Pak tua itu terlihat ketakutan, membuatku mencari ke mana larinya kekehannya yang khas tadi. Seharusnya dia membalas ucapanku dengan kekehan yang menjengkelkan itu, bukan gemetar seperti sekarang.
"Ampun, Yang Mulia. Bukan maksud hamba untuk memperkeruh keadaan!" Sopir tua itu meringkuk, wajahnya menunduk hingga hampir menyentuh tanah yang dingin dan berdebu.
Aku menghela napas panjang. "Kau ini kenapa bertingkah aneh? Aku hanya bilang tidak akan melepaskanmu, itu saja. Aku ingin meminta bantuan padamu." Aku berjongkok, menarik pria tua itu agar kembali berdiri. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun diterpa angin.
"T-tidak mungkin, Anda meminta bantuan pada seseorang seperti saya?" tanyanya, wajahnya masih diliputi ketakutan. Dia melangkah mundur, matanya seperti mencari jalan untuk kabur.
Aku menatapnya dengan alis terangkat. "Kenapa jadi kau yang takut kepadaku? Harusnya aku yang takut. Bukankah kau menyimpan rahasiaku?" tanyaku, menyipitkan mata dan tersenyum lebar dengan sengaja, mencoba meredakan ketegangannya.
Pak tua itu mengangkat kedua tangannya. "Saya bersumpah, tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun!" katanya penuh panik, lalu bersiap meringkuk lagi. Namun, aku segera meraih tangannya.
"Aku tidak membahas hal itu," jawabku datar, lalu memberi isyarat pada Helena untuk membawa kursi. Punggungku mulai terasa pegal berdiri di sini terlalu lama.
Helena bergegas membawa kursi kayu. Begitu kursi itu tiba, aku langsung duduk dengan nyaman. "Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk memberitahuku di mana rumah nenekku."
Pak tua itu tampak bingung, lalu menggelengkan kepala dengan gugup. "T-tapi, s-saya... tidak berani, Nona!"
Aku menyandarkan tubuh, menatapnya sambil mengetuk-ngetukkan jari pada lengan kursi. "Bagaimana kalau aku bunuh saja kau di sini untuk menghapus jejak dan rahasiaku? Aku bisa bilang kau mencoba membunuhku atas perintah Irish, jadi aku membela diri. Bagaimana? Kau suka skenario ini?"
Wajahnya semakin pucat. Keringat deras mengalir di pelipisnya, menetes hingga membasahi tanah. "Ampuni saya, Nona. Saya hanya pria tua yang mencari nafkah. Saya punya anak yang bekerja di istana. Jika Anda melakukan hal tersebut, bukan hanya saya yang akan mati, tapi putra saya juga. Tolong pikirkan kembali tindakan Anda, saya mohon!"
Aku menatapnya dengan lelah. "Kalau kau tidak mau hal itu terjadi, jawab saja pertanyaanku. Bersediakah kau mengantarkanku ke rumah nenekku?"
Dia terdiam, lalu mengangguk dengan berat hati. "Saya harap Anda tidak memperburuk keadaan. Ibunda Raja Mario... dia meludahi halaman istana dan melalui amarahnya, ia mengutuk kerajaan ini. Jika Raja Mario tahu Anda datang ke sana bersama saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga saya!"
Aku mengusap dagu, mencoba memikirkan cara untuk meyakinkannya. "Bilang saja aku mengancam akan membunuhmu dan keluargamu. Itu alasan yang cukup kuat, bukan?"
"Anda mengorbankan diri Anda sendiri, saya tidak berani!"
"Helena! Bawakan aku pisau untuk memenggal--"
"B-baik, Nona! Kita akan pergi kapan?" potongnya cepat, wajahnya memerah karena ketakutan.
Aku menahan tawa. Ternyata ancaman yang serius cukup ampuh untuk menggerakkan pria ini. "Besok pagi. Hari ini aku ingin menikmati tempat ini. Kau pasti lapar, ayo kita makan!"
Kami berjalan menuju ruang makan. Meski sederhana, ruangannya cukup luas. Meja makan besar berada di tengah, langsung terhubung dengan dapur terbuka. Namun, tidak ada aroma makanan matang yang menguar. Hanya bahan-bahan mentah yang tertata di dapur.
Aku mendesah. "Kalian duduk di sini. Aku akan membuatkan sesuatu untuk kita makan."
Helena langsung berdiri. "Nona, biar saya saja. Anda istirahatlah."
Pak tua itu menggeleng cepat. "Benar, Nona. Saya tak mungkin duduk makan bersama Anda. Kita jelas bukan satu kalangan."
Aku menatap mereka tajam. "Aku akan memasak kalian berdua untuk makan malamku jika kalian berani membantah lagi."
Keduanya langsung duduk kembali, wajah mereka dipenuhi ketakutan. "Kami tidak berani," jawab mereka serempak.
Aku berjalan menuju dapur. Pandanganku tertuju pada daging sapi yang sudah dipisahkan dari tulangnya. "Baiklah, aku akan membuat daging cincang pedas dan sup gurih."
Saat mulai memotong daging, ingatan tentang ibu menyerbu pikiranku. Aku teringat bagaimana dia mengajarkanku memasak. Gerakannya selalu cekatan, setiap langkah dilakukan dengan penuh cinta. Aku berharap sup ini bisa menghadirkan kehangatan yang sama seperti dulu.
Setelah semua selesai, aku membawa mangkuk sup ke meja makan. "Ini untuk Helena dan ini untuk si tua bebal. Nikmatilah."
Helena mencicipi sup itu, lalu matanya melebar. "Nona, rasanya luar biasa! Saya tidak pernah melihat Anda memasak, tapi ini seperti buatan seorang koki kerajaan terkemuka."
Pak tua itu tak berkata apa-apa, langsung menyerbu makanan seperti singa kelaparan. Daging cincang pedas itu ia campur dengan nasi, makannya begitu lahap hingga sesekali tersedak.
"Pelan-pelan makannya, aku tahu buatanku enak!" seruku sambil tertawa. Melihat mereka menikmati masakanku, entah kenapa hatiku terasa hangat.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)