"Antara sedih dan senang. Berliku dan bergelimang dalam hidup. Semua seimbang dan tak perlu untuk bimbang."
ㅡ Kiara Austiana
Kiara Austiana, gadis remaja yang gila akan tarian. Balet adalah tujuan Kiara menempuh impian dengan tarian indah.
Untuk K...
Mengapa terus melihat ke belakang? Bukan kah itu salah satu alasan kamu merasa terkekang? ㅡ TAA_13 ㅡ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kiara benar-benar menyerah, baru saja ia berlari sebanyak dua putaran. Tapi, lihat keadaan nya sekarang, dada nya terus naik turun, napas nya masih tersendat-sendat. Akhirnya Kiara memutuskan untuk duduk dipinggir lapangan.
Kedua bola mata nya terus menatap Alena dan Azila serta siwi lainnya yang berlari memutari lapangan dengan wajah yang gembira.
Lagi dan lagi, kenapa ia tidak bisa seperti mereka? Kiara membuang napas nya kesal. Ya, ia sangat kesal. Kesal terhadap diri nya sendiri. Jika semua orang bisa, lalu kenapa hanya diri nya yang tidak bisa?
Orang yang belum kenal Kiara lebih dekat pasti akan beranggapan jika Kiara adalah gadis yang sangat beruntung. Gadis yang memiliki otak cerdas dan bisa masuk ke dalam kelas unggulan, gadis yang memiliki teman yang ramah, baik, serta supel, dan juga ... gadis yang memiliki keluarga harmonis.
Bukan nya Kiara tak bersyukur karena dikelilingi orang yang sayang kepada diri nya. Hanya saja ia merasa diri nya lah yang paling tidak pantas dalam ruang lingkup serba 'hebat' seperti itu.
Dalam kebimbangan nya itu, Kiara terkaget karena ada seseorang yang menepuk pundak nya.
"Bangun. Udah ada Pak Anton," ucap Alben.
Ya, seseorang itu adalah Alben. Dengan segera Kiara menghampiri segerombolan anak murid kelas nya. Sesampainya, Kiara langsung bergabung dengan Alena dan Azila.
"Kok lo pada enggak manggil gue sih," ketus Kiara.
"Lagian lo kemana aja? Perasaan tadi gue liat lo dibarisan, tapi setelah itu gue enggak lihat lagi," balas Alena.
Mereka dipinta untuk duduk berkelompok. Satu kelompok berisi tiga anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Jelas Kiara, Alena dan Azila berada di kelompok yang sama. Bukan hanya karena jumlah mereka pas, tapi juga karena memang mereka sudah sedekat itu. Jadi, apapun bentuk kegiatan disekolah, rasa nya ingin terus bersama-sama saja.
"Baik. Kalau sudah terbentuk kelompok nya, masing-masing dari setiap ketua kelompok tulis nama lengkap anggota nya dan beri ke saya. Lalu, kasih ke saya. Saya berikan waktu lima belas menit dari sekarang," perintah Pak Anton.
Setiap kelompok dari kelas XI IPS 1 dan XI IPA 1 pun sibuk menulis nama anggota nya.
"Siapa yang jadi ketua kelompok nih?" tanya Alena.
"Lo aja Rio, 'kan lo juga ketua kelas, jadi pasti Pak Anton paling hapal sama lo," usul Kiara.
Rio yang kebetulan juga berada di kelompok yang sama dengan Kiara memilih menolak.
"Enggak ah, karena gue udah jadi ketua kelas, seharus nya untuk kelompok ini jangan gue lagi ketua nya. Lama-lama nih wajah gue keliatan tua, dah," ucap Rio jenaka.
"Lo aja lah, Ki," cetus Dewa yang berada di kelompok itu.
"Ih, masa gue? Kan gue cewek, seharusnya cowok dong yang jadi ketua," tolak Kiara.
"Ya elah, emang kenapa kalo cewek yang jadi ketua nya? Pak Anton juga enggak nentuin siapa ketua perkelompok." Kini Bian ikut masuk ke dalam pembicaraan.
Azila yang sudah pusing dengan perdebatan karena memilih ketua kelompok. Akhirnya tanpa berpikir panjang, Azila langsung menulis nama ketua serta nama anggota kelompok nya di kertas lembar. Lalu gadis itu langsung memberikan nya kepada Pak Anton.
"Pak, ini kertas kelompok saya. Sebenarnya ketua nya itu Kiara, tapi dia mager berdiri katanya," ucap Azila seenak nya.
Sehabis itu Azila kembali pada kelompok nya.
"Heh! lo nulis nama siapa untuk jadi ketua kelompok dikertas itu?" tanya Kiara dengan menatap tajam Azila, seakan-akan ingin memakan seorang Azila.
"Nulis nama seseorang yang bernama Kiara Austiana," ucap Azila santai.
Kiara yang hendak menjambak rambut perempuan itu, mengurungkan niat nya karena sadar tengah berada di lapangan. Jika saja ia sedang berada di kelas atau tempat yang lebih privasi, ia benar-benar akan menjambak rambut perempuan itu.
"Udah lah, Ki, enggak ada salah nya juga jadi ketua. Toh, ini cuma kelompok Olahraga biasa aja, bukan kelompok untuk suatu Olimpiade besar," terang Alena.
"Oke! Karena waktu sudah habis, dan semua kelompok sudah mengumpulkan lembar kertas, saya mulai saja pembelajaran hari ini," ucap Pak Anton.
"Semuanya tolong berdiri! Dan masing-masing ketua kelompok harap ambil satu bola basket di depan," titah Pak Anton.
Ada dua belas ketua kelompok yang maju. Sementara hanya ada sepuluh bola basket yang tersedia di depan sana. Berarti, ada dua kelompok yang tidak bisa mendapatkan bola. Sayang nya, diantara dua kelompok itu, kelompok Kiara lah yang tidak mendapatkan bola.
"Pak, saya enggak kedapetan bola," ucap Alben dan Kiara bersamaan.
"Iya kah? Aduh ... coba kalian ambil bola basket lagi di gudang sana," ucap Pak Anton.
Kiara menoleh ke belakang, menatap teman-teman satu kelompok nya. "Rio! Lo aja sana yang ambil bola nya digudang."
"Tidak boleh. Kamu kan sebagai ketua kelompok disini, Kiara. Jadi, kamu harus tanggung jawab, dan ambil bola nya di gudang," ucap Pak Anton. "Sama Alben juga."
Kiara mengangguk patuh pada Pak Anton. Sementara Alena dan Azila tengah tertawa bahagia di tempat, mereka senang dan juga terheran-heran oleh takdir, seorang Kiara dan Alben yang biasa nya selalu berantem dan adu argumen, kini malah harus berbagi bola bersama.
Kiara menatap kedua sahabat nya itu dengan tatapan membunuh. Tidak tahu saja mereka, jika didalam hati Kiara sudah mengumpat sangking kesal nya.
Mau tidak mau, Kiara ikut berjalan menuju gudang dengan Alben. Untung saja jarak dari lapangan ke gudang tidak jauh. Hanya melewati beberapa kelas, lalu toilet, dan dibelakang toilet sudah ada gudang yang berisikan alat-alat keperluan sekolah lainnya.
Gudang disini sangat tertata rapi, layaknya ruangan khusus. Di gudang terdapat speaker senam, beragam macam bola, dan barang-barang pelajaran Olahraga serta pelajaran lainnya.
Kiara melihat hanya ada satu bola basket disana, dengan segera ia berlari dan mengambil nya. Ia takut jika bola satu-satu nya ini akan dimiliki oleh kelompok Alben. Bagaimana pun juga ia adalah ketua kelompok, nilai anggota nya menjadi salah satu tanggung jawab nya juga.
"Cepet banget. Enggak bakal gue ambil juga kali," ucap Alben.
"Lah, terus bola untuk kelompok lo gimana?" tanya Kiara.
"Gampang. Ya udah, ayo balik ke lapangan."
"Kalo lo kesini tapi enggak untuk ambil apa-apa, terus untuk apa lo ikut gue kesini?"
"Enggak apa-apa. Mau nganterin lo aja."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.