PART 23 : MENGOBATI LUKA, MENYEMBUHKAN HATI

330 14 0
                                        

"Terkadang, luka tak hanya disembuhkan oleh obat—tapi oleh perhatian, kejujuran, dan tawa yang datang dari hati yang tulus."

~

"Aku mohon, Laksh… Aku tidak mau ada lagi yang tersakiti," ucap Swara dengan lirih. "Kita sudah menyakiti dua orang yang tak bersalah. Pertama, Ragini. Kedua, Sanskar."

Swara menghela napas berat, air hujan tak lagi bisa membedakan air matanya. "Ragini sangat mencintaimu, lebih dari aku. Tapi kau justru menyakitinya. Sedangkan Sanskar—"

"Juga aku sakiti," potong Laksh cepat. Suaranya penuh penyesalan. "Aku tahu… Kak Sanskar pasti tidak melakukan itu dengan sengaja. Pasti ada hal yang terjadi, sesuatu yang tidak terduga. Dia tidak mencintaimu, kan, Swara? Dia hanya terpaksa menerima perjodohan ini, sama sepertimu."

Laksh melanjutkan, "Mungkin dia bisa memahami keadaannya… Tapi Ragini? Dia langsung mencintaiku tanpa memberi ruang untukku bernapas. Dia tidak pernah mencoba mengerti. Dia… berbeda. Dia tidak seperti kamu, Swara."

"Laksh, setiap orang itu berbeda. Tidak ada yang sama," ucap Swara tenang. "Kalau kau ingin dimengerti, bicaralah padanya. Jangan hanya menyimpulkan dari diamnya. Aku yakin… Ragini akan mengerti, jika kau memberinya kesempatan. Tapi berhentilah menyakitinya dengan ucapanmu."

Laksh berdiri perlahan, menatap hujan yang belum juga reda. Swara ikut berdiri di sampingnya.

"Ini semua memang sulit," ujar Swara lembut. "Tapi kalau kita terus begini, kita akan terus menyakiti orang lain... dan juga diri kita sendiri."

Laksh terdiam sejenak, sebelum akhirnya menoleh ke arah Swara. "Tapi… kita masih bisa seperti ini, kan?"

Swara tersenyum. "Iya. Kita bisa jadi sahabat. Iya, Laksh?"

Mereka saling menatap.

"Iya. Dan cinta kita... akan selalu abadi. Sekarang, atau selamanya," ucap Laksh dan Swara bersamaan.

"Aku mencintaimu, Swara," bisik Laksh, memajukan tubuhnya hingga wajah mereka sangat dekat.

Swara menahan napas. "Aku juga sangat mencintaimu, Laksh."

Laksh menempelkan keningnya pada kening Swara. Lalu ia mengecupnya, lama dan lembut. Setelah itu, matanya, pipinya… satu per satu ia sentuh dengan bibir penuh kasih.

"Izinkan aku melakukan ini… untuk terakhir kalinya," ucap Laksh pelan.

Swara tidak menjawab. Ia hanya diam—dan pasrah. Laksh pun mencium bibir Swara dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya, dan juga terakhir kalinya… Swara membalas ciuman itu, melingkarkan tangannya di leher Laksh, sementara Laksh merangkul pinggang Swara erat.

Di bawah derasnya hujan, mereka berdua mencurahkan seluruh rasa cinta dan rindu yang selama ini tertahan. Seolah dunia hanya milik mereka berdua. Dan ciuman itu menjadi penanda akhir dari cinta yang telah mereka bangun selama satu tahun terakhir.

Cinta yang kini… mereka ikhlaskan.

Tanpa mereka sadari, seseorang di kejauhan telah merekam momen itu dalam beberapa jepretan kamera.

"Aku akan menyerahkan foto ini pada keluarga Maheshwari," bisik orang itu pelan, lalu pergi begitu saja, meninggalkan jejak yang akan segera menjadi badai berikutnya…

Di kediaman keluarga Maheshwari.

"Swara! Laksh!" seru Ragini panik begitu melihat mereka memasuki rumah dalam keadaan basah kuyup. Ia segera menghampiri keduanya.

"Laksh, kau tidak apa-apa? Kami semua khawatir padamu!" ucap Annapurna cemas, menyentuh lengan putranya.

"Tak apa-apa, Bu. Aku baik-baik saja," jawab Laksh singkat, mencoba tersenyum.

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang