Sehari setelah Ellard membawa kembali Ara dan anak-anaknya pulang, tepatnya di minggu sore ini— Ara bersikeras ingin bertemu dengan keluarganya. Keluarga yang telah ia tinggalkan empat tahun lalu begitu saja tanpa pernah pamit maupun memberikan kabar setelah bertahun-tahun.
Selama empat tahun Ara dibayangi oleh rasa bersalah yang teramat besar pada keluarganya. Ia bak putri yang durhaka karna tidak pernah memberi kabar pada kedua orangtuanya. Ara sangat menyadari ia telah berdosa besar, tapi kepergian yang dilakukannya tiba-tiba juga bukan tanpa alasan. Ia hanya memilih mengalah— merelakan kebahagiaannya dan tidak ingin membiarkan anak dalam kandungannya mengetahui seberapa berantakannya kehidupan rumah tangga orangtua mereka.
Kegelisahan kian menghantui seiring kakinya kian mendekati ruang makan. Mereka hanya kurang beberapa langkah, percakapan antara Haris, Andin dan Alex juga sudah terdengar sayup-sayup. Ara menghentikan langkah, keberaniannya menguap. Ara meremas gaunnya— dalam hati terus bertanya-tanya, Bagaimana reaksi keluarganya nanti jika melihatnya tiba-tiba berada disini? Apakah mereka akan membencinya karna telah pergi begitu saja tanpa kabar? Apakah ia akan dimaafkan?
Ellard ikut berhenti di depannya— membalik tubuh.
"El... sebaiknya aku tidak—"
"Ayo,"
"Nala jalan duluan sama kak Nathan dan Clara saja ya?" potong Ellard, tidak mempedulikan ucapan Ara. Lelaki itu tidak berbicara apapun selain menurunkan Nala dari gendongannya dan membiarkan ketiga buah hatinya melangkah lebih dulu. Ellard merangkul pinggang Ara dan menghelanya masuk.
Jantung Ara memompa keras, terlebih ketika pembicaraan yang sempat Ara dengar menghilang. Ruangan itu mendadak sunyi. Kini pandangan semua orang sudah terarah padanya. Ia begitu takut sekarang dan hanya berani menatap lantai— belum siap melihat tatapan kebencian dari Ayah dan Ibunya. Namun...
PRANG
Gelas yang tengah dipegang oleh Andin jatuh begitu saja tak kala matanya bersibobrok dengan putri yang selama ini sangat dirindukannya setengah mati. Wajah Andin tampak begitu pias, shock... dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Ya, Tuhan... Nak, itu benar-benar kamu?" serak Andin seraya membekap mulutnya tidak percaya.
Ara mengangkat wajah. Wanita parubaya yang terlihat masih muda itu bangkit dari duduknya— menangis, Andin berjalan tergesah memutari meja makan ke arahnya. Sementara Haris dan Alex, pun tampak berdiri dari duduknya, menatap Ara dengan ekspresi serupa.
Andin merabah wajah Ara dengan tangan bergetar dan wajah yang sudah sipenuhi air mata.
"Ini... benar kamu kan, Sayang? Aurora putri Mommy? Katakan, kalo Mommy tidak sedang berhalusinasi sekarang??" tercekat, nada suara Andin kian menyerak
Ara menggeleng berulang kali, ia pun turut menangis terseduh. Ara menggenggam tangan Andin dan menciumnya berkali-kali. "Enggak, Mom. Ini beneran Aurora, putri Mommy. Maafkan Ara, Mom... maaf..." Ara menundukkan kepala dan terisak hebat.
Tidak tahan, Andin langsung memeluk kuat putrinya. Keduanya berpelukan diiringi dengan isakan kecil dari keduanya. Andin juga menciumi puncak kepala Ara berulang kali.
"Tidak, Nak. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah. Justru semua ini adalah kesalahan Mommy yang tidak pernah tahu seberapa banyak penderitaan yang kamu alami selama ini. Mommy sudah gagal menjadi orangtua, Nak.."
Dalam pelukannya, Ara menggeleng kuat. "Enggak. Mommy tidak pernah gagal. Justru berkat mengingat semua nasihat Mommy, aku bisa kuat dan bertahan. Tolong, jangan berkata begitu,"
"Nak..."
Sapaan lembut itu membuat Ara menghentikan suara tangisnya seketika. Ia mengurai pelukan mereka, menoleh— tak jauh dari hadapannya Haris berdiri dengan kedua netra yang sudah berkaca-kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintaimu itu Sakit
Romansa(Sudah END & dalam proses revisi) Mempunyai bobot tubuh yang overweight membuat Aurora sering mengalami perundungan dimanapun dia berada. Hal ini juga kerap kali membuatnya tidak percaya diri. Gadis manja, doyan makan tapi tidak tahu memasak itu j...
