PART 30 : ANTARA RINDU DAN AMARAH

485 16 1
                                        

"Rindu bisa menghangatkan hati yang beku,

tapi amarah yang belum selesai bisa membakar harapan.
Kadang, cinta harus berdamai dengan luka agar bisa tumbuh tanpa ragu."_

~

Di Rumah Sakit

"Kalian pulang saja. Biar aku yang menunggu Swara," ucap Sanskar lembut namun tegas.

"Yasudah... jaga dirimu baik-baik," Sujata mengangguk.

"Aku akan menunggu Swara bersama Sanskar," sela Sharmistha.

"Tidak, Ibu. Ibu istirahat saja. Aku tahu Ibu pasti lelah dan capek... jadi biar aku yang menjaga Swara," balas Sanskar dengan penuh ketulusan.

"Baiklah..." Sharmistha pun mengalah.

Akhirnya, semua keluarga pulang ke rumah. Di ruangan itu, kini hanya tersisa Sanskar, Laksh, Ragini, dan Swara yang masih terbaring tak sadarkan diri.

"Laksh, terima kasih... kau sudah menjaga Swara. Dan juga... maafkan aku karena sudah menuduhmu," kata Sanskar dengan tulus.

"S-Sanskar, aku—" Ragini mencoba menyela, namun Sanskar segera memalingkan wajah, enggan menatapnya.

"L-Laksh... aku ingin bicara denganmu. Menjelaskan semuanya," lirih Ragini.

"Baiklah. Ayo." Laksh mengangguk dan keluar ruangan, diikuti oleh Ragini. Mereka duduk bersebelahan di bangku depan ruang perawatan Swara.

"Laksh... aku melakukan semua ini karena aku takut kehilanganmu," ucap Ragini akhirnya.

"Maksudmu?" Laksh mengerutkan kening.

"Aku takut kau meninggalkanku... kembali bersama Swara. Aku terlalu takut itu akan terjadi."

"Tapi aku sudah bilang padamu, Ragini. Aku sudah tidak mencintai Swara. Aku hanya butuh waktu untuk melewati semuanya. Dan kau pernah berjanji akan menungguku," jawab Laksh tenang.

"Iya... aku tahu. Aku minta maaf, Laksh. Awalnya aku juga tidak ingin melakukan ini... tapi Nenek menyuruhku. Dia ingin membalas dendam pada Ibu Sharmistha, dan aku... aku hanya ikut dalam rencananya. Aku salah. Laksh, aku mohon, maafkan aku..." air mata Ragini mengalir deras.

Laksh menatapnya lama, lalu berkata dengan lirih, "Aku akan memaafkanmu."

"B-benarkah? Kau... memaafkanku? Terima kasih, Laksh..." Ragini menangis lega, mengusap air matanya.

"Tapi aku punya satu permintaan... selain memberiku waktu," ujar Laksh.

"Permintaan apa? Aku siap melakukannya," jawab Ragini mantap.

"Aku ingin kau tidak pernah mengulangi perbuatan ini lagi. Janjikan padaku, Ragini, bahwa kau tak akan melakukan hal jahat seperti ini lagi. Aku ingin kau kembali seperti dulu... menjadi perempuan yang baik dan sabar. Kau mau, kan?" Laksh menggenggam kedua tangan Ragini.

"Iya, Laksh... aku mau. Aku janji. Aku akan berubah. Aku tidak akan melakukan hal serendah ini lagi... aku janji padamu," Ragini tersenyum dalam tangis.

"Terima kasih... Ragini," ujar Laksh, lirih.

Di Malam Harinya

Di dalam ruangan yang sunyi, hanya terdengar suara mesin monitor jantung yang berdetak pelan. Sanskar duduk di tepi ranjang, memandangi Swara yang masih tertidur.

"Swara... kapan kau akan sadar? Aku merindukanmu," bisiknya lirih sambil mengelus lembut rambut Swara.

"Aku minta maaf, Swara. Kau boleh menghukumku... karena aku sempat tidak percaya padamu."

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang