Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kini tengah berkumpul kedua keluarga didalam kediaman Pratama Untuk acara makan malam,
Setelah selesai dengan acara makan malamnya kini kedua keluarga itu tengah berkumpul di ruang tamu tentu saja untuk membicarakan masalah perjodohan,
"Ehm, jadi acara ini kita bisa mulai, tujuan saya dan keluarga saya datang kemari ingin melamar Ica untuk anak saya Gavin, apakah nak Ica menerimanya" Gison Harvey, papa Gavin yang tengah membuka pembicaraan dengan serius
Gadis yang tengah ditanyai itu pun duduk dengan gelisah, apa yang harus ia jawab, dilain sisi calonnya itu memang tampan, sesuai dengan kriteria idaman sang gadis
Namun disisi lain gadis itu tak menyukai sikap orang yang dijodohkan dengannya, bagaimana tidak, sedari tadi pria itu hanya diam dengan datar, saat orang tuanya memulai lamarannya pun ia hanya diam bahkan tak melihatnya, ia bersikap tenang dengan wajah datar sedatar datar datar dan datarnya
"Bagaimana Ica sayang?" tanya orang tua Gavin kembali.
Ica pun celingak celinguk menatapa satu persatu Mommy dan juga daddy nya.
Mommynya yang ditatap putrinya pun tersenyum lalu mengagguk sekali
"I-ica terima om" jawab Ica dengan gugub
"Syukurlah" setelah itu suasana kembali santai, tak menegangkan seperti sebelumya,
"kalau begitu pernikahan dilangsungkan minggu depan, bagaimana?" kini mama Gavin yang berbicara
"APAA!!" sontak mommy Ica menyenggol lengannya karna dengan tidak sopannya putrinya itu berteriak
"E-e maaf om tante" ucap Ica lalu menepuk mulutnya sendiri.
Orang tua Gavin pun mengerti, mereka hanya tertawa memaklumi.
"Jadi kamu setuju kan?" tanya mamah Gavin lagi
"Apa, tidak terlalu cepet tan?" tanya Ica
"Tak apa sayang, lebih cepat lebih baik" jawab mama Gavin
'lebih cepat lebih baik gundulmu' batin Ica kesal
"Ba-baiklah kalau begitu" jawab Ica dengan pasrah.
๏๏๏
pagi hari pun tiba kini Ica tengah bersiap-siap untuk berangkat kuliah walaupun ia tahu seminggu lagi ia akan menikah tapi ia tetap melakukan kegiatan kuliahnya ia tak mau ketinggalan pelajaran karena hanya karena pernikahannya.
Biarkan saja urusan pernikahan orang tuanya yang mengurus ia masa bodo dengan itu.
Kini ia Tengah duduk di meja kantin, lalu tiba-tiba hpnya berdering dan menampilkan nomor tak dikenal
Drtt.. Drtt...
Ica tak mengangkatnya, paling juga orang iseng, tapi tak lama kemudian hpnya berdering kembali, Ica yang sebel pun akhirnya mengangkat telpon tersebut