33. Tersesat di hutan terlarang.

3.4K 367 19
                                        

Zidan mengatur napasnya perlahan. Ia mendongak ke belakang. Ternyata singa itu sudah tidak ada lagi, namun yang membuatnya heran. Kemana perginya Nando dan Selly?

“DAN! TUNGGUIN GUE!” teriak Hanan menghampiri Zidan dan Fita.

Zidan menurunkan Fita dari gendongannya. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Selly dan Nando. Namun sepertinya tidak ada tanda-tanda kemunculan mereka berdua dari barat, selatan, utara, bahkan timur sekalipun.

“Apa jangan-jangan Selly sama Nando ketinggalan lagi. Atau mungkin mereka udah duluan, tapi kan petanya ada di kita,” ucap Fita mulai panik.

Zidan mengambil peta tersebut dari saku celananya. Namun setelah di cek, ternyata peta itu hilang. Zidan membuka tas ranselnya, tetap sama. Peta itu tidak ada di manapun. “Petanya hilang!”

“APA!” teriak Hanan dan Fita berbarengan.

“Ahhh pasti petanya jatoh!” Geram Zidan menendang pohon yang berada di hadapannya.

“Kalau petanya hilang. Terus kita gimana mau ke Gua Atra nya? Mana gue kagak tau lagi hutan ini jalan arah mana,” kata Fita menunduk lesu. Ditambah tubuhnya masih lemas untuk bergerak.

Hanan berjalan ke arah Zidan. “Mending sekarang kita cari Selly sama Nando dulu. Nggak mungkin kan, kita nyari peta itu sekarang. Mana kita harus balik lagi ke sana. Lo mau kita mati karena serigala itu.”

Zidan berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk menyetujui ucapan Hanan. Mereka mencari Nando dan Selly ke arah barat terlebih dahulu.

Fita dan Zidan berjalan beriringan. Sedangkan Hanan berjalan di belakang, saat dirinya lengah. Tiba-tiba Hanan merasa ada yang menariknya.

“Aaa ....”

Zidan yang kaget pun langsung membalikan badannya. Begitupun dengan Fita. Ia membulatkan matanya saat melihat Hanan hampir jatuh ke jurang.

“Nan, pegang tangan gue!” teriak Zidan mencoba meraih tangan Hanan.

Fita menjerit-jerit meminta pertolongan. Tetapi disana tidak ada orang yang lewat. Bahkan hampir di hutan itu tidak ada orang satupun. Seketika Fita merasakan pusing. Ia melihat Zidan yang berusaha membantu Hanan.

“Dan ... gue mau pusing!”

Bugh.

Fita tumbang di saat Zidan tengah menolong Hanan. Refleks ia melepaskan tangan Hanan dan berlari ke arah Fita yang terkapar lemas di tanah.

“Dan. Tolongin gue!” teriak Hanan sudah tidak kuat.

“Nan tahan. Gue angkat Fita ke atas dulu!” teriak Zidan bimbang ingin membantu yang mana dulu.

Saat Zidan sampai ke atas. Ia pun turun ke bawah untuk membantu Hanan, namun Zidan terlambat. Hanan sudah tidak tahan menahan akar-akar tumbuhan yang menjadi pegangannya. Baru saja Zidan berjalan tiga langkah, tiba-tiba...

“AAAA!!”

Deg.

Zidan melihat jelas kalau Hanan jatuh ke jurang yang sangat tinggi. “HANAN!”

Zidan menggelengkan kepalanya. Hanan telah jatuh dan dirinya kini sangat-sangat merasa bersalah karena telat membantu sahabatnya. Zidan berteriak-teriak meminta bantuan, namun semua itu percuma. Tidak ada satu orangpun disana.

Zidan menatap jurang yang berada di hadapannya lama. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja, ia berjalan ke atas untuk menemani Fita yang pingsan.

Gue harus cari bantuan, tapi sama siapa?

****

Selly dan Nando saling pandang. Sekarang mereka bingung harus kemana, jalanan disana sungguh memusingkannya. Terhitung sudah lima kali mereka berjalan, namun hasilnya tetap sama. Mereka kembali lagi ke hutan yang sama. Dan itu artinya mereka hanya mengelilingi hutan itu.

Lorong Kematian [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang