Bab 11

52.7K 5K 374
                                        

*versi cetak mengalami perubahan // belum direvisi*

"Eunbi! Kau membenciku tapi kenapa kau menciumku?"

Dan saat itu juga, langkah Eunbi terhenti, bukan hanya langkah, namun hidupnya juga terasa terhenti. Ia ingin berbalik, namun sesuatu yang dibawa angin tengah ia rasakan juga. Seperti gemeletuk langkah sepatu, tapi tak cukup kuat terdengar. Hanya samar.

Lalu, entah datang dari mana, Jungkook sudah tiba di depan Eunbi. Menatap gadis itu dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.

"Kenapa kau menciumku!"

"A-apa?"

"Kau menciumku! Apa kau berpura-pura tak ingat sekarang?"

Eunbi bahkan tak sadar, jika apa yang dilakukan Jungkook kali ini bisa mengurangi jumlah nyawanya. Jungkook merengkuh rahang kecil itu, memaksa wajah pucat Eunbi agar mendongak dengan kedua tangannya. Dan memposisikan wajah mereka sangat dekat.

Embusan nafas, bahkan aroma coklat caramel disekitar mulut Jungkook dapat tercium dengan jelas oleh Eunbi. Jarak mereka tak hanya dekat, namun sangat dekat. Bahkan saat lalat atau nyamuk melewati jarak tipis itu, mereka akan terjepit kedua bibir mereka.

Bibir yang awalnya mengatup mulai merenggang perlahan. Seakan memberi godaan yang berarti, Eunbi mulai terperangkap umpan Jungkook. Gadis itu menaikkan kedua  tangan, mencengkeram kaos polos Jungkook dengan takut-takut. Ia ingin terlepas, tapi tatapan mata Jungkook yang sedang menikmati bibirnya, membuat Eunbi hilang akal dan mati kutu.

Sekilas, ia bisa mendengar ringisan tipis Jungkook. Lelaki itu hanya mempermainkan, tak lebih dan sudah tabiatnya. Karena saat ini, Jungkook menarik lagi tangannya. Membiarkan tangan putih itu juga ikut terlepas dengan sendirinya. Dengan lunglai, dengan seiring larutnya harapan mengenaskan Eunbi.

Mereka saling diam, saling pandang dan saling merasakan getaran aneh yang tercipta sesaat tadi.

Ya, meski sesaat, getaran hebat itu serasa membelenggu tubuh mereka. Kemudian kesunyian menggandeng kecanggungan agar turut serta menyelimuti dua tubuh itu. Tanpa basa-basi, langsung menghantam mereka.

"Euh...."

"Eunbi!"

Dia pergi, benar-benar pergi meninggalkan Jungkook yang masih memakukan diri di lantai marmer tersebut. Tubuhnya berbalik, matanya memandang punggung Eunbi, dan mulutnya menyerukan nama indah itu. Tapi hatinya tertahan. Menahannya agar tetap tinggal, kembali pada keegoisan, tabiat asli, dan segala jenisnya. Bahwa Jungkook, memang terlahir seperti itu.

***


Lain halnya dengan Jungkook yang terlihat seperti orang terbodoh di dunia. Jimin menuruti nasehat sahabatnya —Kim Taehyung— untuk membicarakan masalah, guna menghapus segala kesalahpahaman dan melunakkan kepala batu Chaeyeon.

Lelaki itu sudah memutuskan untuk bicara empat mata pada Chaeyeon. Dan gadis itu menerimanya. Berbicara secara kepala dingin.

Ia memakai pakaian di luar nalar. Nalar untuk seorang model kelas Chaeyeon. Biasanya gadis itu mengenakan keglamouran, kini hanya ada pakaian simple yang enak di pandang. Make up tipis namun masih tetap menawan.

Gaya duduknya masih sama, terkesan angkuh meski wajahnya tak menunjukkan kebusukan itu. Sedang lelaki yang memang sudah tampan tanpa polesan apapun, tengah memandanginya sendu.

Pembicaraan belum dimulai. Mereka masih betah diam.

Jimin menyeruput segelas caramel mocca di cangkir kecil. Menyesap cairan itu dengan seksama. Kemudian meleguhkan napas.

My Cold Husband [JJK Ver]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang