"Kadang cinta baru kita sadari saat kehilangannya terasa begitu nyata. Namun, ada waktu-waktu di mana penyesalan tak mampu memutar kembali takdir, karena hati yang hancur tak selalu bisa disatukan lagi."
~
Di kamar Sanskar
Tok tok tok.
“Swaraaa!! Apa kau di dalam?” teriak Sujata sambil mengetuk pintu.
“Iya, Bu, sebentar.” Swara buru-buru membuka pintu. “Ayo Bu, masuk.”
Sujata melangkah masuk dengan wajah serius.
“Bibi Sharma, aku sudah memompa susu untuk Raj. Tolong diambil ya, sekalian pompa susunya juga dibersihkan,” ucap Swara.
“Baik, Nyonya,” jawab Bibi Sharma sambil masuk mengambil botol-botol susu yang sudah terisi penuh dan alat pompa. Setelah itu ia keluar kamar.
“Terima kasih, Bibi,” ujar Swara.
Sujata menoleh pada Swara. “Swara, kedatangan Ibu ke sini… sebenarnya Ibu ingin mendengarkan ceritamu yang tadi siang.”
Swara duduk di depan Sujata, napasnya berat.
“Oh iya, Bu. Aku memang ingin menceritakan yang sebenarnya pada Ibu.”
“Iya, Nak. Katakan saja, Ibu akan mendengarkan.”
Swara menunduk sebentar lalu memberanikan diri.
“Jadi, sebenarnya hubungan aku dan Sanskar sedang ada masalah, Bu.”
“Benarkah?” dahi Sujata berkerut.
“Iya, Bu.”
Sujata menghela napas panjang. “Sudah Ibu duga. Sejak kalian pulang bersama Ragini dan Laksh kemarin, ada yang berubah. Dugaan Ibu ternyata benar. Masalah apa, Swara?”
Swara menggigit bibirnya, lalu menatap mata Sujata dengan penuh beban.
“Jadi sebenarnya aku dan Laksh telah meng—”
“Swara!!!”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras. Sanskar berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang.
“Sanskar? Ada apa? Kenapa kau masuk terburu-buru begitu? Kau mengganggu Swara yang sedang bercerita pada Ibu!” omel Sujata.
Sanskar menelan ludah, mencoba mencari alasan.
“I-Ibu… aku menunggumu di kamar tamu. Katanya Ibu mau membuatkan susu untukku, tapi ternyata Ibu malah di sini bersama Swara.”
‘Bagus, Sanskar. Kau datang tepat waktu. Kalau tidak, Swara pasti sudah membongkar semuanya,’ batin Sanskar dengan napas lega.
“Oh ya ampun, Ibu lupa!” Sujata menepuk dahinya. “Maafkan Ibu, Nak. Baiklah, Ibu akan membuatkanmu susu dulu. Maaf sudah membuatmu menunggu.”
“Tidak apa-apa, Bu.” Sanskar memaksakan senyum.
“Kalau begitu Ibu pergi sebentar ya. Swara, tunggu di sini. Ibu akan kembali.” Sujata keluar meninggalkan mereka.
Begitu pintu menutup, Sanskar buru-buru menguncinya. Ia menoleh pada Swara dengan wajah serius.
“Sanskar, kenapa kau menghentikanku? Kenapa aku tidak boleh menceritakan semuanya pada Ibu?” tanya Swara menahan amarah.
Sanskar mendekat. “Tidak, Swara. Kau tidak boleh menceritakan kejadian itu kepada Ibu… ataupun orang lain.”
“Kenapa, Sanskar? Biarkan saja semua orang tahu. Aku tidak mau terus menutupi semuanya!” suara Swara bergetar, matanya berkaca-kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
