"Aku merindukan anak-anak." Celetuk Eunbi yang berakhir dengan respon senyum Jung Kook. Malam ini Eunbi berubah menjadi seorang putri di sebuah kerajaan. Sementara ia duduk manis menunggu dan memperhatikan setiap gerakan Jung Kook yang tengah merapikan tempat tidur. Sore tadi setelah mereka menikmati hidangan yang Jung Kook masak, kini Eunbi masih tidak boleh membantu suaminya meski hanya pekerjaan yang ringan. Alasan lelaki itu masih sama, Eunbi tidak boleh lelah.
"Kau merindukannya?" Tanya Jung Kook tanpa melenyapkan sisa-sisa senyuman di sudut bibirnya.
"Ya. Jisoo dan Insoo sudah tumbuh semakin besar. Dan rasanya aku tak rela jika harus melihat mereka semakin dewasa."
Kini, lelaki itu justru mengumbar kekehen kecil. Jung Kook pun merasakan hal yang sama. Rasanya ingin berlama-lama melihat mereka seperti bayi saja. Tapi bukan berarti mereka tidak ingin anaknya tumbuh dan berkembang.
Tahun ini anak mereka sudah enam tahun. Dan keduanya tumbuh dengan baik. Meski terbesit apakah dirinya—Jung Kook—sudah membesarkan mereka dengan baik atau belum? Apakah mereka bahagia memiliki orangtua seperti dirinya dan Eunbi?
Enggan berlama-lama memikirkan hal itu, Jung Kook beralih memandang istrinya yang masih memperhatikan setiap gerakan yang dia buat.
"Sayang, kau tahu? Insoo sangat ingin menjadi penyanyi."
"Benarkah?"
"Ya. Aku memiliki videonya. Kau mau tahu?" Jung Kook duduk di samping Eunbi setelah merapikan tempat tidur mereka. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Mencoba membuka galeri penyimpanan. Seperti lumbung, seluruh isi ponsel itu hanya dipenuhi foto-foto dan video kedua anaknya.
"Ini, lihatlah. Bukankah dia pintar bernyanyi?"
Begitu sebuah video berputar, suara Insoo lantas memenuhi kamar mereka. Suara lantang dengan pelafalan yang masih kurang jelas membuat Eunbi terkekeh.
Tawa yang terdengar di telinga Jung Kook saat itu sangat dirindukan. Jung Kook memandangi istrinya yang masih menonton Insoo bernyanyi dengan kostum aneh di acara sekolah. Insoo bernyanyi dengan penuh penghayatan. Eunbi terus tertawa. Meski sesekali meringis menahan luka diperutnya. Video terhenti dan Jung Kook masih tak mengalihkan pandangannya.
"Dia sangat manis."
"Tentu. Dia mewarisinya darimu." Jung Kook berkata.
Eunbi menoleh, menyirnakan tawanya dan menggantikannya dengan sebuah senyuman yang sangat manis. Jung Kook membalas senyuman itu dengan senyum yang selama ini di rindukan Eunbi. Lelaki itu tampan. Rambutnya yang agak memanjang. Mata bulat yang sangat indah. Bagi Eunbi, Jung Kook masih seperti Jung Kook yang dulu. Yang dia cintai.
"Terimakasih telah merawat mereka."
Eunbi mengelus lembut pipi Jung Kook.
"Tidak. Justru aku yang harus berterimakasih karena telah melahirkan mereka untukku."
Eunbi sudah menahan tangisnya. Mengingat begitu banyak kesalahan yang ia perbuat. Hanya mengikuti egonya sendiri. Bahkan disaat dirinya berpikir keputusan yang diambilnya dan sudah dia anggap benar, justru nyaris menghancurkan semuanya.
Lelaki itu melingkarkan kedua tangan ke tubuh Eunbi. Dan satu kecupan lembut menyapa bibir Eunbi tiba-tiba. Lelaki itu masih setia memandanginya. Mengusap pipinya seakan tidak bosan.
"Aku mencintaimu," kata Jung Kook.
Giliran Eunbi yang mengecup bibir Jung Kook. Mengecup lebih lama dan dalam di bagian bibir bawah lelaki itu. Oh, ayolah. Siapa yang tidak tergoda dengan bibir lelaki itu. Bilah bawah yang lebih tebal dari bagian atasnya. Aroma napas segar yang tercium justru semakin Eunbi rindukan meski lelaki itu berada tepat dihadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Husband [JJK Ver]
Fanfiction[Season 1-3] Dingin. Satu kata itu mampu mewakili seluruh sifat Jeon Jungkook. Sebesar apapun Eunbi mencintai lelaki tersebut. Itu semua tak akan merubah watak suaminya. #1 in Marriagecontract #02012021 #1 in JungkookFF #13032021 #1 in Fanfiction...
![My Cold Husband [JJK Ver]](https://img.wattpad.com/cover/89474888-64-k311117.jpg)