PART 40 : BUKTI YANG MEMBAKAR HATI

294 9 1
                                        

"Kadang, kebenaran datang bukan untuk menenangkan hati, melainkan untuk mengoyaknya. Dan dari bukti yang terbuka, lahirlah luka yang tak bisa ditutupi."

~

Tepat setelah adzan magrib, Swara tiba di Hotel Grandstar. Ia melangkah masuk dengan sedikit gugup, lalu seorang pelayan langsung menghampirinya.

“Apakah dengan Nyonya Swara?” tanya pelayan itu sopan.

“I-iya,” jawab Swara agak ragu.

“Silakan ikut saya,” ujar pelayan tersebut, menuntunnya menuju lift.

Saat hendak masuk ke dalam lift, Swara dibuat terkejut ketika seorang pelayan lain datang sambil membawa buket bunga mawar segar dan sekotak cokelat mewah.

“Untukku?” tanyanya heran.

“Iya, Nyonya.”

Dengan sedikit bingung, Swara menerima bunga dan cokelat itu. Senyum samar terbit di wajahnya, meski hatinya berdegup semakin kencang.

“Suami Nyonya sangat romantis. Beliau yang menyiapkan semua ini,” ucap sang pelayan, menambahkan.

Swara hanya membalas dengan senyum kaku. Kata-kata itu seperti membuat dadanya sesak.

Tak lama, lift terbuka. Pelayan yang menemaninya kembali menuntun Swara menuju kamar 146.

“Silakan masuk, Nyonya. Suami Anda ada di dalam,” ujar pelayan itu, lalu pergi setelah Swara mengangguk singkat.

Dengan tangan sedikit bergetar, Swara memutar gagang pintu. Begitu pintu kamar terbuka, matanya langsung membesar. Lantai kamar dipenuhi taburan bunga mawar, aroma harum semerbak memenuhi ruangan. Ia melangkah masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya.

“Laksh, kau di mana? Kenapa di sini gelap sekali?” panggil Swara, suaranya bergetar.

Tiba-tiba, pintu balkon kamar terbuka. Cahaya lampu-lampu hias berkelip lembut, menampakkan sosok Laksh yang duduk di kursi, di hadapannya sebuah meja dengan aneka hidangan manis. Kilauan lampu yang mengelilingi balkon membuat suasana tampak begitu romantis… sekaligus membuat Swara merasa semakin tak tenang.

“Laksh… kau—” Swara menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Ayo kemari, Swara,” ucap Laksh lembut, tangannya terulur.

Dengan langkah perlahan, Swara menghampirinya sambil terus menatap sekeliling ruangan yang dihias begitu indah. Hatinya bergetar.

“Silakan duduk,” ujar Laksh sambil menarik kursi di depannya.

“Terima kasih,” Swara duduk, masih tak lepas dari rasa kagum.

“Bagaimana menurutmu?” Laksh duduk berhadapan dengannya, sorot matanya penuh harap.

“K-kau yang menghias semua ini?” tanya Swara, suaranya bergetar.

“Iya. Spesial hanya untukmu,” jawab Laksh mantap. “Aku menghiasnya dengan tanganku sendiri.”

Swara menunduk menatap makanan manis di hadapannya. “Dan… makanan ini?”

Laksh tersenyum kecil. “Kalau itu, maaf. Bukan buatanku. Tapi aku memesannya khusus untukmu.”

“Kenapa kau melakukan semua ini, Laksh?”

“Karena aku mencintaimu, Swara,” jawab Laksh penuh keyakinan. “Dan aku akan melakukan apa saja… asalkan bisa melihatmu tersenyum seperti sekarang.”

Swara tercekat. “Dan… kau bilang kepada pelayan tadi bahwa kau suamiku?”

“Iya.” Laksh tersenyum. “Khusus hari ini… kita menjadi pasangan suami istri.”

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang