029. PISAH

6.6K 823 79
                                        

Satu minggu usai kepergian Jisung dan kedatangan surat cerai ke unit apartemen, Minho jadi jarang masuk kerja. Hari-hari ia lalui dengan memendam diri di kamar. Berusaha memikirkan di mana letak kesalahannya hingga Jisung pergi meninggalkan yang lebih tua. Minho yang biasanya tampil rapi dan teratur kini menjadi berantakan. Makan jarang, mandi pun jarang. 

Ia tidak punya gairah hidup. Changbin bahkan shock dengan perubahan sikap si lelaki Lee. Pasalnya, Changbin tahu dengan jelas kalau Minho itu tidak pernah tertarik dengan dunia pernikahan. Bukannya selama ini juga Minho hanya menikah atas dasar kontrak enam bulan? Changbin bertanya-tanya dalam hati. 

Setelah perubahan drastis yang Minho alami, Changbin adalah sosok yang paling direpotkan di sini. Changbin harus mengatur orang-orang suruhannya untuk mencari Jisung. Ia juga harus bolak-balik apartemen Minho untuk antarkan seribu satu berkas penting. Belum lagi kadang kala, Changbin harus meng-handle semua masalah penting yang terjadi di kantor dan turut terjun langsung ke lapangan untuk mencari keberadaan lelaki manis kesayangan Minho. 

Changbin bersumpah, kalau Minho tidak menaikkan gajinya setelah semua yang ia lakukan, Changbin tidak mau lagi bekerja dengan Minho. Ya, walau tidak mungkin juga sih rasanya ia keluar dari pekerjaan sebagai sekretaris si lelaki Lee.

Hari ini lagi-lagi Changbin harus membawa berkas-berkas menumpuk yang harus ditandatangani oleh Minho. Ia melirik ke arah tumpukan dokumen di bangku penumpang lalu lagi-lagi menghela napas. Terkadang, Changbin merasa kalau dia ini adalah tukang antar paket. 

Changbin menyetir dengan kecepatan sedang sementara manik tajam lelaki itu tetap awas. Melihat ke kanan dan ke kiri barangkali ia bisa menemukan Jisung di tengah perjalanan dari kantor menuju apartemen Minho. 

"Sebenarnya itu orang ke mana ya?" gumam Changbin sambil memikirkan berbagai kemungkinan. Ia dan anak buahnya sudah mencari ke seluruh penjuru kota. Universitas tempat Jisung menimba ilmu pun sudah mereka datangi namun nyatanya Jisung sudah tidak pernah lagi masuk kuliah sejak hari itu. Cuti, katanya. Jisung bahkan melewatkan beberapa ujian penting sehingga ia terancam harus mengulang satu semester. 

Jisung juga sudah tidak pernah masuk bekerja. Ya, itu sih pasti. Kalau Jisung masih masuk kerja, Minho tentu sudah menemukannya sejak minggu lalu.

Kepala Changbin sakit setiap kali ia memikirkan tentang Jisung dan Minho. Yang satu hilang bagai ditelan bumi. Yang satunya bikin pusing dengan rewel dan tidak mau masuk kantor. Besok Changbin mengundurkan diri sajalah.

Lima menit dalam perjalanan, Changbin tiba di apartemen Minho. Ia turun dengan setumpuk dokumen di tangan lalu dengan langkah lebar masuk ke dalam gedung apartemen. Tidak butuh waktu lama bagi Changbin untuk masuk dalam apartemen sang sahabat. Ia sudah terlalu sering ke mari terlebih dalam satu minggu terakhir. 

Dan, yap. Apartemen itu masih sama berantakannya. Changbin meletakkan setumpuk dokumen di atas meja lalu kembali menghela napas. Kepalanya langsung sakit melihat kondisi ruang tengah. Dulunya, ruangan ini adalah ruangan yang sangat rapi dan bersih. Changbin bahkan betah tidur di sana jika ia memang harus menginap di apartemen Minho. 

Tapi, lihat sekarang. Botol minuman keras, bungkus makanan ringan, hingga cup mie instan berserakan di mana-mana. Jika sudah begini, Changbin lagi yang harus membersihkannya. Dengan cekatan, lelaki itu meraih satu per satu sampah di sana. Membawanya dalam genggaman tangan lalu buang tumpukan sampah itu ke kantung plastik. Biar nanti ia saja yang buang sekalian pulang.

Changbin membawa langkahnya menuju kamar utama, membuka pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. 

"Oi, brengsek," panggil Changbin satu kali yang hanya disahut dehaman malas dari Minho. Lelaki yang tengah duduk di atas kasur itu menoleh, menatap Changbin sekilas sebelum akhirnya buka suara.

"Gue masih atasan lo, kalo lo gak inget."

"Tampilan kayak gitu lo bilang bos gue? Gak sudi. Bos gue mah orangnya rapi, keren."

Minho hanya terkekeh. Secara tak langsung, Changbin memuji dirinya keren kan? Ia mengusap rambutnya kasar lalu kembali menatap ke arah Changbin.

"Ada kabar tentang Jisung?"

Changbin mengedikkan bahu, memilih untuk menyalakan lampu untuk lihat dengan jelas kondisi kamar Minho dan ia menyesalinya. Kapal pecah lain di depan mata. Belum lagi sosok Minho yang tampak menyeramkan dengan rambut acak, kantung mata gelap, wajah kusut, dan jenggot tipis di wajahnya. Hah, sudah Changbin duga akan seperti ini lagi.

"Gak ada. Tapi, mereka masih nyari."

Minho menghela napas lalu merebahkan tubuhnya yang terasa berat di atas kasur. Ia tidak tidur—lagi—semalaman. Changbin memilih bungkam, memunguti sampah dan pakaian yang berserakan di lantai sebelum akhirnya menendang kaki Minho yang menggantung. 

"BANGSAT CHANGBIN! MASALAH HIDUP LO APA?!" teriak Minho sambil mengaduh sakit. Ya gimana enggak. Betisnya ditendang sama Changbin sementara si pelaku hanya tersenyum kalem. 

"Mau sampe kapan jadi beban hidup gue, Ho? Lo gak capek satu minggu kayak orang gila gini?" ujar Changbin pada akhirnya. Lama-lama Changbin lelah juga lihat kelakuan Minho yang uring-uringan setiap hari. Changbin paham Minho sedih. Tapi bagaimana pun juga, kalau Minho masih mau bertemu Jisung, setidaknya Minho harus jaga kesehatan diri sendiri dulu. Minho juga harus tetap fokus melakukan pekerjaannya. Jika tidak, perusahaan mereka akan berada di posisi yang berbahaya dan berakhir kejadian sial lain menimpa mereka.

Ya, Changbin sih berusaha untuk tetap rasional saja, ya. Makanya ia memutuskan untuk sadarkan si lelaki Lee dari patah hati tak berujungnya.

"Gue pusing, Bin. Gue masih gak tau salah gue di mana."

Lengan kanan Minho terangkat, menutup wajahnya dari cahaya lampu yang terasa sangat terang. Minho frustasi, sebenarnya. Ia belum pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, malah sakit hati. Kasihan sekali.

"Gue gak masalah kalau Jisung mau pergi dari sisi gue, kalau itu yang bikin dia bahagia. Tapi gue mau tau alasannya. Even kalau dia bilang dia udah gak sayang sama gue. Gue gapapa, sumpah. Gue cuma mau denger langsung dari mulut dia, Bin," lanjut Minho lagi dengan suara serak yang berhasil buat Changbin lagi-lagi menghela napas. Minho sungguh menyayangi Jisung, rupanya.

Changbin menggaruk tengkuk yang tak gatal sebelum kembali menjawabi si lelaki Lee dengan hati-hati. Tidak mau menyakiti hati Minho dengan perkataannya. "We will find him. I know we will. Tapi lo juga gak bisa gini terus, Minho. Life must go on. Kalau lo gini terus, bakal lebih susah buat nyari Jisung."

Changbin tersenyum simpul lalu tepuk paha Minho dua kali, seolah menyalurkan semangat dan kekuatan pada lelaki Lee yang kini tengah menangis dalam diam. Pertama kali di hadapan Changbin.

"Nangis dulu sepuas lo. Habis ini lo keluar, gue tunggu di depan. Ayo berangkat ke kantor," ujar Changbin yang disambut dengan anggukan singkat oleh Minho. Setelah itu, lelaki bermarga Seo itu pun melangkah keluar dari kamar sang sahabat, menunggu di ruang tengah sambil membereskan kekacauan di sana.

.

.

.

Hiya, hiya. Aku update lagi menjawab kekhawatiran kalian. (?)

SJSJSJS. DIKIT LAGI ENDING.

MINSUNG: MARRIED BY CONTRACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang