"Dalam satu hari, hati bisa merasakan manisnya cinta, pahitnya amarah, dan hangatnya tawa. Karena hidup tak pernah berjalan lurus — ia menari di antara pelukan dan perpisahan."
~
Swara berdiri di depan rumah Sharmistha sambil menggendong Raj yang terlelap di pangkuannya.
“Assalamualaikum, Ibu,” sapanya pelan.
“Waalaikumsalam… sebentar ya,” jawab Sharmistha dari dalam, sebelum membuka pintu. Begitu pintu terbuka, matanya langsung melembut melihat Swara berdiri di sana.
“Ibu…” Swara langsung memeluknya erat.
“Swara, kenapa kamu tidak memberi tahu kalau mau ke sini?” tanya Sharmistha sambil tersenyum lembut.
“Aku sengaja, Bu,” jawab Swara singkat.
Sharmistha hanya menghela napas kecil. “Ya sudah… ayo masuk. Kasihan Raj, pasti kepanasan.”
“Iya, Bu,” ucap Swara sambil melangkah masuk dan duduk di ruang tamu.
“Ibu ambilkan minum, ya?”
“Tidak usah repot, Bu. Kalau aku haus, aku bisa ambil sendiri.”
Sharmistha mengelus lembut rambut Swara. “Tidak apa-apa, Sayang. Kamu pasti capek. Tunggu di sini, ya.”
Swara hanya mengangguk pasrah.
Tak lama, Sharmistha kembali dengan segelas teh dingin. “Ini, Ibu buatkan teh karena cuacanya panas sekali.”
“Terima kasih, Ibu,” ucap Swara sambil menerima gelas itu.
“Biar Raj Ibu tidurkan di kamar, ya,” kata Sharmistha sambil menunduk menatap cucunya yang tertidur pulas.
Swara tersenyum tipis. “Baik, Bu.”
Sharmistha pun menggendong Raj dengan hati-hati. “Kasihan, pasti gerah. Ibu tidurkan dia di kamar supaya lebih nyaman.” Lalu, ia berjalan pelan menuju kamar sambil menimang Raj dengan penuh kasih.
Swara duduk termenung di ruang tamu, pikirannya melayang pada percakapannya dengan Ragini di mobil tadi.
> “Kau tahu, Swara? Semalam Laksh sangat romantis padaku! Bahkan dia… menjadikanku istri sepenuhnya! Kau mengerti, kan? Aku berhasil membuat Laksh menjadi milikku, dan aku yakin dia mulai jatuh cinta padaku.”
“Dia membuatku terbang melayang, Swara! Semalam adalah malam terindah untukku. Dia membuatku jatuh cinta berjuta-juta kali. Aku… aku sangat mencintai Laksh!”
Swara memejamkan mata, berusaha menahan rasa sesak di dadanya. Namun, ingatan lain muncul—percakapannya dengan Laksh beberapa waktu lalu.
> “Kau bohong, Swara! Aku tahu, di lubuk hatimu, kau masih mencintaiku. Aku yakin itu!”
“Laksh, kau juga bohong! Kau sudah mencintai Ragini, kan? Katakan padaku!”
“Tidak.”
“Bohong! Ragini bilang padaku kalau kau mulai berubah… mulai bersikap romantis padanya. Itu artinya kau sudah jatuh cinta padanya!”
“Tidak, Swara. Aku melakukan itu semua hanya untuk membuat dia bahagia. Aku sudah berjanji padamu untuk membahagiakan Ragini, bukan? Dan aku berusaha menepati janji itu.”
“Jadi… semua ini hanya sandiwara?”
“Iya. Aku akan terus bersandiwara di depan semua orang seolah-olah aku bahagia dengan pernikahan ini. Sampai mati pun, aku akan terus melakukannya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
