Terkejut

131 12 2
                                        

part 10 Terkejut


"JANGAN!"

Aku berteriak sekeras mungkin agar suamiku segera bangun dari tidurnya. Sumpah! Aku takut setengah mati kali ini. Tapi, bagaimana caranya hantu itu tidak menggubris sama sekali teriakanku melainkan kukunya yang tajam itu telah mencengkram kuat leher Beni. Aku menatap wajah suamiku yang sudah tidak berdaya dengan matanya yang melotot menahan cekik sosok yang mengambang itu hingga darah mengucur begitu deras saking tajam kukinya mencengkram.

Setelah Beni tak bernyawa lagi, kini kedua tangan perem puan itu menjulur ke arah batang leherku. Dengan sekuat tenaga aku meronta-ronta berusaha keras melepaskan tangan yang mengerikan itu dari leherku.

Aku terbangun dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhku. Kupalingkan wajahku ke samping dan ternyata Beni masih tertidur di sebelahku.

Astaga! Ternyata ini semua cuma mimpi? Aku mengucap syukur tanpa henti lantas kuedarkan pandangan ke seluruh sisi kamar, lega karena sosok itu memang benar-benar tidak ada di kamar ini.

"Sayang! Kamu kenapa?  Kok, penuh keringat begini atau kamu habis mimpi buruk?" tanya Beni yang tiba-terbangun karena merasa aku kenapa-napa.

"Iya, Sayang. Aku mimpi buruk kamu meninggal," jawabku lirih seolah ada tekanan besar dalam batin ini.

"Udah, udah. Tapi, aku kan, di sini baik-baik aja bareng kamu, Dinda." Beni langsung mendekat dan memelukku. Sungguh, aku sangat terkejut dan takut jika semua ini nyata. Tuhan, lindungi kami.

"Sayang, masih malam banget ini. Yuk kita tidur lagi dan ingat, jangan pernah lepasin tangan kamu dari aku atau nanti kamu mimpi buruk lagi," perintah Beni mengingatkan aku yang sedang panik dan nyaris menggigil.

Akhirnya kutarik selimut dengan sebelah tanganku sementara tangan lain memegang erat tangan suamiku.
Aku berpikir arti dari mimpi itu mungkin harus lebih perhatian pada Beni dan jangan membuat ia merasa terabaikan seperti katanya sendiri.

Kualihkan pikiran burukku dengan memejam mata hingga esok pagi menyambut. Dan kami pun akhirnya larut dalam peraduan mimpi indah disertai gelap malam yang semakin nyata.

Aku merasa sangat malas untuk sekedar membuka mata ini padahal sinar surya perlahan menerobos melalui fentilasi udara di dalam kamarku. Aku baru sadar, ternyata awal pagi menyapa dan seketika pikiran ini tertuju pada si kembar. Segera kusingkap selimut dan kulirik ke samping terlihat suamiku tidak di sini lagi. Samar aku mendengar suara air yang diguyur, rupanya Beni sedang berada di kamar mandi.

Tanpa menghiraukannya, langkahku dengan cepat keluar dari pintu dan menuju ke arah kamar kedua putriku. Saat membuka pintu, terlihat dua malaikat kecil ku yang masih terlelap. Aku berdiri di sisi ranjang sesaat mengamati pemandangan yang indah dan selalu kurindukan. Selimut hangat masih membungkus tubuh mungil Andin dan juga Andita. Ranjang ukuran besar ini memang pas untuk mereka berdua. Mataku terpaku pada dua wajah yang polos seolah tanpa titik dosa darinya. Rambutnya yang terurai menutupi sebagian area wajahnya terurai indah.
Kupandangi kedua hidung mungil mereka, nyaris menyerupai hidup papanya.

Kuusap lembut pucuk kepala mereka secara bergantian lalu tak lupa dua kecupan mendarat di sana. Terlihat Andita bergerak dan menggeleng dengan matanya yang baru saja terbuka lebar serta seulas senyum terukir jelas di bibir mungilnya. Pun aku sebagai sang mama ikut membalas senyumnya dengan hangat.
“Sayang, ayo bangun! Kayaknya Mama nggak perlu lagi ngasih tahu kalian kalau hari ini hari apa,” ucapku antusias menatap bola mata Andita yang tersenyum padaku.
“Iya, Ma. Andita tahu dong,”jawab gadis mungil itu dengan aura bahagia yang terpancar.
“Kak Andin, Kak Andin ... Bangun, hari ini giliran kita ditemani Mama Papa jalan-jalan, lho,” Andita lalu mengguncang sisi bahu kakaknya dengan antusias.

“Iya ... Andinta—Adikku Sayang. Kakak udah dari tadi bangun, tahu?” goda Andin mencolek pinggang Adiknya yang kegelian.

Duh, senangnya hati ini melihat mereka bisa tertawa renyah begitu. Dua buah hati yang tak bisa digantikan dengan apapun di dunia ini bahwa nyawaku rela menghilang demi kebahagiaan dua putri kembar ku. Karena terharu tanpa kusadari tetes bening jatuh dari pelupuk mataku lalu senyum bahagia mengembang dari bibirku yang terasa sedikit bergetar. Aku bersyukur karena untuk kami dihadiahi dua buah cinta yang begitu manis.

Kupeluk kedua putriku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dua senyuman yang selalu membuat jiwa ini penuh ketenangan juga kekuatan. Rasanya baru kemarin aku melahirkan akan tetapi waktu begitu cepat berjalan hingga mereka sudah sebesar ini. Aku dan suamiku sungguh beruntung memiliki mereka yang tersayang.

Keluar kamar, kami beranjak ke ruangan depan. Sembari aku menyiapkan sarapan, Andin dan Andita menunggu di ruang TV dan mungkin sebentar lagi Papanya juga ikut bergabung bermain bersama mereka. Bagaimana tidak, kerinduan pada sang papa sungguh tak bisa dibendung oleh si kembar ku.

Pagi ini, aku mencoba mengolah beberapa bahan makanan yang kubawa dari rumah sembelum berpindah ke sini. Mungkin aku akan memasak yang praktis saja yaitu nasi goreng udang crispy. Berhubung peralatan dapur belum tersusun rapi jadi, menu itu cocok dengan situasi saat ini.

Dengan gerakan cepat namun santai aku melakukannya, mulai dari membersihkan udang dalam kulkas serta daun bawang dan cabai rawit serta bawang merah siap digoreng untuk ditaburi di atas nasi gorengnya. Kubaluri udang berukuran sedang dengan tepung bubu praktis dan kucelupkan ke dalam minyak panas satu persatu hingga warnanya kuning kecokelatan lalu kuangkat ke piring sedang berwarna putih.

Selanjutnya kuaduk beberapa kali nasi serta bumbunya yang dimasak di api dengan suhu sedang agar tidak hangus. Tak lama menunggu, akhirnya kedua menu telah siap kuhidangkan. Terlihat Beni dan dua putri ku tertawa bersama dengan penuh semangat. Beni pun sesekali menggelitik mereka hingga terpingkal-pingkal.

Kadang heran ketika kulihat sikap Beni pada si kembar bisa selembut itu. Namun, di sisi lain bisa-bisanya suamiku berprilaku penuh emosi dan tak peduli dengan perasaan rapuhnya putri kecil kami. Tapi, aku selalu berusaha memaklumi pribadinya yang berubah-ubah itu. Bahkan hingga detik ini ia tetap akan menjadi lelakiku yang terhebat.

Bahasa cinta yang ia berikan dapat meluluhkan hati wanita yang bernama Adinda. Iya, aku jujur sekali bukan?

Astaga! Aku harus segera memanggil mereka sebelum makanannya dingin. Itulah kebiasaanku jikalau mengingat suami yang penuh kasih memang lupa semuanya.

“Sayang, sini makam dulu. Udah siap semua nih, di meja makan!” Aku berseru yang sudah duluan duduk di salah satu kursi di dekat sisi meja.

“Oke, Mama ... Kami segera ke sana!” jawab mereka bertiga serempak bagai paduan suara yang siap beraksi saja. Tapi, aku senang melihatnya.

Wow! Mereka sangat lahap makannya. Sesekali suamiku menyuapi Andin juga Andita. Tiba-tiba Andita berceletuk, “Nasi goreng buatan Mama memang selalu the best, deh,”

Aku tersenyum bahagia ketika melihat kekompakan mereka. Rasanya tak ingin melewatkan waktu yang indah ini. Aku menatap wajah Beni dengan saksama, terdapat gurat kebahagiaan di sana dan matanya juga meneduhkan hati ini.

“Andin, Andita! Weekend ini kita ke taman wahana yang banyak permainan aja, gimana?” tanya Beni yang tiba-tiba buatku kaget mendengarnya.

“Asik ... Boleh, Pa. Mama ikut juga kan?” jawab Keduanya serempak dan antusias.

“Jadi, kalian mau kalau Mama gak ikut?” balas Beni menggoda. Andin dan Andita.

“Ngga dong, Pa. Kami mau Mama ikut juga,” jawan Andin yang memperlihatkan sederetan gigi putihnya yang sebagian agak cokelat.

Setelah maka, akhirnya kami berangkat naik mobil. Saat kami melewati jalan yang kebetulan dekat dengan halaman samping rumah, terlihat oleh mataku aura gelap pada pohon besar yang tinggi menjulang itu.

Astaga! Barusan aku melihat apa? Kenapa tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali.


Bersambung....

Komentar dong tanggapan kalian pada cerita baru aku ini.

Jangan lupa follow dan vote ya. Terima kasih

Mata Batin Adinda [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang