Bab 26

30.9K 2.9K 882
                                        

*versi cetak mengalami perubahan // belum direvisi*

Tuhan mampu mendatangkan cinta dengan lahirannya seseorang, tapi Tuhan juga tak segan mengambil cinta-Nya kembali melalui kematian.

Dan meskipun begitu banyak cinta yang Tuhan ambil, dunia tetap berputar seakan abai pada tangis dan jeritan hati.

Waktu yang terus berjalan selama dua bulan terakhir, hanya dimanfaatkan oleh Jungkook untuk berdiam diri menahan sakit. Menahan lukanya yang kian hari kian menganga. Sembari meniti penyesalannya yang jatuh berceceran di perjalanan hidup.

Ia tak sampai hati untuk meninggalkan masa lalu, tapi tetap berada dalam genangan masa itu hanya akan menenggelamkannya pada kesengsaraan. Menguburnya dalam lumpur penyesalan.

Ia menghirup udara pagi dengan hidungnya, memenuhi seluruh sekat paru-paru itu dengan oksigen yang teramat dingin dan lembab.

Musim dingin mulai terasa kedatangannya, dan ia semakin kesepian menjalani setiap detik yang berlalu.

Ia memejamkan mata pelan, merangkai imajinasi putus asa, menikmati bagaimana detik berlalu begitu pelan dan sangat lama.

Ketika bayangan itu sekilas menampar ingatan, hanya deru napas menggebu yang mampu ia keluarkan sebagai imbas betapa sesak dan tertekannya jiwa.

Ia terlalu mengabaikan hal-hal disekeliling, tak memperhatikan Eunjung dengan baik hingga Tuhan memilih memutuskan untuk merawatnya di surga sana.

Ia terlalu melibatkan emosi kala keputusan untuk mengakhiri rumah tangga menjadi prioritas utamanya. Dan sekarang semua benih yang ia tanam berbuahkan penyesalan.

...

Keremangan fajar itu semakin berwarna biru, dan ia lagi-lagi menunggu datangnya pagi di sini, seorang diri dengan kursi taman rumah sakit.

Tak memperdulikan udara yang akan membekukan tubuhnya, karena ia telah hidup mati rasa sejak hari itu. Hari di mana Tuhan seperti telah merenggut segalanya yang ia miliki. Mungkin hanya napas saja yang tersisa. Yang ia miliki sampai detik ini.

"Kau di sini lagi?"

Jungkook mendongak, melihat siapa yang baru saja menorehkan suara.

"Hm."

Dan dia tersenyum dengan wajah manisnya, disela itu, dia juga memberikan satu dari dua cup coffee dari genggaman tangan.

"Jika kau terus berada di sini, kau mungkin akan jatuh sakit Jung."

Jungkook tak terlalu mendengar perkataan itu, memilih mengenggam erat cup kecil tadi dengan kedua tangan. Mungkin mencari kehangatan yang sebentar lagi lenyap terbawa dinginnya udara pagi.

"Kau sudah menemuinya?"

Jungkook menggeleng pelan.

"Sampai kapan kau tak mau menemui Eunbi? Memilih duduk di sini sendiri dengan udara yang tidak cukup baik."

"Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Lagipula, apa penting sekarang aku menemuinya. Dia sudah memiliki penggantiku." Jungkook menyeruput coffee tadi pelan. Membiarkan rasanya menyebar di dalam mulut hingga mengalir hangat di tenggorokan. Dan rasanya sangat pahit.

"Eunseol-ah...."

Ya, dia Eunseol, gadis itu tak menoleh karena sedari tadi dia sudah duduk menghadap Jungkook.

"Hm...."

"Dulu, kenapa kau bisa tertarik padaku?"

Eunseol tiba-tiba menyirnakan senyumnya, membuang pandangannya ke arah lain. Arah di mana warna merah mulai bergradasi dengan birunya langit. Mungkin mentari sebentar lagi akan memperlihatkan diri dengan kehangatannya.

My Cold Husband [JJK Ver]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang