“Dari mana aja, Ji? Bukannya tadi lo langsung pulang?” Satu suara berat menyambut Jisung yang baru saja tiba di kamar kos.
Felix, teman sekamar Jisung, menatap lelaki yang lebih tua satu hari darinya itu dengan intens. Takut ternyata Jisung merasa sedih setelah dipecat dari toko roti.
Pertanyaan Felix hanya dijawab dengan gelengan singkat sebelum akhirnya Jisung menjatuhkan tubuh di atas lantai. Tergeletak lemas tak berdaya.
Oke, hiperbola. Tapi, Jisung memang merasa lelah.
“Nunggu bus lama.”
Kedua alis Felix bertaut. Menunggu bus? Rasanya tidak butuh waktu selama itu untuk menunggu bus datang. Biasanya, hanya butuh waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Walau penasaran, Felix memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin Jisung memang tidak ingin memberitahunya, begitu pikir Felix.
Lelaki ber-freckles itu pun mengedikkan bahu kemudian kembali fokus dengan layar ponsel, membiarkan Jisung tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Gumaman singkat dan acak keluar dari bilah ranum Jisung. Tanda bahwa pemuda tupai itu sedang berpikir keras.
“Nikah kontrak... Tiga juta per hari... Kuliah...”
“Hah? Apa, Ji?” Felix bertanya setelah tanpa sengaja mendengar kata-kata acak yang Jisung ucapkan.
“Lo ngomong sama gue?” tanya Felix lagi.
Bukan menjawab, Jisung justru menghela napas kasar kemudian bangun untuk duduk bersila di lantai. Kedua manik bulatnya menatap ke arah pemuda berdarah Australia itu dengan pandangan galau.
“Huhuuuu. Felix, gue galau banget.”
Dengan kalimat sederhana itu, Felix mengubah posisi duduk dan meletakkan ponsel di atas kasur. Bersiap mendengarkan keluh kesah sang sahabat.
Bibir Jisung merengut kemudian mulai bercerita mengenai lelaki yang ia temui tadi. “Tadi gue kan lagi nunggu bus sambil makan es krim mint choco. Biar gak terlalu stres gitu habis dipecat.”
Felix mengangguk paham, hapal dengan kebiasaan Jisung.
“Biasalah gue sambil ngedumel. Marah-marah kenapa pada jahat sama gue. Terus, ada satu cowok ganteng, hidung tinggi kayak Eiffel, rahang tegas, bibir ehem—seksi. Pokoknya oke banget secara penampilan.”
Felix berdecak singkat. Jisung belum apa-apa aja sudah bucin.
“Tapi, kelakuannya gak ada akhlak Lix. Masa gue tiba-tiba diajak nikah?! Terus gue dibekep dan diseret di depan umum! Anjing, gue masih malu banget sial. Gue auto teriak pas dia nawarin nikah.”
Kedua mata Felix membola. Namun, ia masih belum ingin membuka suara. Memilih untuk menunggu Jisung menyelesaikan ceritanya.
“Tapi ya... ternyata dia cuma ngajak nikah kontrak selama enam bulan dan gue bakal dibayar per hari. Tiga juta, Lix! Bayangin dah lima hari jadi suami dia, gue bisa bayar uang kuliah gue yang selalu telat! Keren juga gak sih cowok seganteng dia bisa gue seme-in?”
Kali ini, Felix cengo. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang Jisung ceritakan. Ia berdeham singkat kemudian dengan terbata menanggapi, “I—itu beneran? Tiga juta?”
“Beneran! Nih, kartu nama dia!”
Felix menerima selembar kartu itu lalu membaca isinya. Lagi, lelaki berdarah Australia itu terkaget entah untuk yang ke berapa kalinya.
“Fuck! Ji, are you kidding me? Tell me you are lying!”
“Gue gak bohong?!”
“Seriously?!”
KAMU SEDANG MEMBACA
MINSUNG: MARRIED BY CONTRACT
FanfictionJisung butuh uang untuk membayar biaya kuliahnya. Apa ia harus terima tawaran seorang stranger yang tiba-tiba mengajaknya untuk menikah kontrak? Rating: M for kissing scene, harsh words, and NSFW contents. Genre: Marriage Life, Romance, Comedy IMP...
