihan
