"Dalam pertarungan cinta, yang paling terluka adalah hati yang masih berharap."
~
Di meja makan.
"Baik semuanya, silakan makan," ucap Durga.
Baru beberapa suap, Swara tiba-tiba menutup mulutnya.
"Hoek—" Swara terlihat menahan mual.
"Swara, kau kenapa?" Sujata langsung panik dan berdiri menghampirinya.
"Ibu... semalam juga dia seperti ini," jelas Sanskar sambil ikut berdiri.
"Ayo minum air dulu, Swara," ucap Sujata menyodorkan gelas.
"Ti-tidak, Bu... aku..." Swara buru-buru berlari ke kamar mandi sambil menahan mulutnya.
"Ada apa dengan Swara?" tanya Annapurna cemas.
"Aku juga tidak tahu, Bi. Tapi semalam dia bilang mungkin karena kelelahan," jawab Sanskar, mencoba menenangkan.
"Jangan-jangan... Swara hamil?" gumam Ragini pelan. Tapi suaranya cukup terdengar oleh Laksh yang duduk di sebelahnya.
"Apa?! Hamil?!" seru Laksh refleks, membuat semua orang langsung menoleh padanya.
Ragini mengangguk pelan. "Iya, Laksh... mungkin saja. Soalnya tadi keluhannya mirip..."
"Itu benar," sahut Annapurna. "Waktu aku hamil dulu juga sering mual di pagi hari seperti itu."
"Tidak mungkin!" ujar Laksh cepat.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Sujata, heran dengan reaksi Laksh.
"Karena... itu... ya pokoknya tidak mungkin!" suara Laksh mulai terdengar goyah.
Di sampingnya, Ragini mencoba menenangkan. "Mungkin Swara hanya sakit biasa. Coba kau tenang dulu, Laksh."
"I-iya... mungkin cuma sakit," gumam Laksh, namun matanya langsung menatap Sanskar. "Iyakan, Sanskar? Swara hanya sakit, bukan?"
Sanskar tidak menjawab. Ia terdiam dengan wajah tegang. Jantungnya berdetak tak karuan.
"Sanskar, kenapa kau diam saja?" tanya Laksh, suara mulai meninggi.
Durga memotong, "Kita tidak perlu menduga-duga. Kita akan tahu kebenarannya sebentar lagi. Ram, tolong hubungi dokter."
"Aku sudah menelpon dokter pribadi kita. Dia akan segera datang," ucap Ram.
Semua orang di meja makan tampak gelisah, suasana menjadi sunyi dan tegang.
Tak lama kemudian, Swara kembali dari kamar mandi dengan wajah pucat.
"Ada apa ini? Kenapa semua menatapku seperti itu?" tanyanya heran.
"Swara, duduklah dulu," pinta Sujata lembut. "Kami memanggil dokter untuk memeriksamu."
"Untuk memastikan kau hamil atau tidak," potong Laksh dengan tajam, menatap mata Swara tanpa berkedip.
"A-aku rasa tidak perlu, Bu... aku mungkin cuma kurang istirahat," jawab Swara gugup.
"Sudah cukup. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter," ujar Sujata.
Laksh menggenggam tangannya sendiri di bawah meja, berusaha menahan emosi. Sanskar menunduk dalam diam. Swara hanya bisa menunduk, perasaannya bercampur aduk.
Beberapa menit kemudian, dokter keluarga mereka datang.
"Selamat pagi, semuanya. Siapa yang sakit?" tanya sang dokter.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfikceBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
