Lugi baru saja mendapat kabar kalau Vanka sudah melahirkan, tentunya Lugi sangat senang dan memberitahu langsung pada Rena. Mengajaknya untuk membeli hadiah dan menjenguk kerumah sakit.
Hari ini Rena tidak pergi kemana-mana karena merasa sedikit tidak enak badan. Sepulang kantor Lugi langsung menjemput Rena dan mengajaknya kerumah sakit sekalian untuk menjenguk Vanka.
"Udah beli hadiahnya sayang?" Tanya Rena saat mereka sudah diperjalanan
"Belum, nanti aja kalau udah nemu yang pas, menurutmu kita kasih kado apa ya?"
"Terserah kamu sayang tapi kalau usul aku sih kasih kadonya yang bisa awet dipakai terus biar ada kenang-kenangannya"
"Uumm iya benar juga ya, nanti aku pikirin deh. Kamu masih pusing sayang?"
"Udah engga kok, mendadak sembuh kalau ada dekat kamu"
"Mau sekalian check aja? Atau aku telpon kak Ana gimana?"
"Ga usah dulu aku udah baikan kok"
Lugi dan Rena sudah sampai dirumah sakit dan langsung menuju kamar Vanka. Kamarnya ternyata ramai ada orang tua Vanka dan Dion juga ada saudaranya yang datang menjenguk. Lugi yang sudah kenal dekat tidak merasa canggung malah disambut baik oleh orang tua Vanka.
"Selamat ya bapak pengacara kondang akhirnya resmi jadi bapak" ucap Lugi merangkul Dion
"Thanks ya my bro"
"Vanka Dion selamat ya" kata Rena
"Thanks juga Ren" jawab Dion sumringah
"Gue boleh gendong ga Van?" Pinta Lugi
"Gendong siapa? Gue?" Vanka malah menimpali dengan candaan sontak seisi ruangan tertawa
"Iya gue gendong trus gue lempar kejurang puas lo" balas Lugi
"Hahaha abisnya lo nanya, ya boleh dong Gi nih" kata Vanka mengulurkan tangannya
"Hai anak manis yang sabar ya sama mama Vanka yang nyebelin itu" goda Lugi
"Yaaahh profokator lo Gi" omel Vanka
Rena hanya mengikuti alur candaan mereka berdua dan ikut geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sahabat itu. Dalam hatinya Rena juga berdoa agar harapannya segera terwujud, tapi sampai sekarang belum muncul tanda-tanda jadi Rena kembali bersabar.
Setelah selesai dan jam besuk berakhir Lugi dan Rena pamit pulang dan langsung kembali kerumah.
Beberapa hari kemudian Rena merasa mual dan pusing, dan berinisiatif untuk membeli testpack siapa tau dugaannya benar belum lagi sudah telat datang bulan. Rena sengaja tidak memberitahu Lugi karena takut nanti hasilnya mengecewakan.
"Sayang sudah makan siang belum?" Tanya Rena lewat sambungan telepon
"Baru selesai meeting, aku kepengen makan nasi goreng nih pakai telor setengah matang" jawab Lugi dengan nada manja
"Ya udah tunggu ya aku antar kekantor kamu"
"Aku aja yang kesana, kerjaan sudah beres kok. Tunggu ya sayang"
Lugi melajukan mobilnya menuju restoran milik Rena dengan kecepatan sedang, jalanan ibu kota siang ini cukup padat bahkan Lugi sempat berdecak kesal karena terjebak macet dibeberapa titik. Selain karena sangat ingin berjumpa dengan sang istri tentunya perutnya sudah meronta-ronta untuk minta diisi makanan. Lugi menelpon Rena memberi kabar bahwa posisinya sudah dekat dan meminta makanannya agar sudah jadi saat dia datang nanti.
"Sayang aku kelaparan perutku jadi sedikit sakit" kata Lugi yang langsung masuk kedalam ruangan Rena
"Minum air dulu sedikit baru habiskan makananmu"
