Semua hal menjadi rumit sejak Minho tak bisa menemukan Jisung di kamar keesokan paginya. Niat hati ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan, Minho justru menemukan kamar lelaki manis itu kosong. Sebagian besar pakaian dan peralatan penting hilang dari tempatnya. Minho juga menemukan satu surat berisi tulisan tangan yang berhasil membuat jantung lelaki Lee itu merosot ke perut. Lemas.
Gue pergi. Maaf dan makasih.
Boleh kita akhiri hubungan kita sekarang? Nanti gue kirim surat cerainya.
Sisa bulan yang belum lewat, hangusin aja gapapa.
Kenapa?
Kenapa Jisung meminta untuk mengakhiri hubungan mereka?
Bukankah Jisung juga menyayangi Minho?
Hanya itu pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak Minho. Pasalnya, sejak pulang dari Jepang, hubungan mereka justru kian membaik setiap harinya. Mereka sudah mulai bisa menerima yang lain. Mereka bahkan selalu melakukan aktivitas layaknya pasangan menikah pada umumnya. Mengabari satu sama lain, tidur bersama di satu kamar, bahkan sesekali mereka saling mengucapkan kata sayang.
Lalu kenapa Jisung tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan mereka? Apa hanya karena pertengkaran kecil perkara garam tadi malam? Tidak mungkin dan tidak masuk akal. Minho butuh penjelasan dari Jisung. Jisung tidak bisa pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata begitu saja. Kalaupun ia memang ingin memutus hubungan, Jisung harus memberi setidaknya satu alasan jelas untuk Minho mampu melepas lelaki tupai itu.
Dengan tergesa, Minho melangkah keluar kamar Jisung lalu mengambil kunci mobil. Minho harus menemukan Jisung.
.
.
.
Empat jam sudah Minho mengelilingi kota. Mulai dari daerah sekitar apartemen, tempat-tempat yang mungkin dikunjungi oleh Jisung, hingga kota sebelah sudah Minho datangi tapi ia belum juga menemukan keberadaan si lelaki manis. Ia bahkan keluar rumah hanya dengan satu kaos oblong dan celana pendek selutut, tidak sempat berpikir untuk mengganti pakaian. Masa bodoh dengan penampilan. Situasinya sangat gawat sekarang ini.
"Ah! Sialan, Han Jisung!" umpat Minho sambil memukul setir mobil yang tengah terparkir rapi di pinggir jalan. Pikiran lelaki itu kacau. Kemana Jisungnya pergi?
Tangan kanannya kembali bergerak untuk meraih ponsel, menekan beberapa tombol di layar lalu menelepon nomor si lelaki manis. Tapi, percuma. Ia sama sekali tidak bisa menghubunginya. Pesan-pesan yang ia kirimkan saja hanya ceklis satu.
Minho lagi-lagi menghela napas. Kepalanya yang berdenyut kuat ia sandarkan pada setir mobil sambil men-dial satu nomor lain, Seo Changbin, begitu nama yang tertulis di layar.
"Chang-"
"Minho, lo di mana? Gue di apartemen lo dan gak ada siapa-siapa."
"Gue lagi nyari Jisung. Dia pergi, Bin," jelas Minho dengan suara bergetar. Lelaki itu berniat untuk meminta Changbin membantunya, mencari Jisung.
"Oh, well. Gue gak tau gue boleh ngomong ini atau enggak. Tapi, barusan ada yang nganter surat dari pengadilan. I didn't mean to see your privacy but... itu surat cerai."
.
.
.
Di satu sisi, sosok yang Minho cari sebenarnya ada di kos-kosan Felix, tempat tinggalnya juga beberapa bulan lalu. Lelaki manis itu kini sedang tertidur lelap di atas kasur, lelah setelah menumpahkan seluruh emosinya untuk bercerita pada sang sahabat.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINSUNG: MARRIED BY CONTRACT
FanfictionJisung butuh uang untuk membayar biaya kuliahnya. Apa ia harus terima tawaran seorang stranger yang tiba-tiba mengajaknya untuk menikah kontrak? Rating: M for kissing scene, harsh words, and NSFW contents. Genre: Marriage Life, Romance, Comedy IMP...
