"Kadang, satu pagi bisa mengubah arah seluruh hidup kita.
Bukan karena matahari terbit lebih indah,
tapi karena hati kita melihat sesuatu yang selama ini tak pernah disadari."
~
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Keluarga Maheshwari terlelap dalam keheningan malam. Sanskar dan Swara pun sedang tertidur nyenyak-hingga tangisan Raj yang tiba-tiba pecah membuat keduanya terbangun.
"Raj kenapa nangis...?" gumam Swara, berusaha membuka matanya yang masih berat.
"Dia mungkin haus. Biar aku yang buatkan susunya," ujar Sanskar sambil bangkit dari tempat tidur.
"Tidak usah, Sanskar. Biar aku saja," Swara menahan tangannya.
"Swara, kau istirahat saja, ya. Biar aku yang urus," Sanskar tersenyum lembut.
"Tapi besok kau harus kerja, nanti-"
Sanskar tiba-tiba menunduk, mengecup bibir Swara singkat namun hangat.
"Biar aku saja, ya?" bisiknya.
Swara terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil dan mengangguk.
Sanskar beranjak menuju boks bayi, menatap Raj dengan penuh sayang sebelum menggendongnya.
"Pangeranku, kau haus, ya? Ayah akan memberimu susu. Tapi kau harus berhenti menangis dulu," ucapnya lembut.
Ia mengambil botol susu yang sudah disiapkan sebelumnya, lalu menyuapkannya pada Raj. Tangisan sang bayi pun perlahan mereda, berganti dengan tatapan polos dan damai.
Pagi harinya
Keluarga Maheshwari berkumpul di meja makan untuk sarapan.
Sujata yang duduk di sebelah Sanskar langsung memperhatikan wajah putranya. Kantung matanya terlihat gelap, dan sejak tadi ia tak henti menguap.
"Sanskar, semalam kau tidak tidur, ya?" tanya Sujata curiga.
Sanskar mengusap tengkuknya pelan. "A-aku semalam menggendong Raj. Dia menangis terus."
Swara menggeleng sambil menatap semua orang. "Padahal aku sudah melarang Sanskar. Aku bilang biar aku saja yang menggendong Raj, tapi dia tetap keras kepala."
Durga tersenyum bangga. "Kau ayah yang hebat, Sanskar. Rela tidak tidur semalaman demi membantu Swara mengurus Raj."
Sanskar tersenyum tipis lalu memandang Swara dengan tatapan penuh penghargaan. "Justru aku lebih bangga pada Swara. Dia melakukan ini setiap hari-bangun tengah malam, tidur menjelang pagi, menggendong Raj tanpa lelah, dan tetap mengurusku. Aku salut padamu, Swara."
Swara tersipu mendengar pujian itu. "Itu memang sudah tugas seorang istri, kan, Ayah? Mengurus suami, anak, dan rumah."
"Iya, itu benar, Swara," ujar Durga sambil tersenyum hangat. "Baiklah, ayo makan!"
Mereka pun mulai menikmati sarapan bersama, dengan suasana hangat yang memenuhi meja makan.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Swara dan Ragini sedang membereskan meja makan
Saat Ragini hendak menaruh piring kotor ke wastafel, tiba-tiba ia berhenti. Tangannya refleks menahan perut, wajahnya sedikit pucat.
"Ragini, kau kenapa?" tanya Swara cepat sambil menghampiri.
"Entahlah, Swara... kepalaku pusing, perutku juga mual," jawab Ragini sambil memegang pelipisnya.
Tak lama, Laksh masuk ke rumah karena ada berkas yang tertinggal. Begitu mengambilnya, ia mendengar suara Swara dan Ragini di dapur. Ia pun segera mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
أدب الهواةBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
