"Kata-kata yang diucapkan saat marah sering kali meninggalkan luka yang tak terlihat."
~
Swara sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
"Swara," suara seseorang memanggil, diikuti tepukan ringan di pundaknya.
Swara menoleh. "Om... Om itu yang kemarin datang ke rumah ibu saya, ya?"
"Iya, Swara..." jawab Shekar, matanya tampak berkaca-kaca.
"Ada apa, Om?" tanya Swara bingung.
"Swara, Om cuma mau bilang... kalau sebenarnya Om ini—"
"Tunggu!"
Sharmistha muncul tiba-tiba.
"Ibu? Ibu kenapa ada di sini?" tanya Swara heran.
"Sharmistha, tolong... jangan cegah aku lagi. Aku harus mengatakan yang sebenarnya!" desak Shekar.
"Ibu, maksudnya apa? Om ini maksudnya apa sih?" Swara makin bingung.
"Swara, Om ingin menyampaikan sesuatu yang penting," ujar Shekar.
"Menyampaikan apa, Om?"
"Jangan, Shekar... aku mohon," pinta Sharmistha lirih.
"Tidak, Bu! Aku harus tahu! Dari awal aku memang sudah curiga. Ibu menyembunyikan sesuatu dari aku, dan sekarang ternyata benar. Aku ingin tahu semuanya!" tegas Swara.
"Tapi, Swara..."
"Ibu... aku mohon!" kata Swara, matanya mulai berkaca.
"Swara..." Shekar memegang tangan Swara, "Om ini... sebenarnya ayah kandungmu."
Swara terdiam. Matanya membelalak, tubuhnya kaku.
"Iya, Swara. Om ayahmu. Ayah dan ibumu menyembunyikan ini darimu. Tapi sekarang, Ayah akan jelaskan semuanya."
Tiba-tiba, terdengar suara benda jatuh.
Ragini menjatuhkan pupuk tanaman yang ia bawa. Ia mendengar semuanya.
"Ragini..." panggil Shekar.
"Maksud Ayah apa?" Ragini menghampiri Shekar.
"Ayah akan jelaskan semuanya."
Akhirnya, mereka semua duduk di taman. Swara, Ragini, Shekar, dan Sharmistha. Suasana terasa berat.
"Dulu... Ayah dan ibumu, Sharmistha, saling mencintai. Kami menjalin asmara selama beberapa bulan. Tapi... hubungan kami kandas," kata Shekar lirih.
"Kenapa?" tanya Swara.
"Karena Ayah dijodohkan oleh nenekmu. Dengan seorang perempuan lain... ibumu, Ragini. Janki. Ayah dan Sharmistha harus berpisah. Ayah tak bisa menolak, karena kakekmu mengancam akan bunuh diri kalau Ayah tidak menurut. Ayah nggak ingin itu terjadi."
Sharmistha mulai menangis. "Ibu sudah mencoba menjauh... Ibu sempat beri kesempatan pada Shekar, tapi dia bilang dia menerima perjodohan itu. Hati ibu hancur mendengarnya..."
"Hingga akhirnya... ibu hamil," sambung Sharmistha dengan suara bergetar.
"H-hamil?" Ragini terkejut.
"Iya. Ibu berusaha menemui Shekar... tapi nenekmu terus mencegah. Saat ibu berhasil bertemu Shekar dan mengatakan bahwa ibu hamil, tahu apa yang dia lakukan? Dia tak percaya... Dia menuduh ibu macam-macam. Dituduh murahan. Katanya ibu berhubungan dengan pria lain!" tangis Sharmistha pecah.
"Maaf... Sharmistha. Aku... aku nggak sadar waktu itu..." Shekar menunduk.
"Ibu membesarkan kamu, Swara, seorang diri. Di tengah hinaan tetangga. Tapi ibu nggak pernah kepikiran buat menggugurkan kamu. Karena kamu tanggung jawab ibu," lanjut Sharmistha sambil menggenggam tangan Swara.
Shekar melanjutkan, "Ragini... pernikahan Ayah dan ibumu Janki tidak bahagia. Ayah sering marah padanya... padahal dia perempuan yang sangat baik. Nenek terus menuntut kami punya anak. Akhirnya ibumu hamil. Tapi dia meninggal saat melahirkanmu..."
Swara menatap Shekar dengan campuran luka dan amarah. "Kalau begitu... kenapa Om bisa yakin aku anak Om?"
"Karena akhirnya ibumu berhasil membawa Ayah tes DNA secara diam-diam. Hasilnya menunjukkan kalau kamu anak Ayah..."
"Dan setelah itu ibu membawamu pergi..." tambah Sharmistha.
Swara berdiri, matanya merah menahan air mata. "Om... Om sudah menyakiti ibu saya. Menghina ibu saya... Meninggalkan dia dalam keadaan hamil. Om bukan ayah yang baik! Ibu saya membesarkan saya sendiri! Dan Om?! Om cuma mikirin diri sendiri!!"
"Swara, maafkan Ayah..." lirih Shekar.
Swara makin emosi. "Om bukan ayah! Seorang ayah sejati nggak akan pernah ninggalin anak dan istrinya! Om itu pengecut!!"
"Swara, cukup!" Sharmistha mencoba menenangkan, tapi Swara menepis pelan.
"Dan kamu, Ragini..." Swara beralih pada adiknya.
"Ayah juga terpaksa menikah dengan ibu aku. Ayah hanya ingin bahagiakan orangtuanya. Bukankah membahagiakan orangtua itu baik?" Ragini membela.
"Iya, Ragini. Tapi kebahagiaan itu nggak bisa dipaksakan. Orangtua sejati ingin anaknya bahagia juga, bukan cuma dirinya! Yang dipaksakan itu bukan bahagia, itu egois!"
"Tapi ini juga salah ibumu! Kenapa mau melakukan hal yang dilarang agama?" Ragini menatap Swara dengan kesal.
"Menurut kamu, ibu saya yang mau? Ayahmu dan ibu saya sama-sama salah! Tapi tahu nggak bedanya? Ibu saya bertanggung jawab! Dia nggak pernah lari! Sementara ayahmu? Setelah tahu ibu saya hamil, dia malah menikah dan ngatain ibu saya! Cowok kayak gitu bukan laki-laki sejati!!"
"Jangan hina ayahku, Swara!" bentak Ragini.
Swara menunjuk Ragini dan Shekar. "Ayahmu itu laki-laki pengecut! Egois!"
"Swara, cukup! Ibumu juga perempuan murahan!! Dan kamu anak haram! Anak tanpa ayah! Lahir dari hubungan yang dilarang!" teriak Ragini meledak.
Plak!
Swara menampar Ragini. "JAGA MULUTMU!! Ayahmu bilang ibumu perempuan baik... tapi lihat anaknya?! Jahat! Egois! Aku relakan Laksh buat kamu, Ragini! Tapi kau balas dengan cara seperti ini?! Kalau seperti ini hasil didikan ayahmu, aku bersyukur dibesarkan hanya oleh ibu!!"
Ragini menangis sambil memegang pipinya.
"Swara, cukup!!" Plak! Ragini membalas menampar Swara.
Dan akhirnya, pertengkaran fisik pun tak bisa dihindari.
“Ragini, sudah!” seru Shekar, mencoba menahan emosi.
“Swara, lepaskan!” Sharmistha panik sambil menarik tubuh Swara menjauh dari Ragini.
Sharmistha dan Shekar berusaha memisahkan kedua gadis itu. Keduanya terengah-engah, air mata dan amarah masih membakar di mata masing-masing.
“Ibu, aku tidak akan pernah menganggap mereka sebagai keluargaku! Aku tidak mau punya ayah seperti dia! Dan aku tidak sudi punya adik seperti Ragini! Ingat itu!!” teriak Swara sebelum berlari masuk ke dalam rumah, membanting pintu.
“Aku pun sama, Ayah! Aku tidak bisa menerima semua ini! Yang jelas, aku benci Swara! Dan juga DIA!” Ragini menunjuk Sharmistha dengan penuh kebencian, lalu berlari pergi dengan mata merah.
Shekar berdiri terpaku. Hatinya remuk. Namun sebelum bisa berkata apapun lagi, suara Sharmistha menyentaknya.
“Kamu lihat, Shekar? Semuanya HANCUR! Bukan membaik, malah makin buruk! Karena semuanya sudah TERLAMBAT! Dan mulai sekarang, jangan pernah hubungi aku lagi. Anggap saja kita semua... tidak pernah saling kenal.”
Sharmistha pun berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
“Sharmistha…” suara Shekar hampir tak terdengar, tenggelam dalam kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
---
Bersambung...
(VOTE DAN KOMENT UNTUK LANJUT!!!)
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
Fiksi PenggemarBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
