022. CONFESSION

8K 933 120
                                        

"Makasih Kak," adalah kalimat pertama yang Jisung ucapkan sejak kejadian yang menimpanya tadi di klub malam. Saat ini, Jisung tengah duduk di atas sofa kamar hotel dengan jari-jari tangan yang saling bertaut.

Rasa cemas, takut, dan panik masih jelas menghantui lelaki manis itu.

Sementara Minho hanya berdeham singkat usai merapikan seluruh barang belanjaan dan mengambilkan segelas air mineral untuk Jisung.

"No need to, Ji. Minum dulu."

Jisung menggeleng singkat. Ia yakin, tangannya tidak akan bisa memegang gelas itu dengan benar. Jisung masih shock.

Minho lantas merendahkan tubuh. Berlutut dengan satu kaki tepat di depan Jisung lalu raih tangan mungil yang lebih muda. Ia mengangkat kepalanya, menatap wajah Jisung dengan senyuman kecil.

"Masih takut?" tanya Minho sambil berikan usapan-usapan lembut di punggung tangan Jisung. Lelaki yang lebih muda hanya mengangguk, enggan menatap yang lebih tua.

"Lo udah aman, Ji. Jangan takut lagi."

Minho arahkan tangan kanan Jisung untuk sentuh pipi kirinya sebelum kecup telapak tangan itu satu kali. "Napas dulu, gue temenin."

Jisung menganggukkan kepalanya satu kali lalu mulai mengatur napas. Minho tersenyum lega saat lelaki tupai itu tampak jauh lebih tenang sekarang.

"Makasih, Kak Minho," ujar Jisung lagi pada akhirnya. "Gue gatau bakal jadi apa kalo lo gak balik tepat waktu."

"Gue udah telat, Ji," jawab Minho sambil terus usapi tangan Jisung. Ia kecup satu kali lagi telapak tangan itu sebelum lanjutkan bicaranya, "Dia udah pegang lo di sini."

Minho sentuh paha bagian dalam Jisung dengan jari telunjuknya, berhasil buat tubuh lelaki manis itu membeku satu kali lagi malam ini. Kali ini bukan karena takut, ia hanya merasa... terkejut dan aneh? Perutnya terasa panas.

"Sorry, Ji."

"It's fine, Kak. At least, dia cuma megang di situ."

"But still, I don't like it," gumam Minho sambil tatap wajah yang lebih muda.

"Gue gak suka lo disentuh orang lain, Ji. Gue gak suka dan gak mau." Minho melanjutkan perkataannya.

Jisung terkejut, tentu saja. Ia ingin menjawab perkataan yang lebih tua, namun ia bingung. Jadilah, Jisung pilih untuk diam dulu menunggu penjelasan Minho.

"Can I tell you something?" tanya Minho menatap lurus pada dua manik bulat Jisung. Mengunci kontak mata mereka sambil dekatkan wajahnya pada Jisung.

Saat Jisung mengangguk kecil, Minho pun tersenyum lalu kembali bicara. "I like you, Ji. Gue sayang lo. Gue tau, harusnya gak gini. Tapi lama-lama, gue gak bisa... bohong? I want you to be mine," jelasnya berhasil buat sang lawan bicara menahan napas.

Hening menyelimuti untuk beberapa saat. Dengan Minho yang menunggu respons Jisung dan Jisung yang kebingungan harus menjawab seperti apa. Apakah ia harus jujur tentang perasaannya? Apa Minho sedang serius atau hanya sekadar bercanda?

Tapi, dilihat dari segi mana pun, tidak ada alasan untuk bercanda saat ini. Hanya tersisa peperangan antara Jisung dengan dirinya sendiri.

"Well..."

Jisung menunda ucapannya. Ragu jelas menyelimuti hati si manis. Ia takut akan menyesali keputusannya malam ini.

"Well, Kak..."

Diam lagi. Jisung menggigiti bibir bawahnya, menatap Minho yang masih setia menatap dan menunggu jawabnya.

"The truth is... I like you too."

Satu senyuman tipis terulas di wajah Minho. Namun, belum sempat ia berujar, Jisung sudah lebih dulu memotong perkataannya. "But then, gapapa? Is it okay? Ini berarti kita ngelanggar peraturan kita?"

Minho terkekeh geli sebelum usak singkat surai tebal lelaki manis di hadapannya.

"Ya, gapapa. Toh, kita sama-sama setuju kan? Ayo naik level jadi nikah beneran," ujar Minho. Pipi bulat Jisung lantas memerah, undang kekehan geli lain meluncur keluar dari mulut Minho.

Keduanya saling tatap-lagi-untuk beberapa detik. Setelahnya, Minho mulai dekatkan wajahnya pada Jisung, buat hidung mereka berdua bersentuhan sebelum kecup singkat bibir ranum yang lebih muda.

Jisung melenguh kecil, lagi-lagi rasakan gelombang panas mendera perutnya. Sial, kenapa ia sensitif sekali malam ini? Apa satu teguk minuman alkohol bisa memberi efek sebesar ini? Jisung pun tidak tahu.

Kecupan singkat terus Minho berikan di bibir dan pipi Jisung. Sementara itu, lengan yang lebih muda sudah mulai melingkari leher Minho, menjaga lelaki Lee itu tetap dekat.

"Kak," panggil Jisung dengan suara serak. Minho lantas hentikan pergerakannya, menatap Jisung dari dekat seolah menunggu perkataan Jisung selanjutnya. Manik gelap Minho mulai tertutup kabut nafsu. Jisung tampak sangat cantik dengan sweater putih kebesaran serta beret biru muda yang masih ia kenakan. Berhasil memancing gairah Minho yang sudah lama tak terpuaskan.

"Uh- Can you fuck me tonight?"

Dan, yap. Malam panjang untuk Minho dan Jisung pun dimulai. Desah nyaring Jisung, geram rendah Minho, lampu remang, dan hangat dari pemanas ruangan kamar menjadi teman Minho dan Jisung dalam melakukan kegiatan mereka.

.

.

.

AAAAAAAKKKKKKK. Reminder dulu deh.

Next part isinya adegan dewasa. Buat kalian yang enggak nyaman dengan konten seperti itu, boleh di skip aja! Gak ada hubungan sama jalan cerita kok. Aku bikin part khusus jadi kalian ga perlu baca kalau ga nyaman. Jangan dipaksa okie.

DAN, AKHIRNYA YA GES... MEREKA TERBUKA MATANYA.

OK SEKIAN. SEE YOU BESOK.

MINSUNG: MARRIED BY CONTRACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang