"Antara sedih dan senang. Berliku dan bergelimang dalam hidup. Semua seimbang dan tak perlu untuk bimbang."
ㅡ Kiara Austiana
Kiara Austiana, gadis remaja yang gila akan tarian. Balet adalah tujuan Kiara menempuh impian dengan tarian indah.
Untuk K...
Mimpi, cita-cita, dan usaha. Rupa nya sama indahnya dengan sang surya. Memberikan kesan indah menawan yang tiada dua nya. ㅡ TAA_15 ㅡ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kiara berjalan dengan tubuh yang lemas dan mimik wajah yang lesu. Seperti biasa, kini gadis itu tengah berjalan menuju rumah nya selepas turun dari angkutan umum. Kepala nya tertunduk, menatap aspal hitam yang ia tapaki.
Kiara membuang napas nya kesal, sesekali ia mengehentak-hentakan kaki nya.
"Kenapa sih, giliran gue udah siap dan mau untuk latihan, tapi malah enggak ada yang bisa nampung gue," monolog nya.
Untuk gabung ke dalam club basket yang tempat nya mudah ia jangkau malah tidak bisa. Kiara tidak tahu harus mencari kemana tempat club basket lagi selain di Gor Olahraga tadi.
Karena terlalu banyak mengeluh, tak terasa sekarang ia telah sampai di rumah nya.
"Assalamualaikum, Bunda," panggil Kiara. Gadis itu membuka sepatu sekolah, dan menaruh nya di rak sepatu yang tersedia dibagian depan rumah nya.
Kiara langsung masuk ke dalam rumah nya. Tapi, keadaan rumah sangat sepi, ruang tamu maupun ruang keluarga kosong, tidak ada Kirana. Sementara Kaisar? Laki-laki itu pasti sedang berada dikampus nya. Dan untuk Austin ㅡsang Ayah pasti masih berada dikantor tempat ia bekerja.
Kiara beranjak menuju dapur, siapa tahu saja sang Bunda ternyata sedang memasak.
Dan, benar saja dugaannya Kinara sedang memasang sesuatu di sana.
"Bunda," panggil Kiara. Ia berjalan mendekati Kinara.
"Iya, Ki, sini deh, Bunda lagi nyoba buat kue brownies," ajak Kirana.
"Sebentar ya, Bunda. Ki, mau taruh tas dikamar dulu." Kiara langsung pergi keluar dari dapur dan naik ke lantai dua, memasuki kamarnya.
Setelah itu, ia meletakan tas nya di atas tempat tidur. Dan kembali ke dapur untuk membantu Kirana.
"Tumben buatnya banyak banget, Bun," tanya Kiara. Gadis itu memilih untuk mencuci tangan nya dahulu di wastafel lalu ikut bergabung dengan Kirana.
"Iya, sengaja buatnya banyak, mau kasih Tante Lova juga. Nanti kamu yang antar ya, Ki," pinta Kirana.
Kirana juga kenal dengan Lova. Ya, bagaimana tidak, mereka pernah satu kelas saat SMA dulu. Kinara dan Lova juga berteman dengan baik sampai saat ini. Apalagi dengan bertemu nya Kirana dan Lova di acara besar dua tahun yang lalu, dimana saat itu Kiara ikut dengan Kirana menonton pertunjukan Lova. Karena itu hubungan silahturahmi semakin membaik dan rutin bertemu atau sekedap saling menyapa sampai sekarang.
"Oke deh, Bun, nanti Ki pergi pakai sepeda aja," ujar Kiara.
Kirana menganggukan kepalanya. "Oh ya, tumben kamu pulang telat, habis dari mana aja?"