Dansa

486 44 2
                                    


Suasana pesta malam itu begitu gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi di aula kerajaan, memantulkan cahaya yang membuat seluruh ruangan terasa seperti dipenuhi bintang. Musik klasik mengalun lembut, mengiringi para bangsawan yang berdansa anggun di tengah aula. Aroma bunga mawar yang ditata dengan megah di sepanjang ruangan menyelimuti udara, memberikan kesan romantis dan elegan.

Aku berdiri di sudut ruangan, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman di balik senyum tipisku. Tatapan tajam dari beberapa gadis bangsawan yang berdiri tak jauh dariku tidak bisa kuabaikan. Mereka berbisik-bisik sambil menutup mulut dengan tangan mereka, tapi aku cukup dekat untuk mendengar apa yang mereka katakan.

"Berani sekali si jahat itu datang?"

"Apa dia tak malu menampilkan wajah iblisnya itu?"

"Entahlah, kurasa dia tak waras. Ck."

Gadis-gadis itu menatapku dengan pandangan merendahkan. Mereka mungkin seumuran denganku, tapi keangkuhan mereka terlihat jelas dari gestur dan sikap mereka.

Aku melangkah mendekat dengan santai. "Oh, halo semua," sapaku sambil tersenyum manis. Meskipun aku tahu ini hanyalah pura-pura, ini adalah cara terbaik untuk menjaga hubungan baik di depan umum. Lagipula, aku tidak ingin menyalakan bendera permusuhan secara terang-terangan.

Mereka tampak terkejut, seakan tidak menyangka bahwa aku, yang terkenal tak acuh, akan menyapa mereka lebih dulu. "Tuan Putri..." mereka akhirnya menunduk hormat, menghindari tatapanku, lalu perlahan melangkah pergi.

Aku tidak ingin membiarkan mereka pergi begitu saja. "Tidak mau menyempatkan waktu untuk minum teh?" teriakku setelah mereka agak jauh. Mereka berhenti sejenak, tapi tidak ada satu pun yang menjawab.

Dasar pengecut. Mereka berani berbisik-bisik di belakangku, tapi saat berhadapan langsung, mereka malah kalang kabut. Aku menghela napas dan menoleh pada salah satu dayang yang sering terlihat bersamaku. "Eh, kau?" tanyaku padanya.

"saya , Tuan Putri." dayang bernama Safi itu terlihat ketakutan ketika aku menatapnya.

Aku mengangguk kecil. "Aku hanya ingin bertanya, siapa nama mereka?"

Safi terlihat ragu sejenak sebelum menjawab, "Mereka bertiga yang Anda hampiri tadi adalah Nona Yera, Nona Difa, dan Nona Lila. Mereka berasal dari kerajaan kita juga."

"Bagus," gumamku. Dengan informasi ini, aku bisa lebih mudah mendekati mereka. Membentuk sekutu di antara para bangsawan adalah langkah penting agar aku mendapatkan dukungan.

"Lidya, untuk apa kau berdiri di sana? Pesta akan dimulai. Kau adalah Putri Mahkota di sini. Kau harus berdansa bersama Averio!" Suara tegas Ayah mengejutkanku. Ia mendekat bersama pengawalnya, lalu mengarahkanku ke tengah aula, tempat para bangsawan berkumpul. Beberapa dari mereka sedang menikmati minuman, berbincang dengan rekan, atau berdansa kecil.

"Baiklah, karena Tuan Putri Lidya dan Pangeran Averio sudah berada di sini, mari kita sambut mereka yang akan mempersembahkan sebuah dansa kecil sebagai pembuka pesta kita!" seru seorang pembawa acara.

Tepuk tangan bergema di seluruh aula. Namun, aku tahu ini bukanlah sambutan antusias. Mereka tidak menantikan tarianku, melainkan drama yang mungkin terjadi antara aku dan Averio.

Kami mulai berdansa. Gerakan kami terkoordinasi dengan musik yang mengalun, tetapi suasana di antara kami penuh ketegangan. Pangeran Averio mendekatkan dirinya, menarik pinggangku dengan lembut namun tegas. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, "Kau senang hari ini, ya? Iblis sepertimu memang selalu bahagia, apapun keadaannya."

Aku mendengus, tidak ingin menunjukkan bahwa ucapannya menyakitiku. Sebelum aku sempat membalas, ia memutari tubuhku dengan gerakan anggun, membuatku terpaksa mengikuti langkahnya. Aku memutuskan untuk membalas dengan caraku sendiri. Dengan sengaja, aku menginjak kakinya cukup keras.

Ia meringis, tapi cepat mengendalikan ekspresinya. Aku tersenyum penuh kemenangan. "Aku tidak tersinggung dengan panggilan itu, karena itu kenyataannya. Tapi aku kasihan dengan pengecut sepertimu. Bisa-bisanya mempertaruhkan cinta demi diriku," ujarku sambil tertawa kecil. Tatapan kami bertemu, bukan dengan rasa cinta, melainkan tantangan yang membara.

"Kau cukup manis, Pangeran Averio, tapi bodoh," tambahku.

Averio tidak tinggal diam. Ia menyandungku dengan halus, membuatku hampir terjatuh. "Seorang Putri, apakah selalu terjatuh dalam menari?" tanyanya sambil mendongakkan dagu, menertawakanku di depan semua orang.

Aku terdiam, menahan rasa malu yang menyelimuti. Semua mata tertuju padaku. Sebagian menunjukkan simpati, sebagian lainnya menyiratkan kebencian. Averio berjalan menjauh, meninggalkan aku di tengah aula. Ia mendekati Irish, yang seharusnya masih beristirahat karena sakit. Gadis itu tersenyum lemah namun penuh arti, menerima uluran tangan Averio untuk berdansa.

Tubuhku terasa lemas. Aku tahu, aku telah dipermalukan. Aku ingin pergi dari tempat ini, jauh dari tatapan penuh penghakiman.

Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku terangkat. Mataku tertutup refleks, takut terjatuh. Tapi seseorang memegangku dengan kokoh. Tangan besar itu mendekap pinggangku, menjaga keseimbanganku. Aku membuka mata perlahan dan melihat siapa yang menolongku.

"Oliver? Apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan nada bingung.

Ia menatapku dengan ekspresi tenang, namun matanya menyiratkan kesedihan. "Menolongmu, tentu saja," jawabnya singkat. Ia merapikan tiara di kepalaku yang miring akibat insiden tadi.

Aku merasa hatiku terisak. Aku ingin menangis, tapi menahannya dengan sekuat tenaga. Oliver tampaknya menyadari hal itu. "Menangislah. Wajahmu seperti kelinci saat menahan tangis," katanya sambil tersenyum kecil.

Aku terdiam sejenak sebelum bertanya pelan, "Apa kau sedih karena Irish menari bersama Averio?"

Oliver tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum pahit, lalu menggenggam tanganku dengan lembut. Setelah beberapa tarian kecil untuk mengalihkan perhatian orang-orang, ia membawaku keluar dari kerumunan. Ayahku, Sang Raja, yang sejak tadi memperhatikanku, mendekat dengan wajah khawatir.

Namun, aku menolak. "Ayah, tinggalkan aku bersama Oliver," pintaku pelan namun tegas. Aku hanya ingin mengakhiri malam ini dalam ketenangan

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang