Alam gaib. Alam yang tidak bisa dilihat oleh siapapun, tempat yang paling dibenci oleh Selly. Karena alam disana sangat berbeda jauh dengan alam yang lain. Kesunyian, ketakutan, selalu menyelimuti Selly setiap detiknya. Tidak ada siang, tidak ada malam, itulah yang dirasakan Selly sekarang. Di pohon yang rindang Selly bernyanyi pelan, namun suaranya sangat terdengar merdu oleh kaum gaib yang berada disana.
Dari kejauhan Panji dapat melihat sahabat kecilnya yang bersedih. Ia tahu karena tatapan Selly yang memilukan, sebuah lagu yang dibawakannya pun membuat Panji termenung.
Ku ingin pulang ... Bersama orang tuaku .... Sunyi nya dunia ... Bagai tak berguna ....
Tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi mulusnya. Panji yang melihat itupun merasa tidak tega, kemudian Panji duduk di sebelah Selly sambil berkata. “Jangan nangis Sell, lo pasti bisa bangun dari koma. Gue selalu do'ain buat kesembuhan lo. Dan gue berdo'a semoga gue bisa pulang ke sisi Tuhan, tapi—”
“Aku berjanji Pan, kalo aku udah bangun. Aku akan bebasin kamu dari jeratan alam gaib ini, dan kamu akan kembali ke sisi sang pencipta. Namun, aku tidak tahu kapan,” Selly mengusap air matanya. Kemudian seulas senyuman pun terbit dari bibirnya.
Panji tersenyum getir. Mungkin itu semua terdengar mustahil, namun bagi Panji, Selly pasti bisa melaluinya dengan caranya sendiri. Dari kejauhan Mawar mendengarkan mereka dari belakang. Ia ikut tersenyum mendengarkan jawaban Selly, yang ingin membantu para ruh untuk pulang ke Rahmatullah.
“Aku tahu kamu orangnya Sell, karena kamu adalah keturunan Oppa Garden. Leluhur Gardenia,” gumam Mawar meninggalkan Panji dan Selly di kebun bunga tersebut.
Selly melirik ke arah Panji yang tengah menatap ke depan dengan tatapan kosong. Ia menepuk pundaknya agar tersadar, Selly menaikan satu alisnya, kenapa Panji selalu saja melamun akhir-akhir ini.
“Panji. Apa aku bisa kembali ke alam aku?” tanya Selly ragu-ragu.
Panji menengok dan mengangguk. “Lo bisa melihat mereka, tapi mereka nggak bisa lihat lo, hanya orang tertentu yang bisa melihat ruh. Lo mau lihat diri lo sekarang yang lagi terbaring lemah di rumah sakit?”
Selly mengangguk bersemangat. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng. “Aku tidak tega lihat Mamah dan Papah bersedih,” Selly menundukkan kepalanya tanpa melirik ke arah Panji.
Dengan perlahan Panji mendongakkan kepalanya. Kemudian Panji menuntun Selly agar ikut dengannya. “Percaya sama gue Sell, lo pasti bisa lalui ini sendiri. Lo ingat apa ucapan lo saat kecil. SELLY KUAT, PANJI LEMAH KAYAK BEBEK!” teriaknya diiringi dengan tawanya.
Selly mencubit perut Panji. “Itu kan waktu aku kecil, sekarang beda lagi lah!”
“Sama aja, mau gede, atau pun kecil. Lo tetep kuat Sell,” Panji mengacak rambut Selly dan menyuruhnya memejamkan matanya.
***
Monica mengepalkan tangannya. Ia menepuk-nepuk kepalanya frustasi, ia menatap Selly sambil berlinang air mata, Cleo hanya menatap Monica dalam diam. Entah kenapa ia enggan untuk menghapus air matanya. Gadis yang dia bilang gadis kuat, sekarang harus terbaring lemas di atas brankar rumah sakit. Sudah 2 minggu berlalu, namun Selly tak kunjung membuka matanya. Ya, gadis yang Monica kenal kuat itu adalah anaknya sendiri. Claudya Selly Monica.
“Kenapa kamu nggak bangun-bangun Sell, lihat Fita. Dia sudah sembuh seperti biasanya, tapi kenapa kamu belum bangun juga Sell. Mamah menyesal karena telah meninggalkan kamu demi pekerjaan Mamah!” teriak Monica sambil menangis histeris.
Cleo mengusap pundak Monica. “Berdo'a terus Mon, Selly pasti bangun. Kamu sabar aja, Tuhan udah ngatur semuanya.”
Monica mengangguk lemas. Tanpa mereka sadari Selly bisa melihat mereka yang sedang merindukan dirinya, Panji mendekati raga Selly dan mengelus-elus kepalanya. Kemudian ia menembus dinding dan duduk di meja dokter yang sedang memberi obat kepada Selly.
“Sell, kamu ngerasa sakit nggak sih?” tanya Panji menatap Selly yang diberikan suntikan oleh suster disana.
Selly memutar bola matanya malas. Mana bisa ia merasa sakit, kalau dirinya saja tidak sadarkan diri, memang Panji yang bodoh. “Kamu tuh gimana sih, mana bisa aku ngerasa sakit. Kan aku nggak sadar hmmm.”
Panji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Pintar juga yah lo, padahal udah 2 minggu nggak makan,” ucap Panji ngawur.
Selang beberapa menit, teman-temannya Selly masuk ke ruang inap Selly. Mereka membawa buah-buahan serta bunga untuk Selly. Nando pun ikut bersama dengan Nanda, Selly melihat Nanda yang mendekati tubuh Selly yang terbaring di ranjang.
“Kak Sell kapan bangun, ayo main lagi sama Nanda sama kak Ando. Kak Ando kangen banget loh sama kak Selly, makanya bangun kak, biar kita bisa buat kue lagi kayak kemarin-kemarin,” Nanda mengguncang-guncangkan lengan Selly agar tersadar.
Tanpa disuruh Selly mendekati Nanda, Selly mencoba meraih tangan Nanda, namun tangannya tidak bisa ia genggam sama sekali. Karena lelah, Selly hanya diam menatapi Nanda yang berbicara dengan raga Selly dalam diam.
“SEllY!” teriak Zidan reflek.
Selly terkejut dengan teriakan itu, ia lupa kalau temanya ini memang bisa melihat orang yang tidak bisa orang lain lihat. Setelah sadar Zidan menjadi pusat perhatian orang-orang, ia pun berdehem pelan.
“Maaf, tadi saya melamun,” Zidan menggaruk kepalanya malu.
Panji menarik tangan Selly menuju toilet, Zidan mengikutinya dari belakang karena ingin berbicara dengannya, setelah sampai di toilet. Ternyata banyak ruh yang sedang menangis, tertawa dan yang lain. Panji menggelengkan kepalanya dan melayang ke arah taman.
“Kayaknya disini aman,” gumam Panji melepaskan genggamannya.
Zidan mengejarnya. “Sell tunggu!”
Setelah sampai di taman, Zidan mengatur napasnya perlahan. Tangannya kini menyuruh Selly agar tetap disana, Selly yang tau akan hal itu mengangguk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan disana.
“Sell, kenapa kamu baru dateng sekarang?” tanya Zidan duduk di sebelah Selly.
“Aku baru tahu kalau ruh seperti aku juga bisa kesini, Panji yang ngajak aku kesini,” Selly melirik ke arah Panji yang sedang mengupil.
Zidan mengangguk. “Thank you udah bawa Selly kesini.”
Panji mengacungkan jempolnya. Kemudian tatapannya beralih pada ruh-ruh yang berkeliaran di daerah taman, Panji menghela nafasnya perlahan. “Coba aja kalau gue masih hidup. Gue pengen deh beli tuh es doger,” ucapnya ngelantur.
Zidan dan Selly mengalihkan pandangannya. “Dan tolong bilangin sama keluarga aku, jangan terus bersedih mikirin aku. Karena mau bagaimana pun aku nggak bisa bangun dengan waktu yang sangat singkat. Mungkin aku akan lama menjalani koma, tolong sampaikan itu ke keluarga aku Dan.”
Zidan mengangguk. “Lo harus bangun Sell, semenjak lo nggak ada, banyak siswa-siswi yang kena korban di lorong kematian itu, gue juga dapat kabar dari Mawar. Katanya hanya lo yang bisa menghentikan pesugihan itu.”
Selly menghela nafas panjang, dia sudah tahu sejak dirinya di alam gaib. Mawar sering menceritakan ini-itu tentang sekolah Gardenia.
“Aku nggak bisa bantuin untuk sekarang. Tapi aku janji akan bantu mereka saat aku bangun nanti, tolong jaga keluarga aku dan juga kak Fita. Aku pergi dulu Dan,” Selly menarik lengan Panji agar membawanya ke alam gaib seperti semula.
Dan saat itulah Zidan pergi dari taman dengan hati gusar. Apakah akan ada korban lagi setelah ini. “Gue berharap lo cepet bangun Sell, gue akan bantu untuk kesembuhan lo secepatnya!”
_______Lorong kematian_______
KAMU SEDANG MEMBACA
Lorong Kematian [TERBIT]
Korku[FOLLOW TERLEBIH DAHULU!] Sekolah SMA GARDENIA. terkenal dengan sekolah angker, karena terdapat lorong yang panjang di ujung toilet perempuan, sekolah yang dulunya ramai dengan siswa-siswi, sekarang lenyap bagaikan sekolah tak berpenghuni. Banyak or...
![Lorong Kematian [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/250540508-64-k344223.jpg)