[ 18. Hari Pertama ]

80 22 17
                                        

18. Hari Pertama.

Belajar itu bukan suatu keharusan, tetapi sebuah pilihan untuk jalan mu di masa depan.
ㅡ TAA_18 ㅡ

Bunyi kencang dari ketukan pintu kamar, berhasil membuat Kiara terbangun dari lelap nya tidur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bunyi kencang dari ketukan pintu kamar, berhasil membuat Kiara terbangun dari lelap nya tidur. Gadis itu membuka mata nya perlahan, dan beranjak membukakan pintu kamar.

"Kamu baru bangun? Astaga, Ki, ini udah jam berapa? Alarm kamu mati, ya? Cepat sana mandi, hari ini kamu 'kan sekolah!" omel Kirana.

Kirana kaget, biasa nya jam segini Kiara sudah duduk manis dengan seragam rapi nya di meja makan. Tapi sekarang, anak gadis satu-satu nya yang ia miliki itu malah baru bangun tidur.

"Iya-iya," balas Kiara singkat. Ia menutup pintu kamar nya, lalu bergegas masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.

Kurang dari setengah jam Kiara sudah siap dengan seragam nya. Kini ia tengah mematut diri di depan lemari pakaian. Sebenarnya, bukan tanpa alasan Kiara mematikan jam alarm yang biasa ia nyalakan itu. Ia hanya malas bangun pagi, dan mengingat jika hari ini adalah hari pertama nya masuk Ekskul basket.

"Ish, gue harus bawa baju apa dong ini?" Kiara bingung harus membawa baju cadangan apa untuk hari ini.

Semalam, Rio mengirimi nya pesan yang berisikan, jika Alben meminta Rio untuk memberi tahu Kiara agar hari ini Kiara membawa baju ganti untuk Ekskul basket.

Jadi lah Kiara repot pagi-pagi seperti ini. Lihat saja, di hadapan nya kini sudah banyak baju dan celana yang tergeletak. Kiara bingung harus bawa yang mana. Setelah setengah jam berpikir, akhirnya Kiara memutuskan untuk membawa satu celana training  berwarna hitam dan baju kaus lengan pendek berwarna hitam pula.

Setelah melipat baju dan celana itu, Kiara langsung memasukan nya ke dalam tas. Selepas itu, ia langsung beranjak pergi ke bawah untuk sarapan. Di sana sudah ada Kaisar, Austin, dan juga Kirana.

"Tumben kamu lama turun nya ," ucap Austin.

"Iya, tadi telat bangun, Yah. Sampai-sampai Bunda nyamperin ke kamar, Ki, dulu," tutur Kiara.

"Ya sudah, cepat sarapan. Setelah itu kamu berangkat sama Kaisar," balas Austin.

Kiara menganggukan kepala, dan melanjutkan sarapan nya itu.

[ TE AMO, ALBEN! ]

Kiara beranjak turun dari motor, dan melepas helm nya. "Nanti, Ki, pulang sendiri aja, Bang."

"Oke. Hati-hati, ya." Kaisar menerima uluran helm yang di berikan Kiara. Kaisar pun langsung melajukan motor nya menuju tempat ia kuliah.

TE AMO, ALBEN! [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang