PART 11 : YANG TERLIHAT DI TENGAH MALAM

312 12 0
                                        

"Takdir tak pernah salah, ia hanya menunggu kita siap menerima arah."

~

Di malam harinya.

“Swara, aku beliin makanan. Lihat nih!” Sanskar masuk ke kamar sambil mengangkat kantong plastik berisi makanan.

Swara buru-buru menghapus air matanya.
“Oh ya? Makanan apa tuh?” tanyanya sambil memaksakan senyum.

“Kamu tegar, ya...” ucap Sanskar pelan.

“Maksud kamu?” Swara menatapnya bingung.

“Kamu pura-pura bahagia... padahal hatimu lagi hancur.”

“Sanskar, kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti.” Swara kembali tersenyum sambil sibuk membuka bungkusan makanan.

“Swara, berhenti mengalihkan pembicaraan,” Sanskar memegang lembut bahunya.

“Sanskar... aku nggak maksud mengalihkan. Aku beneran nggak ngerti apa yang kamu maksud.”

“Aku denger semuanya, Swara,” kata Sanskar lirih. “Aku tahu... aku tahu apa yang kamu rasain. Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depan aku.”

Swara terpaku. Bibirnya mulai bergetar, dan air matanya kembali mengalir.

“Sa-Sanskar... a-a-aku...” Suaranya bergetar, lalu ia pun tak kuasa menahan tangis. Swara langsung memeluk Sanskar seerat mungkin.

“Menangislah... nangis aja, Swara. Nggak apa-apa,” bisik Sanskar sambil mengelus rambut Swara dengan lembut. “Dengan menangis, kamu bisa lega.”

“Sanskar... aku nggak nyangka kalau Om Shekar itu... ayahku. Dan Ragini... dia ternyata adikku sendiri. Orang yang menikah sama Laksh... adik tiriku sendiri, Sanskar. Aku—aku ini anak yang dilahirkan tanpa ayah... anak haram. Aku benci semua ini. Aku benci semuanya. Orang-orang pasti jijik dan—aku... aku itu cuma...”

“Enggak, Swara! Jangan pernah bilang kayak gitu,” Sanskar menatapnya serius. “Kamu bukan sampah. Kamu bukan anak haram. Kamu nggak salah apa-apa. Justru kamu itu kuat... kamu hebat. Dan kalau ada orang yang membencimu, biarin. Karena kamu punya aku... aku di sini untuk kamu. Sekarang dan nanti.”

Swara terdiam.

“Kamu juga punya ibu yang luar biasa, dan kamu punya keluarga yang sayang sama kamu. Banyak orang yang mencintaimu, Swara. Bahkan menurutku... semua orang yang pernah kenal kamu adalah orang-orang yang beruntung. Kamu bawa bahagia ke hidup mereka. Kamu bawa cahaya.”

Sanskar menghapus air mata di pipi Swara dengan ibu jarinya.

“Sanskar... aku nggak bisa terima semua ini...” ucap Swara lirih.

“Swara... cepat atau lambat, kamu harus menerima kenyataan bahwa Om Shekar adalah ayahmu. Dan Ragini... dia adikmu.”

“Enggak, Sanskar!” Swara melepas tangannya dari pelukan Sanskar. “Dia sudah menghancurkan hidup ibuku. Dia buat ibu menderita selama bertahun-tahun. Dan Ragini... dia malah membela ayahnya. Dia nyalahin ibu aku. Seolah-olah... seolah ibu yang salah! Aku nggak akan pernah terima itu! Siapapun yang membela mereka... aku juga bakal benci!”

Sanskar menghela napas. “Aku ngerti... Aku ngerti, Swara. Tapi sekarang tenang dulu, ya? Nih... aku udah bawain makanan kesukaan kamu. Ayo, kita makan dulu.”

Sanskar mulai membuka bungkusan makanan satu per satu.

“Terima kasih, Sanskar...” bisik Swara pelan.

“Eh, nggak ada kata ‘terima kasih’ atau ‘maaf’ dalam persahabatan,” kata Sanskar sambil tersenyum.

Swara hanya menatapnya... lalu perlahan ikut tersenyum.

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang