32.Pesan Misterius

106 36 432
                                        

Eyyo wasupp gengss!! Maaf saya telat update.

Masih jadi beban keluarga hari ini?

Kalau saya sudah pasti MASIH

Happy reading

WARNING TYPO!!

*****

Kring kring kring

Bel pertanda upacara akan segera dimulai telah berbunyi. Kini Cinta bersama dengan teman sekelasnya sudah stay di lapangan upacara. Cuaca yang sangat terik membuat semua murid mengeluh terutama kaum hawa.

"Panas nya asoyy banget njir,"celetuk Karin seraya mengipas--ngipaskan tangannya.

"Bisa gosong gue nih."

Cinta mendelik kesal kepada Karin. Sudah puluhan kali perempuan itu mengeluh yang inilah yang itulah membuat telinganya menjadi panas.

"Lu ngeluh sekali lagi gue tarik ke depan lapangan Rin!" ancam Cinta.

"Jangan sialan, malu gue."

"Makanya jangan ngeluh!"

"Ya gimana gak ngel---"

"Itu yang dua perempuan mau ikut kontes gosip apa mau upacara?"

Suara microphone yang mengintrupsi membuat Cinta dan Karin saling tatap. Kini mereka berdua menjadi perhatian seluruh peserta upacara. Cinta yang menundukkan wajahnya karena malu lain lagi dengan Karin yang malah cengengesan tidak jelas.

"Karin sialan emang,"gumam Cinta.

Kegiatan upacara berjalan dengan tenang. Teriknya matahari membuat semua orang mengeluh bahkan ada yang pura-pura pingsan demi keluar dari acara yang sangat membosankan ini. Cinta sedari tadi fokus melihat ke barisan kelas Darren. Pria dengan topi yang ada di atas kepalanya itu berhasil membuat Cinta mesem-mesem tidak jelas.

Darren sangat gagah memimpin barisan kelasnya berada di barisan paling depan. Wajahnya yang serius dan menunjukkan aura ketegasan membuat beberapa siswi terutama anak kelas 10 terang-terangan memujinya. Telinga Cinta seketika panas mendengar para adik kelasnya memuji ketampanan Darren.

"Kak Darren udah punya pacar tapi gue mau rebut dia dari pacarnya."

Mata Cinta melotot ke seorang adik kelas yang mengatakan hal itu. Apa adik kelasnya ini tidak melihat Cinta selaku kekasih dari Darren di samping nya? Berani sekali adik kelasnya ini berbicara seperti itu.

"Mulut bocah minta di sumpel," gumam Cinta. Matanya masih mengawasi gerak-gerik adik kelas yang ada di samping. Dari gayanya yang seperti cabe-cabean pasar membuat Cinta semakin kesal.

Kepala sekolah yang sedang menyampaikan amanat di tengah lapangan tidak mampu menarik perhatian sebagian siswa. Kebanyakan dari mereka sudah ogah-ogahan untuk berdiri. Cinta kini sedang memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia baru ingat jika pagi tadi ia belum mengisi perutnya dengan apapun alhasil jadi seperti ini.

Cinta memijit pelipisnya. Keringat mulai turun dari sana. Kepala Cinta rasanya seperti diputar-putar mungkin ini efek dari perutnya yang kosong belum terisi makanan apapun. Kaki Cinta mulai lemas tidak dapat menopang berat badannya sendiri.

CINTA (hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang