Sedikit Cahaya

1.3K 111 4
                                    

"Segelap apapun suatu ruangan, sedikit cahaya tak akan gugur"

***

Aku dan Lucas keluar dari ruangan itu dengan langkah hati-hati. Setiap langkah terasa seperti suara lonceng di keheningan malam. Udara dingin menyelimuti lorong-lorong istana yang suram, sementara para penjaga terus berjaga dengan langkah-langkah yang berirama. Untung saja, kami berhasil menghindari mereka. Jika tertangkap, aku tak bisa membayangkan konsekuensi yang akan kami hadapi, terutama setelah masuk ke ruangan terlarang itu.

"Kalau begitu, kau kembali ke kamarmu. Kakak akan menyelidiki buku ini," ujarku pelan.

"Baik, Kak!" Lucas menjawab dengan patuh, lalu segera berbalik menuju kamarnya.

Setelah tiba di kamarku, aku duduk di meja dan menyalakan lampu. Buku itu kutaruh di atas meja. Jemariku dengan hati-hati membuka halaman pertama. Rasanya setiap lembar memiliki berat ribuan ton, mengandung rahasia yang telah lama tersembunyi dari pandanganku.


*******

Pernikahanku

Aku tak menyangka bisa menikah dengan seorang putra mahkota. Dia sangat tampan dan kaya. Dia juga sangat manis dan lembut. Aku berharap pernikahan ini berlangsung selamanya.


Arabella Eloise


*******

Mataku terpaku pada tulisan itu. Setiap kata terasa mengukir jejak emosi di hatiku. Aku membalik halaman dengan rasa penasaran yang semakin menggelora.


*******

Anugerah Terindah 

Tak terpikir olehku, akan dikaruniai putri kembar yang cantik dan manis. Kami namakan mereka berdua Lidya Azalea dan Dalilah Azalea. Semoga mereka menjadi anak yang sehat, baik, dan cerdas. Rasanya kebahagiaan bertubi-tubi datang kepadaku.


Arabella Eloise

*******

Tanganku berhenti. Napasku terasa tertahan di kerongkongan. Aku dan Lidya... saudara kembar? Mata ini berkaca-kaca saat aku menyadari kenyataan yang terungkap. Tetapi mengapa aku tidak pernah diberi tahu? Kenapa ibu menyembunyikan semua ini dariku?

Namun, pertanyaan terbesar menghantam pikiranku seperti petir. Aku tidak hanya berbagi darah dengan Lidya. Jiwaku sekarang berada dalam tubuhnya. Apakah ini takdir? Atau ada alasan yang lebih gelap di balik semua ini?

Angin mendadak berembus kencang, membuat jendela tertutup keras. Halaman-halaman buku berdesir, terbuka ke bagian yang tak kusangka. Seolah alam ingin memaksaku melanjutkan membaca.


*******

Kekuasaan 

Kebahagiaan datang lagi, tak lama dari itu aku melahirkan seorang putra. Kebahagiaan hadir di tengah kami. Calon putra mahkota kini lahir. Kami memberinya nama Lucas Azalea. Setelah kebahagiaan itu datang, malapetaka hadir. Di pesta perayaan, seorang gadis datang dengan perut besar. Raja Mario yang kuanggap cahayaku, memberikan kegelapan dalam hatiku. Dia menikahi gadis itu.


Arabella Eloise

*******

Dadaku terasa sesak. Kengerian merayapi tubuhku saat membayangkan penderitaan ibu. Hidupnya berubah dari surga menjadi neraka dalam sekejap. Air mata tanpa kusadari mulai membasahi pipiku.

"Mengapa, Ibu? Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku?" bisikku, seolah-olah dia bisa mendengarku dari dunia lain.

Aku menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ini sudah cukup untuk malam ini. Kuletakkan buku itu di bawah tempat tidurku. Namun, pikiranku tidak bisa berhenti berputar.

Hari berikutnya, aku memutuskan untuk bertindak. Penderitaan ibu dan ketidakadilan ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Aku menemui Irish di ruang pribadinya. Dia terlihat sibuk memoles wajahnya, seperti biasa, namun dia memandangku dengan tatapan curiga ketika aku masuk.

"Ada apa lagi, Lidya?" tanyanya dengan nada sinis.

Aku mendekatinya dengan tenang, lalu meraih botol anggur yang ada di meja. "Mari bersenang-senang, Irish," ujarku sambil menuangkan anggur ke gelasnya.

"Aku tak mau minum bersamamu," jawabnya, mengalihkan pandangannya.

Namun, aku tak menerima penolakannya. Dengan paksa, aku memegang dagunya dan mendekatkan gelas itu ke bibirnya. "Kau harus minum," bisikku tajam. "Atau kau akan menyesal."

Dia melawan, namun tenaganya tak cukup untuk menghalangiku. Aku memaksa Irish menenggak anggur itu hingga dia mulai muntah-muntah. Wajahnya memerah, tubuhnya limbung. Aku tahu dia tak akan bertahan lama.

Ketika dia akhirnya pingsan, aku memanggil salah satu sopir kerajaan. Dengan suapan uang, dia setuju untuk membawa kami pergi jauh dari istana.

Perjalanan berlangsung dua hari dua malam. Irish mulai sadar di tengah perjalanan. Tatapannya penuh kebingungan dan ketakutan.

"Di mana aku? Apa yang kau lakukan, Lidya?!" teriaknya, suaranya serak.

Aku menatapnya dingin. "Diamlah. Kau akan tahu segera," jawabku tanpa emosi.

Irish mencoba melawan, namun tangannya telah terikat rapi di belakang tubuhnya. Aku menyodorkan makanan kepadanya, namun dia memalingkan wajah. Kesabaranku mulai habis.

"Makan," ujarku, menekankan suaraku.

Dia tetap bungkam. Dengan kasar, aku meraih dagunya dan memaksa mulutnya terbuka. Makanan itu kumasukkan paksa ke dalam mulutnya.

"Kau ingin mati kelaparan, Irish? Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kau harus kuat untuk menghadapi yang berikutnya," bisikku, penuh ancaman.

Tangisannya pecah, namun aku tidak peduli. Aku memberinya pil tidur agar dia tidak membuat masalah selama perjalanan. Tak lama setelah itu, dia tertidur pulas.

Kami tiba di sebuah desa terpencil, jauh dari kemewahan istana. Sopir itu menurunkanku dan Irish di sebuah pondok tua. Aku berterima kasih padanya sebelum dia pergi.

Di dalam pondok, aku duduk sambil memandang Irish yang masih tertidur. Wajahnya yang biasanya penuh kesombongan kini tampak rapuh. Aku mendesah pelan, mencoba menenangkan amarahku yang masih membara.

"Irish," bisikku pelan. "Ini baru permulaan. Kau akan merasakan apa yang telah aku dan keluargaku alami."

***

Next?


Jangan lupa share ke teman kalian, karena dukungan kalian itu jalanku untuk mencapai impianku.

Terimakasih.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang