027. BOOM

6.6K 846 116
                                        

Kondisi Jisung sudah lebih baik sejak sesi berobatnya dengan dokter keluarga Lee. Demam dan sakit kepala yang dideritanya sudah hilang. Menyisakan tubuh Jisung yang masih sedikit lemas juga mual setiap pagi.

Walau sudah tidak lagi sakit, beban Jisung kini berpindah ke pikirannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mengetahui fakta kalau dirinya sedang mengandung. Anak Minho, lelaki yang saat ini sedang duduk di atas kasur sambil memangku laptop berharganya.

Jika kalian bertanya apakah Jisung sudah memberi tahu Minho mengenai kehamilan lelaki manis itu, jawabannya adalah belum. Ia belum siap. Setiap kali Jisung akan membuka mulut dan mengeluarkan kalimat sesimpel ‘Aku hamil’, setiap kali itu pula Jisung merasa jantungnya akan meledak karena rasa gugup dan takut berlebih.

Lalu akhirnya? Lelaki manis itu akan lebih dulu sesak napas. Berakhir panik dengan tangan gemetar.

Minho tentu tidak tahu dengan kesulitan Jisung. Lelaki tupai itu selalu pandai berakting. Dengan natural Jisung akan masuk ke kamar mandi dan barulah ia akan terduduk lemas di atas kloset.

Saat ini, kondisi Jisung masih sama. Duduk gugup di atas sofa kamar sambil terus perhatikan gerak-gerik Minho yang sibuk bekerja. Lelaki Lee itu masih belum mau pergi ke kantor. Minho memilih untuk bawa pulang semua pekerjaannya untuk pastikan Jisung minum obat dan makan dengan benar. Suami idaman? Hm. Bisa jadi.

Jisung menghela napas pelan. Sangat pelan hingga Minho tidak akan menyadarinya. Pikiran lelaki itu berkecamuk. Apakah Jisung harus bicara mengenai hal itu sekarang?

Rasanya, Jisung tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tidak tenang juga hidupnya kalau harus menyembunyikan perihal kehamilannya. Toh, cepat atau lambat perut Jisung akan membesar dan tanda-tanda kehamilannya akan semakin ketara. Sebaiknya, Jisung beri tahu Minho saja.

Ia menarik napas dalam, meneguk liur kasar satu kali, lalu panggil nama sang suami.

“Kak Minho.”

“Hm?” Hanya dehaman. Mata lelaki itu masih terfokus pada layar menyala di hadapannya.

Jisung terdiam sejenak, meyakinkan dirinya untuk bicara sambil pura-pura memainkan ponsel acuh. “Kak, suatu saat Kakak mau punya anak gak?” tanya Jisung basa-basi yang berhasil buat tubuh Minho menegang.

Ia menoleh, menatap Jisung dengan tatapan tajam yang sayangnya tidak disadari oleh Jisung. Lelaki manis itu sibuk mengatasi kekhawatirannya, menatap layar ponsel sambil ketikkan kata-kata acak agar tidak dicurigai Minho.

“Kenapa mendadak nanya itu?” tanya Minho dengan nada datar.

Jisung mengedikkan bahu, “Nanya aja. Abis liat gambar bayi lucu.”

Keduanya hening untuk beberapa saat, sibuk berperang dengan pikirannya masing-masing. Namun, tidak sampai satu menit setelahnya, Minho kembali membuka suara. Berhasil mengeluarkan satu kalimat yang membuat Jisung rasanya ingin mati saja saat itu juga.

“Gue gak mau punya anak, Jisung.”

Hah, hidup memang suka bercanda.

“Lo hamil, Ji?” lanjut Minho dengan satu pertanyaan menyelidik. Jisung menggeleng kecil, menampilkan senyum manis lalu berujar, “Gak lah. Gila ya? Kita cuma pernah nganu satu kali. Gak mungkin gue isi.”

Yap, satu kebohongan yang sangat bagus, Han Jisung.

.

.

.

Sejak kejadian hari itu, Jisung jadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Tiga hari ini ia memang masih beraktivitas seperti biasa. Pergi ke kampus, mengerjakan pekerjaan rumah, makan dan mandi tepat waktu. Tapi semua hanya ia lakukan agar Minho tidak curiga. Plus, untuk bayi dalam kandungan.

MINSUNG: MARRIED BY CONTRACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang