Sudah berapa kali mulutku menganga kagum, ada sebuah istana yang besarnya lebih dari istana Rebel milik Ayah. Lebih membuatku kagum adalah bahwa tahta tertinggi di sini dipegang oleh Ibu Suri Agung Victoria. Aku masih bingung mengapa hal ini bisa terjadi, seperti ada kerajaan di dalam kerajaan.
"Nenek, mengapa aku merasa istana ini lebih besar dari milik ayah?" tanyaku heran, mataku terus menjelajahi setiap sudut istana yang megah ini.
"Dulunya, kerajaan Azalea memiliki pusat di sini. Namun, semenjak ayahmu menjadi raja, ia memilih untuk memindahkan pusat kerajaan ke timur, ke istana Rebel," jelasnya dengan nada tenang, seolah membicarakan masa lalu yang begitu familiar baginya.
Kami menuju paviliun yang cukup luas, dikelilingi oleh pilar-pilar megah, dan di tengahnya terdapat danau dengan teratai yang hampir mekar. Udara di sini terasa segar, menenangkan pikiran. Kami duduk di kursi berlapis kain sutra halus hingga seorang dayang datang membawakan kue kecil berbentuk bunga teratai yang tampak cantik.
"Dulu ibumu suka sekali dengan kue ini. Ia sering meminta resepnya, ingin mempelajarinya agar bisa membuatkannya untuk kalian. Namun, sayang, aku tak sempat mengajarinya," Victoria mengambil satu kue tersebut lalu memakannya perlahan. Aku pun ikut mengambil satu kue yang tampak lembut itu.
"Helena, Pak Sopir. Kenapa kalian hanya berdiri saja? Ayo duduk bersama kami. Apa kalian tidak penasaran dengan rasa kue ini?" ujarku sembari menatap mereka. Mereka terlihat canggung, tidak berani melangkah lebih jauh.
"Anda terlebih dahulu," ujar mereka hampir bersamaan, dengan nada penuh keraguan.
"Kenapa? Di sini ada banyak kursi. Kalian bisa duduk!" Aku berkacak pinggang, mencoba menahan tawa melihat tingkah mereka yang kaku. Kepedulianku jarang sekali muncul, tetapi hari ini aku merasa lebih manusiawi.
"T-tapi kita berbeda—" Pak tua itu benar-benar membuatku kesal dengan alasan klisenya.
"Mengapa memberi makan manusia sangat sulit kulakukan? Cepat duduk atau aku membunuh kalian!" ancamku dengan nada setengah bercanda, tetapi cukup untuk membuat mereka bergerak.
Akhirnya mereka lekas duduk, meskipun dengan malu-malu. Mereka mengambil kue dan melahapnya dengan perlahan. Namun, tampak jelas bahwa mereka sangat lapar dari cara mereka memakan kue itu, seolah-olah setiap gigitan adalah sesuatu yang berharga.
"Apakah ada makanan, Nek? Mereka telah membantuku untuk bertemu dengan nenek. Sangat berdosa jika aku membiarkan mereka mati kelaparan," tanyaku dengan nada memelas.
Victoria tersenyum lembut, lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Pelayan itu segera datang, dan nenek berbisik padanya. Kami menunggu beberapa saat, meskipun rasanya seperti selamanya. Kue-kue kecil ini terlalu ringan untuk mengisi perut, apalagi setelah perjalanan panjang.
"Hidangan telah kami sediakan di ruang jamuan, Yang Mulia," kata pelayan itu dengan hormat.
Akhirnya, kami menuju ruang jamuan yang begitu indah. Meja panjang dihiasi lilin-lilin emas dan bunga segar, sementara makanan tersusun rapi dengan aroma yang menggugah selera. Aku tak sabar untuk melahap semuanya. Jika sajiannya seperti ini, lapar atau tidak, aku tetap bersedia makan.
"Helena, Pak Sopir, makanlah dengan lahap!" seruku, mencoba memecah keheningan.
"Pasti, Nona!" balas mereka serempak, mulai menikmati hidangan yang ada.
Aku memperhatikan Victoria yang duduk dengan anggun di ujung meja. Namun, tidak ada makanan yang disajikan untuknya. Apakah ia tidak ikut makan? Atau ia hanya ingin melihat kami?
Nenak terus memandangku dengan senyum teduh, membuatku merasa nyaman. Entah kenapa, kehangatannya mengingatkanku pada ibu.
"Kau persis seperti ibumu. Cara bicaramu, bahkan caramu memperlakukan orang lain. Aku jadi merindukan menantuku jika melihatmu," ujarnya, suaranya mengandung kerinduan yang mendalam.
"Nek, aku sungguh tidak tahu mengapa ibu meninggalkan istana Rebel. Aku tidak mengerti, mengapa ayah lebih mencintai Rosalina?" tanyaku dengan nada bingung. Aku merasa seperti berdiri di tengah teka-teki yang rumit.
"Pasti ayahmu membalikkan fakta bahwa ibumu meninggalkan kalian. Jangan percaya padanya. Dialah yang menyebabkan ibumu pergi. Ada banyak cerita kelam yang harus kau tahu. Aku pasti akan menceritakannya padamu," jawab nenek dengan nada tegas, meskipun matanya tampak sendu. Kenangan kelam tampaknya masih membekas di hatinya.
Tatapannya yang sendu membuatku semakin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semuanya tampak begitu rumit? Aku ingin tahu seluruh kebenarannya.
Tanpa terasa, makanan kami telah habis. Perutku kenyang, tetapi pikiranku masih dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Aku harus menemui nenek secara pribadi untuk mendengar cerita lengkapnya. Mungkin malam ini adalah awal dari terungkapnya rahasia keluarga kami yang selama ini tersembunyi.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasíaDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)