Mbah Matora dan Selly menoleh ke belakang. Ternyata Najib juga ingin ikut untuk mengambil liontin itu. Selly mendekati Najib lalu menganggukkan kepalanya.
“Boleh kok, malahan kalau banyak yang bantu. Aku jadi mudah buat ngambilnya. Ohh iya—”
“Sel!”
Ucapan Selly terpotong saat seseorang memanggil namanya. Dan ternyata itu adalah Nando. Ia baru saja sadar dari tidur panjangnya. Nando menatap Selly lalu memperhatikan sekitarnya.
“Dimana ini?”
“Kita lagi di rumah Mbah Matora. Ohh iya kemarin kamu pingsan lama, untung aja ada Najib yang bantuin. Coba kalau nggak? Mungkin kamu udah mati sejak hari itu,” ucap Selly duduk di sebelahnya.
Nando mengangguk dan mencoba bangkit dari tidurnya. “Kapan kita akan ke Gua Atra?” tanya Nando tiba-tiba.
“Nunggu kamu sembuh aja. Mungkin besok atau mungkin besoknya lagi,” jawab Selly santai.
Mbah Matora hanya bisa tersenyum kecil. Lalu ia pergi meninggalkan mereka ke arah dapur. Nando memegangi tangan Selly erat, rumah Mbah Matora sangat dingin. Sangat cocok disebut dengan kutub.
“Selama gue pingsan. Lo ngapain aja Sell?”
Selly menoleh. “Aku nggak ngapa-ngapain selain megangin tangan kamu. Terus makan, minum dan nggak tau lagi.”
Nando mengacak rambutnya gemas. “Lo lucu Sell. Tapi lebih lucu kalau lo istirahat dulu, gue lihat lo kurang tidur. Kenapa hmmm?”
“Aku nggak bisa tidur karena mikirin kamu Nan, tapi sekarang aku akan tidur, dengan satu syarat. Kamu harus tidur bersama aku disini.” Pinta Selly yang di angguki Nando.
Selly membaringkan tubuhnya di paha Nando. Tangan Nando kini mengelus-elus rambut Selly yang kusut. Nando yakin kalau Selly tidak menyisir beberapa hari ini. Dari belakang Najib memperhatikan mereka dalam diam. Setelah itu ia melanjutkan tidurnya.
Mbah Matora yang awalnya ingin memberikan semangkuk bubur untuk Selly pun ia urungkan, saat melihat Nando mengusap-usap kepalanya penuh kasih sayang. Tanpa sadar senyuman manis pun terbit di bibir Mbah Matora.
Dasar anak muda jaman sekarang. Ehh tapi kenapa saya jadi ingat masa-masa muda seperti mereka?
*****
Pagi harinya pun telah tiba. Selly, Nando, Mbah Matora dan Najib sudah siap dengan barang-barangnya. Mereka akan pergi ke Gua Atra hari ini, mungkin perjalan mereka akan sampai malam sehingga Mbah Matora membawa tenda dan perlengkapan yang dibutuhkan.
Berhubung Nando sudah sembuh. Itu artinya Nando tidak akan merepotkan mereka sedikitpun. Mula-mula mereka berjalan beriringan. Namun setelah ia sampai ke danau. Mereka harus melewati danau itu menggunakan perahu.
“Indah banget. Tapi serem,” gumam Selly pelan.
Nando terkekeh geli melihat Selly yang bergidik ngeri. Kemudian ia menarik tangan Selly agar mendekat ke arahnya.
“Ayo semuanya dayung yang kenceng. Biar kita nggak sampai malem nyampe sananya.” Instruksi Mbah Matora yang di angguki Najib dan Nando.
Selly hanya bisa diam di belakang sambil memegangi ujung baju yang dikenakan Nando. Selang beberapa menit mereka pun selesai mendayung. Selly ingat kalau danau ini pernah ia injak, dan danau ini pula yang memisahkannya dengan teman-temannya.
“Zidan belum ketemu?” tanya Nando berhati-hati.
Selly menggelengkan kepalanya. “Kak Fita, kak Zidan sama Hanan belum juga ketemu. Aku juga bingung mereka tinggal dimana, tapi aku yakin kalau mereka masih hidup.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Lorong Kematian [TERBIT]
Horror[FOLLOW TERLEBIH DAHULU!] Sekolah SMA GARDENIA. terkenal dengan sekolah angker, karena terdapat lorong yang panjang di ujung toilet perempuan, sekolah yang dulunya ramai dengan siswa-siswi, sekarang lenyap bagaikan sekolah tak berpenghuni. Banyak or...
![Lorong Kematian [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/250540508-64-k344223.jpg)