"Cinta yang tak diselesaikan di masa lalu, adalah bom waktu yang siap meledak di masa depan."
~
“Aku bahagia... Keluarga kita seperti dulu lagi. Penuh dengan canda dan tawa,” ucap Annapurna sambil tersenyum hangat.
“Iya, Kaka, itu benar,” sahut Sujata. “Tapi ada apa sebenarnya dengan kalian berempat? Hari ini kalian tampak... berbeda. Bahagia sekali.”
“Dan siang tadi... sebenarnya ada apa?” tanya Ram penasaran. “Kami semua tidak mengerti.”
“Kalian tidak perlu tahu,” jawab Laksh cepat sambil tersenyum nakal. “Yang penting sekarang... ayo kita makan!”
Semua pun mulai menikmati makan malam dengan suasana hangat.
“Swara, kau—” Sanskar terkejut saat Swara tiba-tiba memindahkan sebagian sayuran ke piringnya.
“Kau juga sedang sakit, jadi kau harus banyak makan sayur,” ujar Swara ringan.
“Tapi, Swara...” Sanskar mencoba protes.
“Jangan banyak alasan! Ini keinginan si kecil,” ucap Swara sambil memegang perutnya dengan bangga.
“Oh, jadi sekarang kau memanfaatkan si kecil untuk memeras aku, ya?” sindir Sanskar, setengah bercanda.
“Sudah, jangan banyak bicara. Ayo makan!” Swara menyuapi dirinya sendiri.
“Baiklah... demi si kecil,” kata Sanskar menyerah, tersenyum.
Ragini dan Laksh hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Malam hari.
Di kamar Sanskar.
“Ayo, minum obatnya,” ucap Sanskar sambil menyodorkan segelas air dan obat pada Swara.
“Sanskar, kau tidak tahu, ya?” Swara menolak halus. “Wanita hamil tidak boleh sembarangan minum obat. Itu bisa berbahaya. Aku cukup minum susu jahe saja. Kau saja yang minum obat.”
“Tapi aku tidak sakit. Untuk apa minum obat?” tanya Sanskar bingung.
“Kau besok kerja, kan?” Swara balik bertanya.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Jadi kau butuh jaga stamina.”
Sanskar tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir.”
“Baiklah,” ujar Swara menyerah.
Beberapa saat kemudian, Swara melihat ke arah tempat tidur. “Sanskar, kau tidur di ranjang saja, ya. Biar aku yang di sofa.”
“Tidak, Swara. Kau yang di ranjang. Aku biasa di sofa, tidak apa-apa.”
“Tapi kau sedang terluka, Sanskar.”
“Dan kau sedang hamil.”
“Tidak apa-apa. Lagian, sofa di sini cukup besar, kok. Kau tahu kan sofa di rumahku kecil sekali? Kalau tidur harus tekuk kaki. Tapi yang ini cukup nyaman.” Swara langsung merebahkan diri di sofa dan menarik selimut.
Sanskar menatapnya dengan khawatir. “Kau yakin? Biar aku saja, Swara.”
“Berhenti berdebat! Aku ingin tidur!” potong Swara sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
Sanskar menghela napas. “Kau memang keras kepala...” gumamnya sambil akhirnya naik ke atas ranjang.
Di kamar Laksh.
“Kau tahu, Ragini… Hidupku sekarang jauh lebih baik,” ucap Laksh pelan sambil menatap langit-langit kamar. “Karena aku mulai belajar melepaskan Swara… dan perlahan menikmati hidupku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
