"Antara sedih dan senang. Berliku dan bergelimang dalam hidup. Semua seimbang dan tak perlu untuk bimbang."
ㅡ Kiara Austiana
Kiara Austiana, gadis remaja yang gila akan tarian. Balet adalah tujuan Kiara menempuh impian dengan tarian indah.
Untuk K...
Meninggalkan rasa percaya diri dan wibawa. Tetapi, rasa takut dan malu yang terus kita bawa. Yang sebenarnya itu merendahkan semangat jiwa. ㅡ TAA_O4 ㅡ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di dalam kelas Kiara terduduk lesu dengan kepala yang tertunduk, melihat ke bawah. Ucapan Alben terus berputar di pikirannya sampai terngiang-ngiang juga di telinga.
Kiara ingin menangis saja rasanya, mengeluarkan semua rasa sedih yang tertahan di dalam hati. Sudah sering Alben mengejeknya, mengejek impian Kiara yang terlalu tinggi sampai menyinggung postur tinggi badan Kiara yang pendek. Tetapi, baru kali ini Kiara terpikiran akan ucapan lelaki tersebut.
Sebegitu jeleknya kah diri nya? Sebegitu tidak pantas nya kah diri nya?
Gadis itu meraih ponsel yang berada di kantung rok nya, lalu ia bercermin di atas layar ponsel tersebut. Hanya ada layar kosong nan hitam, di sana Kiara bisa melihat pantulan diri nya sendiri. Menampilkan sosok gadis remaja yang sebelumnya tidak memiliki minat apa-apa, gadis remaja yang menjalankan hidup nya dengan belajar, belajar dan belajar.
Sejak Kiara kelas 9 SMP, ia mulai menyukai Balet dan seni tari. Tapi, ia pun sadar, ia tidak memiliki keterampilan apa-apa di bidang ini. Telak, kembali Kiara menerima kenyataan kalau impian nya sangat bertolak belakang dengan kemampuan nya.
Kiara memejamkan mata, perlahan air mata pun menetes dari pelupuk mata nya.
"Ra ..." Alena dan Zila yang baru saja masuk ke dalam kelas, langsung melihat seorang Kiara yang terduduk diam sambil menangis di tempat duduk nya.
"Enggak usah nangis, Ra. Kalau Alben tau lo nangis karena ucapan dia, yang ada dia malah seneng dan tambah sering ngejek lo lagi," ucap Zila. Gadis itu mengusap pundak Kiara, mencoba menguatkan nya.
"Bener kata, Zila," balas Alena. "Eh, tumben lo ngomong bener, La? Biasa nya juga suka ngelantur." Imbuh nya.
"Kurang ajar lo ye! Gini-gini gue juga jago kali untuk ngasih masukan dan semangat." Protes Zila. Setelah marah-marah gadis itu tiba-tiba saja tersenyum-senyum sendiri.
"Tuh 'kan enggak waras lo, baru aja tadi gue puji, sekarang udah balik lagi gila nya," ujar Alena.
Mendengar ucapan Alena justru membuat Zila tambah tersenyum-senyum sendiri, lebih tepat nya senyum yang menyebalkan.
"Kenapa sih lo?" Tanya Kiara penasaran.
"Sumpah gue seneng banget! OMG! Baru aja tadi pagi gue batal nontonin aksi Seno di lapangan, tapi barusan aja dia nyamperin gue dong?!" Ucap Zila histeris. Astaga, tak tahu saja dia jika Seno tadi menghampiri nya karena memang kelas nya berada di sana, bukan karena berniat menghampiri Zila.
"Pede!!" Seru Kiara dan Alena bebarengan.
Sejenak Kiara melupakan segala kesedihannya, karena kehadiran kedua sahabat nya itu. Entah nanti sampai rumah, mungkin Kiara akan kembali menangis di atas kasur miliknya.