Bersenang-senanglah

592 51 3
                                    

"Mengapa kau tertegun, Frans?" tanyaku dengan suara rendah namun penuh rasa ingin tahu.

Airmata hampir menetes di sudut matanya, tetapi ia menundukkan kepala lebih dalam. "A-anda... terlihat mirip dengan seseorang, Yang Mulia," jawabnya tanpa berani menatapku. Matanya tertunduk ke tanah, seakan takut menyinggungku.

Aku sedikit tersenyum, tetapi rasa ingin tahu itu semakin menggugahku. Mengapa wajahnya tampak begitu gelisah? Aku mendekat, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa menyiratkan jawaban yang kucari.

"Cukup, Lidya, kembalilah ke tempatmu. Kau mengganggu pekerjaanku!" Oliver tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar. Aku merasakan cengkramannya yang begitu kuat, hampir membuatku terjatuh.

Aku menatap Oliver tajam. "Aku belum selesai!" jawabku tegas, tak peduli seberapa marahnya dia.

Namun, Oliver melepaskan tanganku begitu saja, memandangku dengan ekspresi marah. "Tidak semua yang kau lihat bisa kau jadikan mainan. Kau bertindak sesuka hatimu, ada apa denganmu? Kau berbeda dari Lidya yang dulu!" Katanya dengan suara yang penuh penekanan.

Aku meliriknya malas, kesabaran mulai habis. "Pergilah, kembali ke Istana!" Oliver menuntunku dengan sikap yang mengganggu, seakan aku ini seorang anak kecil yang harus diberi pelajaran.

"Tidak, aku akan tidur di perkemahan ini!" jawabku dengan sikap menantang.

Oliver mendengus, tampaknya tak yakin apakah aku serius. "Lakukan kalau kau berani!" ejeknya.

Dengan langkah penuh keyakinan, aku memasuki kemah yang tampaknya milik Oliver. Begitu melangkah masuk, ruangan besar dengan pencahayaan remang-remang menyambutku. Tidak ada yang terlalu istimewa di sana, hanya beberapa perlengkapan sederhana. Bahkan ranjang yang ada di sudut terlihat berantakan. Mungkin ini adalah cara Oliver hidup—pragmatis dan tanpa peduli dengan kemewahan.

Salah satu sudut kemah menarik perhatianku. Ada pedang panjang yang tergeletak begitu saja. Tanpa ragu, aku mendekat dan membuka penutupnya. Pedang itu mengkilat, memberikan sensasi baru bagi tanganku yang belum pernah memegang senjata semacam itu. "Aishh!" sebuah goresan kecil di jari manisku membuatku terkejut, namun untungnya hanya luka kecil.

Laci yang sedikit terbuka di meja sebelah menarik perhatianku. Rasa penasaran memaksaku untuk menarik laci itu lebih jauh. Ketika melihat isinya, aku terperangah. "Ini pistol! Apa aku boleh menyentuhnya? Seperti ini bukan menyentuhnya?" Gumamku sambil memegang senjata itu. Pikiran-pikiranku langsung melayang ke film-film aksi yang sering kutonton. Rasanya ingin mencoba bagaimana rasanya menggunakan senjata ini.

Aku mencoba memegang pistol itu, berusaha menguasainya, meski rasanya lebih berat daripada yang kubayangkan. Baru saja aku hendak mengarahkan pistol itu ke atas, sebuah suara keras terdengar.

"Ternyata dugaanku benar, kehadiranmu di sini membuatku tidak tenang!" Oliver tiba-tiba muncul, dengan ekspresi marah yang terlihat jelas di wajahnya. Ia meraih pistol itu dengan cepat, hampir membuatku terjatuh.

"Kembalikan pistol itu! Kalau tidak, aku akan membakar ruangan ini dan dirimu hidup-hidup!" teriakku, tak peduli dengan apa yang akan terjadi.

Oliver hanya terkekeh, seolah semuanya hanya lelucon baginya. "Apakah itu caramu menghilangkan rasa bosan?" ejeknya dengan nada sarkastik.

"Bukan, itu cara bersenang-senang dengan orang gila sepertimu," jawabku tajam.

Di tengah ketegangan yang semakin memuncak, Oliver hanya memiringkan bibirnya, seakan tak terpengaruh oleh kata-kataku. "Pergilah, aku tak akan bertengkar dengan perempuan," ujarnya dengan nada datar sambil mengarahkan tangannya ke pintu keluar.

"Tidak, sekarang ruangan ini milikku," tantangku tanpa menghiraukan apa pun.

Oliver hanya tersenyum kecil, seolah tahu aku tidak akan berhenti. "Bukankah kau akan membakarnya?" tanyanya dengan setengah senyum.

"Tentu saja tidak hanya membakar, aku juga akan melakukan apa yang aku inginkan, seperti membatalkan pertunanganku dengan Averio. Dengan begitu, Averio akan berbahagia bersama Irish. Dan kamu, Oliver, akan menyaksikan pernikahan mereka dengan penuh kekecewaan!" Aku mengedipkan mataku dengan nakal, menggigit bibir bawahku menahan tawa. Aku tahu betul bagaimana menggoda Oliver dengan topik ini.

Namun, Oliver tampak lelah. "Aku lelah sekali, udara dingin juga membuatku lapar. Oliver, yang baik hati seperti anak anjing, bawakan aku makanan!" pintaku sambil tersenyum lebar, seakan aku tak peduli dengan segala pembicaraan tadi.

Seperti yang sudah kutebak, Oliver kembali dengan cepat, membawa sebuah mangkuk berisi bubur. "Makanlah ini, hanya ini yang kami punya," katanya sambil meletakkan mangkuk itu di depanku.

Aku memandang bubur itu dengan skeptis. "Bubur?" tanyaku, masih tidak percaya.

"Ini makanan kami. Di sini kami berlatih bertahan hidup," jawabnya dengan nada serius, seakan tidak mengerti apa yang kucemaskan.

Aku menghela nafas panjang. "Ini bahkan tak pantas disebut makanan," keluhku, tapi aku tahu, aku harus memakannya. Tanpa membuang waktu, aku mencicipinya. Ternyata, meski penampilannya tidak menggoda, rasanya cukup enak. Ada rasa kehangatan yang menyentuh hati, mengingatkanku pada masa lalu. Dulu, saat masih menjadi Dalilah, aku sering makan makanan serupa ini bersama ibuku yang bekerja keras untuk mendapatkan sesuap roti.

Aku berjalan keluar dari kemah untuk mengembalikan mangkuk dan mug. Beberapa calon prajurit sedang berkumpul di luar, terlihat sedikit terkejut melihatku keluar dari kemah itu.

"Aku harus mencuci ini di mana?" tanyaku, masih memegang mangkuk dan mug.

Oliver terlihat bingung, matanya membelalak. "Kau benar-benar memakan semuanya?" tanyanya, seakan tak percaya.

Aku mengangguk. "Kenapa kau malah memakannya? Aku hanya mengerjaimu!" Oliver terlihat frustrasi, seakan ingin mengungkapkan sesuatu.

"Aku lapar, dan rasanya enak," jawabku santai. Namun, aku bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padaku, sementara Oliver menepuk jidatnya.

"Seharusnya kau tak menurut," katanya, masih dengan wajah kebingungannya.

"Aku tak biasa membuang makanan. Apakah ada racun di makanan itu?" tanyaku, tak bisa menahan rasa penasaran.

Oliver menghela nafas. "Kau benar-benar di luar dugaan, Lidya. Bagaimana jika aku dihukum karena memberimu makanan prajurit?" ujarnya dengan nada kesal, meski ada sedikit rasa khawatir di matanya.

"Apa yang salah? Bukankah kau yang memberikannya? Aku juga tidak merasakan keanehan apapun," jawabku tenang, tak peduli dengan omongannya.

Aku mengabaikan Oliver yang masih sibuk dengan perdebatan kecil itu, berjalan menuju kumpulan prajurit yang kini memandangku dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Hai, Frans, kita bertemu lagi," kataku sambil berjongkok di sebelahnya, menepuk bahunya dengan lembut.

"Kenapa takut padaku? Aku tidak memakan manusia, kecuali keadaan terdesak," bisikku, dengan senyum yang manis dan penuh misteri.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali, berharap kali ini aku bisa mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Sepertinya, perjalanan ini baru saja dimulai.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang