34

439 16 1
                                        

Mobil hitam Ellard berhenti tepat diluar pekarangan Gereja vatikan Roma. Dia baru saja tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama 13 jam dengan jet pribadi miliknya, sedang 6 jam selanjutnya disambung berkendara dengan mobil untuk memasuki daerah pelosok ini. Begitu membaca data laporan mengenai hasil pemeriksaan kandungan Aurora, jantungnya semakin memacu kencang tak kalah mendapati hasil yang menyatakan dengan jelas disana bahwa Ara pada saat itu memang tengah positif hamil lima minggu. Hell, jadi selama empat tahun ini dia telah ditipu oleh wanitanya sendiri.

Perlahan, langkah kaki panjangnya melangkah mendekati area Gereja sambil matanya menatap kesekeliling taman. Sekalipun kecil dan terlihat sederhana, namun sangat indah karna ditata rapih sedemikian rupa. Jadi, disinilah anak dan istrinya tinggal selama ini? jauh dari segala fasilitas mewah yang selama ini ia berikan. Bagaimana bisa anaknya dapat tumbuh dan bertahan ditempat seperti ini? ya, sekalipun tidak menampik bahwa tempat ini cukup memberi ketenangan dan hawa udara disini juga masih jauh lebih segar dibandingkan area perkotaan. Tapi tetap saja, anaknya harus menikmati fasilitas yang jauh lebih baik dari ini. Bersama dengan anaknya yang lain. Clara.

Tanpa Ellard sadari ditengah lamunannya, tiba-tiba pintu Gereja terbuka. Dan dari sana beberapa anak berlarian dengan girangnya. Mereka baru selesai latihan. Namun beberapa diantara anak yang keluar dengan riangnya itu, terdapat seorang gadis kecil yang tengah menangis sambil mengucek-gucek matanya. Tangisannya semakin keras, sedang anak lelaki disampingnya berusaha terus menenangkan dengan mengelus-elus rambutnya.

"Aku mau mama. Pokoknya antar aku sama mama, Athan!" rengek Nala dengan mata berairnya

"No, Nala. Mama lagi belanja ke kota. Sebentar lagi pasti pulang. Bagaimana kalau kita beli es krim?" bujuk Nathan, berharap kali ini berhasil melunakkan kembarannya yang sedikit keras kepala ini.

"Pokoknya Nala mau sama Mama. Titik!" teriak Nala dengan mengentakkan kuat tangan Nathan hingga elusannya terlepas. Gadis itu segera berlari kencang menjauhi kembarannya.

"Nala! Tunggu! Jangan lari...," teriak Natahan seraya berusaha mengejar.

Nala tidak mempedulikan teriakan kakaknya. Dia terus berlari lurus ke depan hingga...

Bukkk

Nala jatuh tersungkur ditanah karna menabarak sesuatu. Cukup keras, hingga membuat tangisnya semakin kencang. Ia menangis dengan kepala tertunduk— memperhatikan kedua lututnya yang kini berdarah.

Dari jauh Nathan membulatkan matanya. "Nala!!" teriaknya dan langsung bersimpuh begitu sampai dihadapan adiknya.

"Are you ok?" tanya Nathan begitu cemas

"It's hurt brotha," isak Nala sesenggukan

"Let me see..." Nathan menunduk, memperhatikan darah yang mengalir dari lutut adiknya kemudian meniupnya lembut.

Sementara Ellard yang menyaksikannya tampak bergeming. Kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Tadi dia tengah melamun dan baru tersadar ketika bocah kecil yang tak jauh dari hadapannya menabraknya. Dia yang ditabrak sama sekali tidak bergeser sedikit pun, melainkan gadis kecil tadi yang terpental. Ellard menepuk kakinya keras agar tidak kakuh untuk digerakkan. Dan berhasil. Ia melangkah mendekati kedua bocah itu. Menunduk dan turut mensejajarkan tinggi dengan keduanya yang masih fokus dengan luka tersebut.

"Apakah sangat sakit?" Ellard bersuara, sarat akan kecemasan "Maafkan aku yang tidak memperhatikan..."

Disaat itulah kedua bocah itu menoleh ke arah Ellard, menatap dirinya dengan mata yang mengerjap. Bahkan dalam seketika gadis kecil itu sudah berhenti menangis. Nala dan Nathan membulatkan kedua matanya, seakan mereka baru saja menemukan hal yang ditunggu-tunggu. Keduanya bahkan kompak berdiri dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan kemana pun kecuali ke arahnya.

Mencintaimu itu SakitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang