PART 42 : ANTARA LUKA, MALU, DAN RINDU

330 8 0
                                        

✨ "Kadang luka membuat kita ingin menyerah, malu membuat kita ingin bersembunyi, dan rindu membuat kita ingin kembali. Tapi justru di antara ketiganya, hati diuji untuk tetap bertahan." ✨

~

Di kamar Sanskar.

Sanskar mengambil bantal dan selimut tanpa banyak bicara.
“Kau akan tidur di sofa, Sanskar?” tanya Swara pelan.

Tanpa menjawab, Sanskar berjalan menuju sofa lalu berbaring di sana.
“Selamat malam, Sanskar,” ucap Swara lirih.

Tatapan Swara lalu jatuh pada Raj, yang sudah terlelap di dalam box bayi. Perlahan, ia menggendong putranya ke dalam pangkuan.

“Raj, anakku… mungkin saat kau besar nanti kau akan tahu siapa mamamu ini. Seorang wanita rendahan yang pernah menggoda suami orang. Saat kau tahu itu, kau pasti akan sangat membenciku, menjauhiku. Membayangkannya saja mama tidak sanggup…” Swara terisak, air matanya membasahi pipi.

“Tapi percayalah, Nak, mama akan selalu menyayangimu. Mama akan selalu ada untukmu. Mama janji akan selalu menjagamu, apapun yang terjadi. Maafkan mama, Raj, kalau mama belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu.”

Swara menatap wajah kecil Raj dengan penuh cinta.
“Mama akan berusaha memperbaiki semua kesalahan ini. Mama akan mencoba membujuk ayahmu… agar ayah memberi mama kesempatan kedua. Mama akan melakukan apa pun supaya pernikahan ini tetap utuh. Jadi kau tenang saja, sayang.”

“Selamat malam, Raj. Semoga mimpi indah.” Swara menidurkan kembali putranya ke dalam box bayi, lalu mengecup kening mungil itu dengan penuh kasih.

Hening. Pandangan Swara beralih pada Sanskar, yang tampak terlelap di sofa. Ia mendekatinya, jemarinya ragu namun akhirnya menyentuh lembut rambut suaminya.

“Sanskar… aku ingin bicara, meski hanya pada sosokmu yang tertidur. Karena aku tahu, kalau kau bangun, kau bahkan tak ingin menatapku. Kau pasti merasa jijik padaku, kan?” Swara tersenyum getir.

“Sanskar, aku minta maaf… karena sudah menyakiti hatimu. Aku tahu betapa kecewanya kau padaku, mungkin bahkan kau membenciku. Dan aku tidak bisa menyalahkanmu.”

Air matanya kembali jatuh.
“Iya, Sanskar… aku memang wanita bodoh. Tidak tahu malu. Aku tidak menyadari betapa tulus cintamu. Sejak awal kita bertemu, kau selalu peduli, selalu mengutamakan kebahagiaanku. Kau rela melakukan apa saja agar aku bahagia. Bahkan sekarang… di saat aku terpuruk begini, kau masih melindungiku, menutupi semua keburukanku dari keluarga. Kau… suami yang sangat baik.”

Ia terdiam sejenak, menarik napas berat.
“Tapi apa balasanku? Pengkhianatan. Kekecewaan. Aku benar-benar bodoh! Ada lelaki sebaik dirimu di sisiku, tapi aku malah berpaling pada orang yang bahkan tak layak untukku.”

Swara menunduk, menggenggam tangan Sanskar sebentar.
“Aku hanya ingin satu hal, Sanskar. Kesempatan. Agar aku bisa memperbaiki semuanya. Tapi jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Karena aku tahu, cinta tidak bisa lahir dari paksaan.”

“Selamat malam, Sanskar. Aku mencintaimu. Mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya… tapi aku sungguh mencintaimu. Dengan segenap hatiku.” Swara mengecup kening Sanskar lama sekali, seolah enggan melepaskannya.

Setelah itu, ia kembali ke ranjang. Menarik selimut, memeluk guling, dan tenggelam dalam tangisan pelan.

Tanpa sepengetahuan Swara, Sanskar sebenarnya belum benar-benar tidur. Ia mendengarkan setiap kata istrinya. Dadanya sesak.
“Kenapa semua ini harus terjadi…” gumamnya dalam hati.

PERJODOHAN💔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang