"Kadang, orang yang paling sering tertawa adalah yang paling dalam lukanya."
~
Di kamar Ragini.
"Aku harus mencari dress dan kemeja untuk Laksh," gumam Ragini sambil membuka lemari dan mulai memilih-milih pakaian.
Setelah beberapa saat, ia menemukan sepasang baju yang tampak serasi. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sepertinya ini bagus. Ya! Aku dan Laksh akan pakai baju kembaran," ucapnya semangat, lalu meletakkan dress dan kemeja itu di atas tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Laksh masuk sambil menatap lurus ke arah meja rias, mengambil sesuatu.
"Laksh? Kenapa kau sudah pulang? Bukankah biasanya kau pulang kantor jam empat sore?" tanya Ragini, sedikit terkejut.
"Ada berkas yang ketinggalan," jawab Laksh singkat, lalu mengambil map dari atas meja.
Saat ia hendak keluar, Ragini menahannya. "Laksh, tunggu!"
"Aku sedang sibuk. Jangan ganggu," potong Laksh tanpa menoleh.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bilang… bajumu untuk malam ini sudah kusiapkan. Aku pilihkan yang serasi dengan dress-ku."
Mendengar itu, Laksh menoleh sekilas ke tempat tidur. Matanya menangkap dua setelan baju yang tampak senada—sepasang pakaian yang tampak cocok dipakai oleh sepasang suami istri.
"Tidak usah. Aku tidak mau pakai itu," ucap Laksh dingin. "Kau juga tak perlu repot-repot menyiapkan bajuku. Aku bisa memilih sendiri."
Ragini menunduk, suaranya lirih. "Tapi… aku hanya ingin kita terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya. Seperti suami istri lain pada umumnya."
Laksh menghela napas panjang, suaranya meninggi sedikit.
"Berapa kali harus kukatakan? Kita bukan pasangan suami istri. Jangan paksa aku untuk berpura-pura seolah kita ini… normal."
"Namun—"
"Aku pergi."
Tanpa menunggu jawaban, Laksh melangkah keluar dari kamar, membiarkan pintu tertutup pelan di belakangnya.
Ragini berdiri terpaku. Pandangannya jatuh pada dua pasang baju di atas tempat tidur—masih tertata rapi, belum tersentuh.
Air mata mulai menetes di pipinya.
"Kapan semua ini akan berakhir?" bisiknya lirih.
Malam hari pun tiba.
Keluarga Swara dan Ragini datang ke rumah keluarga Durga Prasad. Udara terasa hangat dengan aroma masakan yang menggoda dari dapur.
“Silakan masuk,” sambut Annapurna ramah, membuka pintu lebar-lebar.
“Ayo, jangan sungkan. Silakan duduk,” timpal Sujata dengan senyum lebar.
Meja makan panjang sudah tertata rapi. Semua keluarga mulai mengambil tempat duduk.
“Terima kasih sudah mengundang kami malam ini,” ucap Sharmistha sambil tersenyum hangat.
“Ah, tidak usah berterima kasih. Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Jangan sungkan,” kata Sujata, menepuk tangan Sharmistha dengan akrab.
Parvati melirik ke arah kursi kosong di sebelah Ragini. “Ragini, Laksh ke mana? Kok belum datang?”
“Aku di sini. Maaf terlambat,” jawab Laksh sambil masuk ke ruangan dan langsung duduk di samping Ragini tanpa ekspresi.
Sharmistha kemudian menoleh ke kanan dan kiri. “Sanskar dan Swara belum turun?”
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
