Nungguin yaaaaaa????
"Ikut gue," Maya menjatuhkan plastik dan tusuk ciloknya sembarang saat ada yang menarik tangannya lalu menyeretnya menjauh dari keberadaan gerobak cilok, Feni dan Luna.
"Aduh siapa sih! Sakit anjenggg!" pekik Maya sembari memukul-mukul tangan cowok yang menariknya.
Cowok itu menghempaskan tangan Maya dengan kasar. Maya mengelus-ngelus tangannya. Meringis.
"Loh, Kak Bimo?" tanya Maya saat mendongak keatas.
Terpatri rahang tegas cowok itu. Mungkin sedang menahan amarah atau semacamnya, Maya juga ngga tau. Kalau iya, memang marah karena apa?
Bimo membawa gadis itu kedekat taman fakultas sastra. Sepi disana. Hanya ada mereka berdua.
"Kenapa Kak?" tanya Maya.
Bimo menghela nafasnya. "Lo lagi deket sama siapa?"
Maya mengerutkan alisnya. Ga ada angin, ga ada hujan tiba-tiba nanya gitu. Kan Maya jadi kaget. Biasanya juga dia bodo amat sama kehadiran Maya.
"Tinggal jawab apa susahnya sih?" ujar Bimo kembali. Seolah menuntut jawaban dari gadis itu.
Maya terdiam. Lo ga tau aja gue cuman pengen deket sama lo Kak..
Cowok itu tersenyum sinis. "Lagi deket sama Kevin anak Sasing?"
Bimo berdecih. "Ga pernah berubah. Lo deket sama semua cowok hahaha. Murahan banget."
"Hah?" Maya melongo.
Bimo meninggalkan cewek itu. Amarahnya memuncak saat melihat cewek itu berduaan dengan cowok yang sering anak cewek kampusnya bicarakan.
Baru saja hari itu Bimo akan mengutarakan dan menceritakan semuanya saat dirinya dengan Maya berjanjian dicafe depan kampus. Tapi nyatanya saat pertama masuk matanya menangkap kehadiran Maya dengan cowok itu.
***
"Woy, temen lo ngapa tuh?" Hendri menepuk bahu Tio yang lagi ngupil pake jari telunjuknya. "Bangsad!" umpat Hendri yang ngeliat Tio meperin jari telunjuknya ke kemejanya.
"Jijik anjing Yo! Kasian cewek gue entar kalo nemu upil dikemeja gue pas main." lirik Hendri.
"Aww main kuda-kudaan yaa? Dedek ikutan dongss.." cengir Tio. Lalu menyeruput es jeruk yang dikasih Bundanya Bimo.
"Berisik lo semua!" ujar Bimo yang dari tadi tak bergeming. Rambutnya acak-acakan, telanjang dada doang dan cuman pake celana jeans selutut, sambil melukin gitarnya.
"Kenapa lu brow?" tanya Hendri.
"Galau lah biasa." balas Arka.
Yang ngga ada disana cuman Riyan doang. Kasian katanya Maya kontrakan sendirian doang. Jadi malem ini dia ngalah ga keluar. Padahal Maya ngga nyuruh kakaknya ini buat nemenin.
"Sini-sini cerita sama dedek," Tio mengayunkan tangannya agar sahabatnya itu menghampiri.
"Cerita kalo lo siap, ga usah kalo lo belum siap." ujar Arka mematikan playstationnya.
Ketiganya nyamperin Bimo. Duduk gak jauh dari cowok yang tengah merokok itu. "Gue ngeliat dia lagi beduaan sama Kevin." ujarnya sembari mengepulkan asap rokoknya.
"Kevin sapa nih?" tanya Hendri.
"Bentar, dia siapa woy?" tanya Tio.
Bimo berdecak. "Maya."
"Maya Cindy atau Maya Maya?" Arka menggeplak dahi Tio. "KOK DEDEK DIPUKUL SIHH?? SAKIT TAUUU..!!"
"Aaaa.. Henhen.. Alka jahaddd..!!" Adu Tio ke Hendri. Hendri melayangkan satu sentilan ditelinga temennya itu untuk balasan. "Jijik bego!"
