"Kadang, kebenaran tak langsung dipercaya-karena ia tak datang dengan suara keras, tapi dengan luka yang dalam."
~
"Lalu aku harus bagaimana, Sanskar, agar kau percaya padaku?! Aku bersumpah... aku tidak pernah melakukan apa pun dengan Laksh! Satu-satunya yang pernah bersamaku hanyalah kau! Hanya kau! Dan aku tidak pernah mencampur apa pun ke dalam susumu! Semua yang dikatakan Ragini... itu semua bohong!" pekik Swara diiringi isak tangisnya.
"Sanskar... kau sahabatku... Seharusnya kau mempercayai aku, bukan Ragini, bukan siapa pun," ucap Swara lirih, menggenggam tangan Sanskar dengan gemetar.
Sanskar menatapnya lama sebelum berkata dengan nada getir, "Tapi Swara, aku bukan hanya sahabatmu. Aku... suamimu."
"Aku tahu kita tidak saling mencintai. Tapi aku selalu menghargaimu sebagai istriku. Aku mencoba memperlakukanmu dengan hormat. Tapi kau? Kau tidak pernah menganggapku ada! Kau malah terlihat mesra dengan Laksh-seorang pria yang sudah menikah, dan orang-orang mengira dia suamimu!" hardik Sanskar sambil mendorong Swara hingga terpojok ke dinding.
"Swara... aku..." Sanskar mendekatkan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan menyakitkan, "Aku menyesal. Menyesal karena dulu aku menerima perjodohan ini. Kalau saja aku menolak... mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."
Swara terisak, namun mencoba menahan air matanya. "Maafkan aku, Sanskar. Aku tahu aku salah... Tapi aku akan membuktikan bahwa anak ini... adalah anakmu. Kau orang pertama yang akan melihat hasil tes DNA-ku," katanya tegas walau suaranya bergetar.
Sanskar menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau itu benar... kalau anak itu memang darah dagingku, aku akan tetap bersamamu. Kita akan membesarkannya bersama. Aku akan membujuk Paman Durga untuk memberimu tempat tinggal di rumah ini."
Namun matanya kembali tajam, menusuk jantung Swara. "Tapi kalau ternyata anak itu anak Laksh... aku sendiri yang akan mengusirmu dari rumah ini. Dan menceraikanmu... saat itu juga."
Tanpa menunggu jawaban, Sanskar meraih kunci dari tangan Swara dan membuka pintu.
"Sanskar, tunggu..." panggil Swara sebelum ia pergi. "Aku hanya ingin kau tahu satu hal..."
Sanskar menoleh setengah.
"Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Aku bahagia menjadi istrimu... meskipun air mata yang lebih sering menemani." Senyuman tipis mengembang di wajah Swara yang basah oleh tangis.
Sanskar menatapnya sekilas, namun tak berkata sepatah pun. Ia pun melangkah pergi-meninggalkan Swara sendiri dalam sunyi.
Di ruang makan keluarga Maheshwari.
Keluarga Maheshwari telah menyelesaikan makan malam dalam suasana sunyi dan tegang.
"Baiklah," ucap Durga Prasad tiba-tiba, memecah keheningan. "Laksh, Sanskar, dan Swara-malam ini juga kalian pergi ke rumah sakit untuk tes DNA."
Laksh memandang sang ayah dengan kening berkerut. "Sekarang, Ayah? Kenapa tidak besok pagi saja?"
"Ayah ingin hasilnya secepat mungkin. Kalau kalian pergi sekarang, besok kita bisa langsung tahu jawabannya," tegas Durga, tak memberikan ruang untuk tawar-menawar.
"Baiklah," jawab Laksh pelan.
Sanskar dan Swara pun hanya mengangguk, lalu ketiganya berangkat menuju rumah sakit.
---
Di rumah sakit.
Setelah proses pengambilan sampel selesai, sang dokter berbicara dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
