36

447 8 0
                                        

Pintu nyaris tertutup beberapa senti lagi, dan dengan cepat Ara segera menahannya menggunakan kaki dan tangannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang kian menipis akibat berlarian menerobos kerumunan orang dan jalanan yang macet panjang. Wajahnya begitu pias dan sekujur tubuh telah dibanjiri oleh keringat. Ia masih merasakan kengerian yang hebat, bagaimana jantungnya seperti ditarik paksa keluar dari tubuh ketika pesan terakhir dari Ellard dibacanya. Dipisahkan dengan kedua buah hatinya, ia tidak bisa lagi mendefinisikan sakit seperti apa yang kini tengah mengobrak-abrik hatinya. Wajahnya memerah, netranya sudah basah oleh jejak air mata.

"Astaga.. nyonya..." Blake terkesiap, karna posisinya yang saat itu berada tepat didekat pintu

"Dimana-anak-anakku?" tanya Ara, tidak menghiraukan raut terkejut Blake. Ngos-ngosan— netranya menyapu kesekeliling ruangan.

"Mama!!" Nala yang lebih dulu menyadari keberadaannya dimuka pintu. Gadis kecil itu berteriak senang dan langsung beranjak dari kursi— berlari menujuh Ara

Ara merentangkan tangan dan langsung mendekap kuat tubuh putrinya. Ia menangis sambil menciumi seluruh wajah Nala.

"Mama, you come!!" ucap Nathan dengan mata berbinar, yang kini telah berada tepat didepannya.

Ara berjongkok dengan Nala yang masih dalam gendongannya. Dengan penuh kasih sayang, ia membelai wajah putranya "Maaf sayang... Mama terlambat"

"It's ok, Mom.." balas Nathan seraya memeluk leher Ara

Sementara tak jauh dari mereka, Ellard memandang dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Tadinya ia sudah sangat terpukul dengan ketidakmunculan Ara, namun siapa sangka didetik yang tak diduga-duga wanita itu muncul dengan kepanikannya yang luar biasa.

Ellard mendekat, berdiri dengan sebelah tangan yang terulur kehadapan Ara "So, I own you now?" ucap Ellard dengan nada rendah.

Ara mendongak, merasa kesal melihat kilat kemenangan dimata Ellard. Mengabaikan uluran tangan Ellard, ia segera berdiri dengan Nala yang masih menempel dalam gendongannya.

"Ya, kau memilikiku. Tapi tidak hatiku," jawab Ara, dengan nada yang sama dan tanpa ekspresi. Ia meraih tangan Nathan dan berlalu melewati Ellard begitu saja.

Ellard terdiam. Jawaban singkat Ara sungguh sangat berhasil menyulutkan api kemarahan yang sempat teredam. Wanita itu masih mengeraskan hati dengan sengajah mengucapkan kalimat yang menyentil egonya.

****

Leo menatap nanar siluet Jet yang kini telah terbang jauh. Pada akhirnya tetap ia yang kalah. Aurora lebih memilih kembali pada lelaki yang menyakitinya. Tadinya ia tidak mengijinkan Ara pergi, tapi melihat tangis menyedihkan Ara ketika mendapat pesan ultimatum Ellard yang terakhir, ia menjadi tidak tega. Wanita itu begitu menderita dipisahkan dengan kedua buah hatinya.

"Relakan dia, Nak" ucap suster Anna, yang saat itu juga ikut mengantar Ara ke bandara

"Aku sudah mencobanya suster. Tapi sedikit pun tidak pernah bisa" lirih Leo dengan mata yang berkaca-kaca

"Coba lagi, pasti kamu bisa" Suster Anna menepuk-nepuk pelan bahu Leo "saya yakin kamu juga bisa melihat betapa sepasang suami istri itu masih saling mencintai. Sekalipun Ara selalu menampik perasaannya. Terlebih sekarang ada anak yang semakin membuat mereka sulit dipisahkan. Ara sangat menyayangi anak-anaknya, begitupun Ellard yang tidak pernah mau melepas anak dan istrinya. Bahkan sudah empat tahun mereka terpisah, tapi siapa sangka kini mereka dipertemukan kembali. Tidakkah kamu berpikir kalau mereka adalah pasangan yang tidak pernah diinginkan Tuhan berpisah?"

Leo terdiam. Dia menunduk dengan tangan yang terkepal disisi. Jika memang Ara tidak ditakdirkan untuknya, kenapa sang pencipta juga tidak kunjung melenyapkan perasaannya yang besar pada Ara? Bukankah ini sama sekali tidak adil untuknya?

Mencintaimu itu SakitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang