13

94 20 45
                                        

Masih ingatkah kalian pada hari di mana saya harus naik motor berdua dengan Bian, kala itu? Lucu sekali, karena saya pikir itu akan menjadi hal yang langka, rupanya, semesta senang melibatkan kami berdua dalam satu situasi sama.

Belum matang rencana saya untuk menanyakan ke mana perginya Bianㅡatau urusan apa yang membuat ia harus sampai meninggalkan mejanya seharian penuh kemarin, kehadirannya pagi itu sudah lebih dulu ditarik oleh Pak Alan ke arah koridor.

Mereka terlihat serius sekali berbicara di sana, sementara saya yang tidak punya waktu untuk merasa penasaran berakhir hanya memandangi layar laptop dan buku nota tebal di hadapan.

Setidaknya itu yang saya lakukan, sebelum sebuah saran atau pernyataan searah tercetus begitu saja memanggil refleks saya terangkat penuh.

"Ya udah sama Rianka aja."

Jari telunjuk saya menunjuk diri saya sendiri selagi dua pasang mata di ujung jarak terarah lurus-lurus pada tempat di mana saya berada. Tentu, jelas pada saya, karena tidak ada orang lain di sekitar sini.

"Boleh tuh." Belum saya mengerti, Pak Alan sudah menyetujui. "Gih, sana."

"Apaan, Pak?"

Yang ditanya cukup tersenyum lalu melenggang kembali ke dalam ruangannya, sedang yang satu lagi menghampiri saya di tempat.

"Ikut?" Ajaknya.

"Ke?"

"Kontrol gudang sama induk. Harusnya hari ini jadwal aku sama Aban, tapi karena dianya sibuk jadi diganti kamu aja."

"Tapi aku belum pernah, Bi."

"Makanya ayo, biar pernah."

Sudah jelas. Saya akan kalah telak masalah berdebat karena memang saya tak pandai mencari alasan.

Setelah merapikan meja sedikit sebelum saya tinggalkan, saya mendadak teringat sesuatu.

"Eh, Bi." Saya mendekatinya malu-malu dan berbisik pelan, berharap tidak ada orang lain yang mendengar. "Tapi pake motor kamu, ya?"

"Hah? Emang kenapa?"

Saya meringis sebentar. "Motor aku mulai rada-rada, udah lama nggak service soalnya. Hehe."

Entah karena nada bicara saya yang semakin mengecil di akhir, atau karena memang cerita sedih saya patut ditertawai, Bian terkekeh geli sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya.

"Angka, Angka." Ia bergumam pelan seperti berusaha memaklumi, lalu berjalan menuju mejanya sendiri dan meraih kunci motornya di atas meja. "Ya udah, ayo."

Hari itu Bian sepenuhnya membawa saya pada banyak pengalaman kerja baru. Sebagian besar tentang pekerjaan, sebagian tentang cara bertahan hidup dengan caranya, sebagian lagi kalimat-kalimat janggal yang sedikit sulit saya mengerti karena Bian tidak berniat membahasnya lebih jauh.

Saya pun berusaha mengerti dan mencoba tak menuntut, meski otak saya tidak dapat berbohongㅡpikiran saya tetap berputar pada cerita masa lalunya yang baru saya ketahui tempo hari, dari orang lain pula.

Setelah tugas Bian selesai, saya pikir Bian akan langsung berencana kembali ke kantor secepatnya. Tetapi tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kritis lelaki itu, sebab ia malah membelokkan motor ke arah yang berlawanan dengan arah jalan kantor selama kurang lebih lima belas menit, hingga kebingungan saya tidak terbalas sampai motornya berhenti di selasar parkir sebuah kedai makan yang tampak sepi mengingat jam makan siang baru saja berakhir.

"Bisa makan seafood, kan?" Tanyanya, saat saya menatapnya dengan tatapan tanya banyak-banyak.

"Selain ikan, sih, bisa."

Why We HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang