23. Malam yang indah.

4K 425 20
                                        

Di dalam kelas 12 IPS 2. Banyak orang-orang yang membicarakan mengenai acara akhir tahun yang akan di adakan di sekolah. Selly dan teman-temannya hanya mendengarkan di bangkunya masing-masing.

Zidan mendekati adiknya dan merangkul pundak Selly. “Pas acara akhir tahun. Belanja sama gue ya.”

Selly tersenyum dan mengangguk. “Tapi kakak yang bayarin.”

Zidan memutar bola matanya malas. Sedangkan Selly sudah menahan tawanya agar tidak pecah. Nando mengepalkan tangannya sambil berdecih kecil. Tak sengaja mata Hanan bertemu dengan mata Nando yang menatap mereka jengah.

“Ekhemmm, kayaknya ada bau-bau cembukur tuh,” Sindir Hanan merangkul pundak Kania.

“Siapa Nan?” tanya Kania kepada pacarnya itu.

Hanan memonyongkan bibirnya ke arah Nando yang menatap mereka datar. “Noh orangnya.”

Selly dan teman-temannya menoleh ke arah Nando. Lantas Kania tertawa terbahak-bahak. Jadi ceritanya Nando cemburu kepada Zidan dan Selly. Karena tidak tahan ingin membongkarnya. Kania pun berkata. “Jangan cemburu kayak gitu juga kali Nando. Selly sama Zidan adek kakak, kok.”

Nando melotot karena kaget. “Serius?” tanyanya memastikan.

Selly tersenyum dan mengangguk. “Kita saudara, kok. Emmmm kamu cemburu?”

Nando mengerjap-ngerjapkan matanya. Apa benar Selly bertanya kepadanya. Meskipun itu semua benar, tapi Nando hanya menggelengkan kepalanya berbohong. “Gue nggak cemburu. Lagian ngapain gue cemburu sama lo.”

Senyum yang terukir manis dari bibir Selly akhirnya memudar setelah mendengar pernyataan pahit dari Nando. Mungkin Selly terlalu terbawa suasana.

“Ohh, ya udah. Hmm kak, aku mau beli minum dulu ya,” Izin Selly yang di angguki Zidan.

Setelah itu Selly berjalan ke luar kelas dengan muka masam. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah yang sunyi, tumben sekali para siswa-siswi tidak ada yang menongkrong sembarangan. Tapi Selly tidak memikirkan semua itu. Ia tetap berjalan menuju kantin.

Dari kejauhan Nando mengejarnya. Hingga sudah dekat dengan Selly. Ia segera menarik tangan Selly agar berhenti. Napas Nando terengah-engah. “Sell hehhh-hehhh!”

Selly menoleh. “Loh, Nando. Ngapain kamu ngikutin aku?”

“Gue mau minta maaf,” ucap Nando meraih tangan Selly dan menggenggamnya erat.

“Maaf? Maaf buat apa ya?” tanya Selly bingung dengan kehadiran Nando yang tiba-tiba ia meminta maaf.

“Buat yang tadi. Hmmm, gue kira lo sama Zidan udah jadian,” Nando menggaruk-garuk kepalanya bingung.

Selly hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu ia berjalan kembali meninggalkan Nando yang masih mematung. Setelah sadar Nando mengejar Selly kembali.

“Tunggu Sell!”

Selly menghentikan langkahnya dan menghampiri Nando. “Apa?”

Nando bernapas lega. Lalu ia menyuruh Selly agar duduk terlebih dahulu. “Bentar Sell, gue belum selesai ngomong, lo main tinggal-tinggalin aja.”

Selly menyengir kuda. “Terus mau apa?”

“Mau Lo!”

“Haa?” Selly bengong melihat Nando yang gelagapan.

“Ehhh, nggak. Ohhh iya, nanti malem lo sibuk nggak?” tanya Nando mengalihkan pembicaraan.

Selly nampak berpikir sejenak. Kemudian ia menggeleng. “Nggak kok, paling cuma nonton, habis itu tidur.”

Lorong Kematian [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang