PART 2 : SAAT TAKDIR MEMISAHKAN, RAHASIA MENYATUKAN

685 26 1
                                        

"Masa lalu mungkin menyakitkan, tapi di sanalah kita menemukan kebenaran."

~

Swara berjalan tanpa arah, air matanya mengalir tanpa henti. Langkahnya lunglai, pikirannya kacau.

“Baru saja aku dan Laksh bahagia... baru saja aku dilamar... Tapi kenapa kebahagiaan itu hilang begitu cepat? Kenapa?! Aku mencintai Laksh! Sangat mencintainya! Tapi kenapa Kau malah memisahkan kami? Kenapaaa?!”
teriak Swara sambil mendongak ke langit malam.

Kenangan bersama Laksh kembali memenuhi pikirannya—tawa, pelukan, dan janji yang kini hanya tinggal bayangan.

“Kenapa semua ini harus terjadi padaku... Kenapa?!”
Isaknya pecah lagi.

Tanpa sadar, Swara terus berjalan sambil melamun. Ia tidak melihat ada mobil melaju cepat ke arahnya.

“Mbak, AWAS!!”
Teriak seorang pria sebelum menarik tubuh Swara ke pinggir jalan. Mereka berdua terjatuh.

“WOY! Kalau jalan, lihat-lihat dong!”
Bentak bapak pengemudi dari dalam mobil.

“Iya, Pak. Maaf ya,” jawab pria itu sopan.

Dia lalu menoleh ke Swara. “Mbak nggak apa-apa?”

“A-uw...”
Swara meringis sambil memegang sikunya yang berdarah karena terbentur batu.

“Mbak, ini harus segera diobati. Ayo ikut saya,”
ujar pria itu, menawarkan tangan untuk membantu Swara berdiri.

“Gak... nggak usah,”
Swara menolak, masih sedikit waspada.

“Mbak, nggak usah takut. Saya nggak akan macam-macam. Saya cuma mau bantu,”
ucapnya tulus.

Akhirnya, Swara mengangguk dan mengikuti pria itu.

Di dalam mobil Sanskar.

“Nama saya Sanskar. Kalau boleh tahu, nama Mbak siapa?”
Tanya pria itu sambil mengoleskan obat ke luka Swara.

“Swara,” jawabnya pelan.

“Saya panggil Swara nggak apa-apa, ya?”

“Nggak apa-apa,”
jawab Swara dengan senyum tipis.

Sanskar memperhatikan wajah Swara—mata sembap, wajah sayu, dan tubuhnya gemetar.

“Kalau boleh tahu... kamu kenapa? Kenapa matamu sembap begitu?”

“S-saya nggak apa-apa, kok,”
Swara buru-buru mengusap air matanya.

“Dari tadi air mata kamu terus keluar. Sepertinya kamu lagi punya masalah besar, ya? Maaf kalau saya lancang,”
ucap Sanskar lembut.

“Ya... begitulah. Saya udah nggak kuat nahan semuanya. Jadi...”
Swara menutupi wajahnya dan mulai menangis.

“Kalau memang mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan. Kadang kita memang perlu nangis biar lega,”
Sanskar menepuk pelan bahunya.

Swara pun menangis sejadi-jadinya. Tanpa sadar, ia bersandar di bahu Sanskar, menumpahkan semuanya.

“Bolehkan...?”
tanyanya di sela isak.

“Iya,” jawab Sanskar singkat, membiarkannya menangis di pelukannya.

Air mata Swara membasahi baju Sanskar, tapi pria itu tetap diam dan membiarkannya meluapkan segalanya.

Beberapa menit kemudian...

“Ma-makasih...”
Swara mengusap matanya, kini ia terlihat lebih tenang.

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang