Marriott Champ Elysees – Paris || 9.30 pm
"Itu Eiffel?"
Ellard menoleh pada Nathan yang menunjuk ke luar jendela balkon kamar hotel mereka di Marriott Champ Elysees. Di kejauhan terlihat menara bercahaya yang berisi lampu sorot seperti marcusuar.
"Iya itu Eiffel, Son"
"Woah... it's wonderful, Dad!" mata Nathan berbinar ceria "Nathan mau kesana, Papa" serunya sembari mengguncang-guncang lengan Ellard yang tengah menggendong tubuh kecilnya.
"Sure, Boy. Besok kita akan pergi berkeliling disana," jawab Ellard, mengecup puncak kepala Nathan
"Yayy... Horrayyy, I can't wait, Papa" Nathan bersorak riang
"Nala dan kak Cla juga mau main ke Disneyland, Papa" timpal Nala, yang kini tengah berbaring tengkurap di atas kasur bersama dengan Clara sambil membolak-balik majalah Disneyland. Sedang buku itu berada di pangkuan Ara.
"Kalian harus memilih yang mana dulu. Tidak cukup sehari untuk menjelajahi keduanya." Ucap Ara
Disuruh memilih, sontak ketiga bocah kecil itu saling melempar pandangan sejenak sebelum...
"Yaudah kalau gitu, besok Papa dengan Nathan aja ke Eiffel. Biar Cla dan Nala ke Disneyland sama Mama," celetuk Clara
"Iya, setujuh," sahut Nala manggut-manggut
"Iih, mana boleh begitu. Ini kan liburan kita bersama. Enggak boleh ada yang pisah-pisah" tolak Ellard
"Tapi, kan Pa..."
"Kurasa Eiffel bisa menunggu lusa." Nathan menyelah kalimat Clara lebih dulu
"Yakin Nathan mau pergi lusa?" tanya Ellard dengan mata terpicing
Nathan menggigit bibir lalu menatapnya "Iya, Pa. Nathan juga pengen main ke Disneyland"
Ellard tersenyum simpul, "Baiklah, kalau itu sudah maunya Nathan. Masalah selesai. Sekarang waktunya tidur," saran Ellard sambil membawa tubuh Nathan ke kasur
Seperti malam-malam sebelumnya, mereka berlima dalam liburan kali ini pun tidur bersama. Ellard memesan kamar VVIP dengan kasur yang luas, cukup untuk memuat tubuh mereka berlima— mereka berjejer saling berdempetan dengan tubuh Ara dan Ellard kembali dipisahkan oleh tubuh ketiga anak-anak mereka. Nala mengusap-usap punggung Nala dan Clara, sementara Ellard menepuk-nepuk bokong putranya, berharap agar mereka segera terlelap damai.
Tidak lama kemudian, mata Ara pun ikut terpejam, terlelap dengan tangan yang masih mengusap-usap lembut punggung anaknya. Memperhatikan dalam diam, Ellard hanya dibuat sekali lagi kagum pada sosoknya. Sepanjang persiapan liburan mke Paris, dengan penuh kesabaran dan cekatan istrinya ini sangat telaten mengurus serta menyiapkan segala keperluan mereka selama menikmati liburan akhir tahun ditempat ini. Padahal ia sudah memberikan pelayan pada Ara untuk mengurus semuanya, tapi dengan tegas wanitanya ini menolak bantuan para pelayan tersebut. Ia lebih memilih merepotkan diri dalam mengurus segala keperluan mereka tanpa adanya campur tangan pelayan.
Perlahan, Ellard bangkit dari kasur. Menempatkan bantal dan guling di sebelah Nathan, lantas memutari ranjang.
Ara bergerak terganggu, dan langsung terkesiap ketika seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, dengan tangan yang melingkar erat di perutnya.
"El...?"
"Aku ingin tidur sambil memelukmu seperti ini." wajahnya dibenamkan pada ceruk leher Ara, kakinya menindih kaki Ara.
Ara mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya, dan dengan hati-hati berganti posisi—menghadapnya. "Astaga, kamu mengangetkanku," Ara balas mendekap tubuh Ellard.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintaimu itu Sakit
Romansa(Sudah END & dalam proses revisi) Mempunyai bobot tubuh yang overweight membuat Aurora sering mengalami perundungan dimanapun dia berada. Hal ini juga kerap kali membuatnya tidak percaya diri. Gadis manja, doyan makan tapi tidak tahu memasak itu j...
