40.

1.4K 230 67
                                        

Cinta tak harus memilik. Tapi apa salahnya kalo memperjuangkan? Walau berakhir pilu sedikitpun, yang penting hati kita sudah lega dan tanpa adanya pendam-memendam.

• ~ •

"Untuk merayakan teman kita yang baru masuk kuliah lagi saat setelah sekian abad mengurung diri dirumah sakit ini, mending kita cheers dulu lah skuy!" Tio mengangkat gelas yang berisi minuman ekstra jossnya ke udara. Menyorakan semangat untuk sahabatnya, membuat seluruh yang di kantin menatap kelima lelaki tampan itu.

Lalu keempat sahabatnya itu menanggapi dengan uluran gelas dan menubrukannya ke gelas Tio dengan berisikan air minum yang berbagai warna.

Hari ini untuk yang pertama kalinya Bimo masuk kuliah kembali. Rasa senangnya menjalar pada tubuhnya yang baru saja sembuh sehabis kecelakaan itu. Akhirnya hari ini juga Bimo bisa menghirup udara segar kembali. Tak sumpek dengan bau rumah sakit lagi. Bahkan didepan gedung fakultasnya tadi ada rangkaian bunga untuk menyambut mahasiswa berprestasi ini.

Senyum Bimo tak henti terpancar ketika semua teman sejurusannya menyapa. Seakan Bimo kembali hidup setelah sekian lama seperti mayit.

"Dimakan cuy, keburu adem itu siomay favorit lo." ujar Riyan, menyuruh Bimo untuk segera memakannya.

"Hendri, kita jadi kan pulang bareng nanti?" ujar seorang cewek dengan gaya glamour itu memeluk leher cowok yang menggunakan jaket kulit hitam dan celana jeans senada serta sepatu vans hitam putih ini yang sedang menyantap bakso sembari membenarkan jambulnya.

"Iya sayang, kita pulang bareng kok." Hendri mengambil tangan kanan cewek itu yang tadi berada dilehernya lalu mengecupnya.

Tio sih udah enek aja ngeliat sahabatnya yang selalu berurusan dengan para cewek-cewek bohay ini. Udah terlalu sering jadi nyamuk diantara Hendri dan para pacarnya. "Peluk aja peluk terus, guenya kapan ada yang meluk.." ngenes Tio.

"Cemburu mah bilang kali Yo!" ujar Riyan memukul meja dengan botol akua kosong membuat semuanya terkekeh kecuali Hendri dan Tio. "NAJISS!" ujar mereka berdua barengan.

"Wah udah kompak aja. Jangan-jangan kalian jo...."

"Jompo! Tio sama Hendri kan udah jompo dari lahir hahaha.." timpal Bimo. Akhirnya ada suara juga..

"Tai lu Bim!" delik Tio. "Gue kalo mahoan juga pilih-pilih keleus, masa mau sama seme yang jamet kaya gini sihh!" ujarnya bergidik.

"Lah gue juga gak mau sama uke kaya lu yang ompong!" balas Hendri membuat cewek yang tengah duduk mepet padanya mendelik kaget.

"UDAH! UDAH WOI!" Riyan memisahkan keduanya. Kalo dibiarin terus mah bisa-bisa sampe Bimo sama Maya jadian juga mereka masih ribut kayanya. "Jangan rebutin aku mass.." ujar Riyan merangkul Tio.

Apasih temennya sekarang udah pada belok kali ya? Pikir Bimo.

"Loh itu bukannya Abang lo May?" tanya Luna teman Maya dikampus. Luna juga anak pindahan, jadi dia baru mengetahui teman-teman Abangnya Maya sekarang.

Maya mengangguk. Ada Bimo disana. Sebenernya semalem Riyan udah ngomong kalo Bimo hari ini mau kuliah. Padahal Maya khawatir banget takut-takut kalo cowok itu bisa tiba-tiba pusing dan pingsan. Tapi nyatanya dia baik-baik aja malah ketawa-ketawa puas sekarang. Dan tentu tanpa Maya dia bahagia.

"Lo nggak ada niatan ajak gue gabung sama Abang lo apa May? Kan lumayan gue bisa deket sama cowok pake hoodie ijo itu hehehe," ujar Luna. Iya yang hoodie ijo lumut itu Bimo. Luna nggak tau apa-apa antara Bimo sama Maya.

"Lo suka Lun sama temen Abang gue?" Luna mengangguk antusias dengan menggoyang-goyangkan lengan Maya. "Cakep May! Gue baru liat dia sumpah! Kalo tau dari lama mah udah gue gebet kali hehehe.."

BOT ; HAECHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang