PART 39 : ALASAN UNTUK PERGI

216 7 0
                                        

"Kadang, sebuah alasan terdengar masuk akal di telinga orang lain,
padahal di hati kita, itu hanyalah cara untuk pergi tanpa menimbulkan curiga."

~

Pernikahan Sharmistha dan Shekar akhirnya tiba. Suasana rumah dipenuhi kesibukan—para keluarga mondar-mandir mempersiapkan segala hal, memastikan setiap detail berjalan sempurna. Di dalam kamar, Sharmistha sudah selesai dirias. Wajahnya tampak anggun, balutan busana pengantin membuatnya seolah bercahaya.

Swara masuk dengan senyum lebar, tak bisa menahan rasa kagumnya.
"Ibu… kau cantik sekali," ujarnya tulus.

Ragini menyusul, terkekeh sambil memandang ibunya. "Iya, bahkan aku sempat tak mengenalimu, Bu."

Sharmistha tersenyum hangat. "Kalian ini, ada-ada saja," sahutnya ringan.

Tanpa sadar, Swara memeluk sang ibu, diikuti Ragini. "Sebentar lagi keluarga kita akan berkumpul kembali," ujar Swara dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Pelukan itu terputus saat Parvati masuk, alisnya terangkat. "Ada apa ini? Kenapa kalian berpelukan sambil menangis? Sudahlah, nanti riasan kalian luntur."

Swara dan Ragini tergesa menyeka air mata. "Iya, Nek… maaf."

"Baiklah, sekarang bawa Sharmistha keluar. Akad akan segera dimulai," perintah Parvati.

Dengan penuh kehati-hatian, Swara dan Ragini menuntun Sharmistha keluar menuju halaman tempat acara berlangsung.

Di sisi lain, Laksh membisikkan sesuatu ke telinga Shekar dengan nada bercanda. "Ayah, pasti sudah tidak sabar melihat Ibu Sharmistha, ya?"

Sanskar ikut menimpali, "Betul, apalagi beliau pasti cantik sekali hari ini."

Ketika Sharmistha muncul, Shekar tak bisa menyembunyikan keterpanaannya. Tatapannya terhenti pada wajah sang mempelai wanita, seolah waktu ikut membeku.

Sanskar tersenyum nakal. "Ayah, jangan menatap Ibu Sharmistha seperti itu. Ingat, kalian belum sah," godanya.

Tawa pecah di antara para tamu, sementara Sharmistha dan Shekar menunduk malu.

"Ibu, duduklah di sini," ujar Swara, mempersilakan Sharmistha duduk di samping Shekar.

Pak penghulu yang sudah siap di tempat mengangguk. "Baiklah, mari kita mulai," ucapnya sambil menjabat tangan Shekar.

Laksh dan Sanskar pun bergeser, mendekati istri masing-masing. Sanskar menatap Swara dengan tatapan dalam. "Kau cantik sekali," bisiknya.

Swara tersenyum lembut. "Kau juga sangat tampan, suamiku," jawabnya. Hari itu, Sanskar memang tampak memukau dalam kemeja putih yang dibalut jas berwarna senada, membuatnya terlihat semakin gagah di mata Swara.

Sementara itu, Ragini dan Laksh saling berpandangan dengan ekspresi kesal pura-pura.

"Kenapa kau terlihat sangat cantik hari ini, Ragini? Aku jadi tidak bisa berhenti melihatmu!" protes Laksh sambil memelototkan mata.

Ragini tersenyum tipis. "Kau juga, Laksh. Tapi heran… biasanya kau jelek, kenapa hari ini tampan?"

Laksh langsung melongo, tak percaya istrinya berani berkata begitu di hari istimewa ini. "Ragini! Kau bilang aku jelek? Wajah setampan ini kau hina begitu saja? Aku benar-benar kesal padamu!"

Ragini hampir tak kuat menahan tawa. Ia lalu berjingkat mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Laksh, “Aku bercanda, sayang. Dari kau bangun tidur sampai nanti tidur lagi, kau tetap terlihat tampan di mataku.”

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang