PART 9 : SAAT API MEMBAKAR KENANGAN

332 17 0
                                        

"Mencintai dalam diam adalah seni melepaskan tanpa kehilangan harapan."

~

Malam pun tiba.

“Swara, kamu mau pajang foto-foto pernikahan kita?” tanya Sanskar sambil membawa sekardus hasil foto prewedding mereka.

“Iya, kita pajang aja. Lagian dinding kamar ini polos banget,” jawab Swara sambil melihat sekeliling.

“Oke.” Sanskar mulai mengeluarkan semua fotonya.

Swara memandangi satu per satu foto itu… lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

“Swara, kamu kenapa? Nangis?” Sanskar menggenggam tangan Swara lembut.

“Enggak... nggak apa-apa kok,” jawab Swara cepat sambil buru-buru mengusap air matanya.

“Kamu yakin?” tanya Sanskar dengan nada pelan, khawatir.

Swara mengangguk pelan. “Yuk, kita pasang aja fotonya. Di sini bagus, kan?” Ia mengambil salah satu figura dan berdiri.

“Iya, bagus juga di situ. Sini, aku aja yang pasang,” kata Sanskar, mengambil alih figura dari tangan Swara.

Beberapa menit kemudian, mereka selesai menghias kamar dengan foto-foto pernikahan mereka.

“Akhirnya selesai juga,” ucap Swara sambil menatap dinding.

“Iya. Sekarang waktunya istirahat,” kata Sanskar sambil mengambil satu bantal dan selimut.

“Kamu mau tidur di mana?” tanya Swara.

“Di sofa, tentu saja,” jawab Sanskar tenang.

“Oke… baiklah,” Swara hanya menjawab singkat sambil menarik selimut.

Sanskar pun berbaring di sofa, sementara Swara membelakangi arah tempatnya.

Dalam diam, air mata Swara kembali jatuh.

“Laksh… Aku sebenarnya ingin menuruti kata-katamu. Tapi aku juga nggak bisa ninggalin keluarga aku…”

Swara menggigit bibirnya, menahan tangis agar tak terdengar. Malam itu, hanya sunyi yang menjadi saksi luka di hatinya.

Di kamar Laksh.

Ragini perlahan berjalan ke arah ranjang, berniat tidur di samping suaminya.

“Mau apa Anda ke sini?” tanya Laksh dingin, nada suaranya tajam menusuk.

“Aku… aku mau tidur, Laksh,” jawab Ragini pelan.

“Tidur? Sana! Tidur di sofa. Jangan di sini!” bentaknya.

“Tapi, Laksh… kita kan sudah sah menikah. Jadi bukankah wajar kalau—”

“Ngga!” potong Laksh cepat. “Bagi saya, Anda tetap orang asing. Dan Anda bukan siapa-siapa di mata saya. Jadi, pergi! Jangan tidur bareng saya!”

Laksh membalikkan badan, bersiap tidur.

Ragini masih berdiri di tempatnya. “Laksh… aku nggak bisa tidur di sofa. Punggungku sakit.”

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang